

Lama Rabu tak mengorbit pada kasih.
Dalam pelintasan kisah
yang mengalihkan malam menjadi pagi
dan sisa hujan menjelma pelangi.
Lalu Rabu melejit ke rahim mimpi.
Tiga bulan berlalu. Rabu mengidam
kasih kepada rahim ibu mimpi.
Lantas ibu mimpi mengamini.
Sekejap dari plasentanya, tersemai
benih-benih bunga kepada janin Rabu.
Rabu pun Terpana. Ada benih bunga-bunga
yang berbiak, katanya. Mendadak mekar di sebidang hatinya melepaskan wangi masakan ibu, menyerbak menuju benaknya
di sela-sela hari antara kamis dan sabtu.
Harumnya kian pasti.
Yang hanya dapat diarifi oleh hati.
Menuntun Rabu pada kisah persalinan
yang melahirkan sebuah kasih.
Kepadamu, Jumat,
Rabu terlahir kembali.
Dan kepadamu, Jumat,
Rabu bersaksi:
tiada hari yang lebih hari
selain engkau—
lantaran pada sepersekian detik
rahim mimpi
ber-
kedip,
bunga-bunga rindu pun tercipta
yang harumnya memuat
luasnya samudera.
Sebab cinta mekar di sana.
(Jakarta, 2026)

