

Waktu silih berganti.
Namun percaturan belum juga usai.
Semesta sudah menunjukkan pukul pulang,
namun sejak tadi
tak satu pun dinobatkan pemenang.
Sepasang Pecatur dirisak gundah.
Jelaga erak tak letih-letinya
membubung dari bola mata keduanya.
Dan langit menghujan
daun-daun berguguran.
Lantas mereka bercikun-cikun,
tuk menyudahi permainan.
Lalu bidak-bidak disisipkan
ke dalam telapak papan
dan dilipatnya perlahan.
Dari rahim papan,
terdengar sayup-sayup bunyi derak.
Bidak-bidak berontak: menyembul, membentangkan kembali papan,
dan menyusun dirinya semula—
menunggangi petak-petak.
Bidak-bidak bersikeras
memohon pada keduanya:
tak ingin usai
dimainkan.
(Jakarta, 2026)

