

Kau dan Aku bagaikan
puisi dan sajak.
Sebagaimana kata
benar dan betul.
Tanpa kita perlu mengerti,
keduanya bisa
saling sela-menyela
atau kuasa dalam sebuah kalimat.
Sayangnya Aku tak memahami,
keduanya tak dapat
saling menyelang-nyeling,
apabila kita telah menambatkan:
per-
dan
-an.
(Jakarta, 2026)

