

Dunia dan sisifusmu hidup sial.
Sial hanya menunda kehidupan.
Ku lihat seorang bapak kusir delman menganggur narik penumpang.
“Sial! kuda bapak cemburu. Ngambek ngeliat bapak kencan dengan kuda lain,” pisuh bapak.
Sedang istrinya rajin bersolek,
mengangan bapak kena teluh kemolek—
yang roman-romannya cemburu buta.
“Awas ya! Pak. Situ mendua aku dengan kuda lagi, diriku bikin sial hidupmu,” celotehnya kepada bapak.
Sementara anak semata wayangnya,
larut mengurung diri di kamar—
sibuk menjajaki media so(sial). Memunguti setiap aforisme berniat bijak dan bijaksana.
Amit-amit seperti bapak, gumam si anak.
Menelisik istri dan anaknya.
Bapak pun angkat kaki dari rumah.
Menjelma seniman batu nisan.
(Jakarta, 2026)

