

Dunia dan sisifusmu hidup sial.
Sial hanya menunda kehidupan.
Sudah tiga minggu bapak kusir delman
mogok narik penumpang.
“Sial! kuda bapak cemburu. Ngambek
ngeliat bapak kencan dengan kuda lain,” pisuh bapak.
Semenjak itu istrinya rajin bersolek mengangan supaya si bapak kena teluh kemolek—roman-romannya cemburu buta. “Awas ya, pak. Situ mendua aku dengan kuda lagi, diriku bikin sial hidupmu,” celotehnya kepada bapak.
Sementara anak semata wayangnya
sibuk menjajaki media so(sial),
memunguti aforisme berniat bijak
dan bijaksana. Amit-amit seperti bapak, gumam anak semata wayangnya itu.
Membelek perangai istri dan anaknya,
bapak terkekeh, cekikikan.
Slintat-slintut bapak pun
memesan sebongkah batu nisan.

