

Gemerlap malam merampas senja
Kian datang menyapu habis
Satu, dua, tiga dan seterusnya
Pancar sinar mulai menyala
Menggantikan tugas pelita
Yang selalu menjadi peran utama
***
Tempat ini menjadi latar dimana cerita pernah bermula, kala maghrib menghampiri ia duduk dan tertunduk seorang diri dan sangat jelas ia sendiri!, aku pun juga sendiri. Aku masih ingat, dulu akulah yang memberanikan diri untuk menghampirinya dengan maksud hati ingin mengenali dan yah aku berhasil, tapi sayangnya perkenalan itu begitu singkat hanya sebatas nama dan ia langsung beranjak pergi ketika adzan telah usai dikumandangkan.
Wajah yang diselimuti niqab dengan pakaian tertutup dan terjaga, sepasang mata yang begitu indahnya dengan tak sengaja bersitatap dan ia langsung tertunduk, paras cantik dan menawan seperti terlukis jelas walau tertutup, suaranya yang lembut dan sayu khas dari seorang wanita muslimah, membuat hati yang mendengarkan merasa begitu teduh. Zulaikha, itulah namanya. Siapa sangka ialah akan menjadi peran utama dalam cerita ini.
Sepeninggalan Zulaikha, aku masih duduk sendiri memandangi ombak yang tak ada hentinya menghampiri, sekeliling sudah mulai sepi sebab hari yang terus gelap, namun belum ada niat untuk aku beranjak pergi, terus merenungi diri yang begitu sulitnya untuk dipahami, mengapa harus seperti ini dan seperti itu, mengapa harus begini dan tidak begitu, ternyata jalannya tak semulus yang diharapkan, atur saja Tuhan seperti baik dan seharusnya, muak rasanya aku dengan aturan yang kubuat sendiri namun hanya kegagalan yang terus didapat.
Ku nyalakan flash gawaiku untuk penerang menuju motor yang terparkir jauh, tapi tak sengaja ada sebuah buku yang tertinggal menarik perhatianku, aku baru sadar jika ada buku disampingku sedari tadi, tak salah lagi itu pasti buku Zulaikha yang tertinggal, tapi harus bagaimana mengembalikannya, sedangkan perkenalan tadi hanya sebatas nama dan tak lebih.
“Ya sudahlah besok sore kembali kesini, barangkali dia kesini lagi untuk mencari bukunya,” gumamku dalam hati.
Sepulang dari pantai tadi, aku masih belum bisa melupakan namanya dan masih juga larut memikirkan, mengapa ia langsung pergi begitu saja setelah menyebutkan namanya tadi, itu akan terus menjadi tanda tanyaku. apa mungkin tadi aku sudah mengganggu waktunya atau mungkin juga karena akunya yang jelek, hingga ia langsung meninggalkanku begitu saja, tapi ya sudahlah mungkin memang seperti itu inginnya takdir dalam mempertemukan.
***
Menjadi seorang mahasiswa semester tua yang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhir, membuat hari-hari selalu disibukkan dengan dunia skripsi. Melihat kawan-kawan yang hampir semua sudah selesai sidang skripsi membuatku tak nyaman untuk menghadiri undangan persidangan mereka. aku tahu proses setiap orang itu berbeda dan itu memang sulit untuk diterima, itulah mengapa aku sering keluar untuk menenangkan sejenak pikiran dari dunia perskripsian.
Pantai menjadi satu-satunya tempat peredam dari setiap masalah yang datang. Desir angin yang berhembus berirama dengan ombaknya, orang-orang yang lalu lalang bermain pasir menambah cita rasa dalam menikmati swastamita. di tempat ini, di tempat pertama kali mengenali namanya. Aku kembali lagi kesini untuk mengembalikan bukunya, namun sayang dari sore hingga gelapnya hari, ia tetap tak kutemui, apa mungkin ia tak sadar jika bukunya tertinggal disini, tapi jika bukan disini harus kemana aku menemukan dia. Aku pulang karena harus melanjutkan pengerjaan skripsiku. Wahai Zulaikha, mengapa perkara buku aku harus menunggu dan mengingatmu.
Pagi ini aku harus ke kampus untuk bimbingan skripsi, namun dosen pembimbing sedang ada acara lain dan mengganti waktu di siang hari setelah dzuhur, namun setelah dzuhur hingga sore hari aku menunggu di depan ruangannya ia tak kunjung datang dan tak kunjung pula kabarnya. Aku teringat sore ini harus kembali ke pantai menunggu Zulaikha, untuk mengembalikan bukunya. Tapi sebelum beranjak pergi, ada seseorang yang memanggil nama Zulaikha, tentunya mendengar nama Zulaikha aku langsung menuju sumber suara, namun sayang, Zulaikha yang aku cari bukanlah dia, itu adalah orang lain yang namanya juga sama dengan Zulaikha. Aku pun bergegas meninggalkan kampus untuk kembali ke pantai.
Sekian lama menunggu ternyata hasilnya masih sama seperti kemarin, ia tak kunjung kutemukan dan bukunya tak kunjung ku kembalikan. di kontrakan aku mencoba membuka buku yang ditinggalkan Zulaikha, selama buku itu bersamaku, belum pernah sekalipun aku membukanya, hanya sebatas judul yang pernah aku baca. “Cinta Yang Tak Biasa” itulah judulnya, tak ada sesuatu yang bisa memberi tahu tentangnya, hanya ada nama Zulaikha yang tertulis dalam buku itu dan quotes darinya “Akan terus aku tunggu hari baik itu, dengan memperbaiki diri agar pantas bersamamu.”
Sore hari tadi ternyata dosen pembimbing memberi tahu kalau ia baru selesai dari acara, jika ingin bimbingan bisa temui di ruangannya, namun sayang aku tak membuka gawai hingga pesan itu berlalu. Aku meminta izin kembali untuk bimbingan lagi esok hari dan dosen pembimbingku meng iya kan. Aku kembali ke kampus esok harinya untuk bimbingan dan untungnya dosen pembimbing telah menunggu kedatanganku.
“Assalamualaikum,” ucapku.
“Waalaikumsalam, ya silahkan duduk, gimana skripsinya?, aman?”
“Yah insya Allah aman Pak” jawabku.
“Maaf yah kemarin nggak jadi bimbingan siangnya, maklumlah acara baru kelar sorenya, makanya sore kemarin bapak kasih tahu kalau mau bimbingan, bapak udah di ruangan, tapi kamu nggak balas chat bapak.”
“Iya Pak maaf, kemarin sore saya ke pantai pak, udah beberapa hari ini saya selalu ke pantai sorenya pak,” ujarku.
“Ke pantai, ngapain di pantai, main sama cewek ya?, tanya dosenku dengan sedikit ketawa.
“Waduhh bukan Pak, anu saya waktu itu ketemu sama seorang perempuan, niatnya sih mau kenalan tapi dianya langsung pergi begitu aja setelah menyebutkan namanya,” ujarku yang langsung dipotong.
“Lah terus, hubungannya apa dengan kamu ke pantai terus sorenya”
“Nah itu Pak, setelah dia pergi itu, saya baru sadar kalo ada buku dia yang ketinggalan, jadi saya mau mengembalikan bukunya, makanya saya ke pantai terus ini sorenya,” jelasku.
“Namanya siapa,” tanya dosenku.
“Zulaikha Pak,” jawabku.
“Owh, bagus namanya, Bapak juga ada beberapa mahasiswa yang namanya sama seperti itu, mungkin salah satu dari mereka yang kamu cari-cari, ciri-ciri orang seperti apa?”
“Dia pake cadar pak, cuma itu yang saya tahu, karena yah perkenalannya hanya sebatas nama waktu itu, jadi saya nggak tahu banyak tentang dia,” jelasku.
“Pake cadar ya, waduh kayaknya seingat bapak, nggak ada mahasiswa bapak yang pake cadar ya, tapi besok-besok lah bapak kabari lagi barangkali bapak lupa, mungkin juga ada yang pake cadar kan, untuk judul bukunya apa?,” tanya dosenku.
“Cinta Yang Tak Biasa,” jawabku.
“Wahh, judul bukunya pun nggak main-main itu, okelah cukupkan dulu ceritanya, sekarang kita lanjut bahas skripsi kamu,” ujar dosenku.
***
Aku kembali lagi ketempat ini setelah beberapa sore terlewatkan, hanya untuk sebuah buku yang terus dibuat berandai untuk bisa bertemu dengannya kembali walau hanya sebatas berpapasan, tapi setidaknya buku ini kembali pada yang memiliki dan aku bisa menenangkan diri dari sebuah rasa penasaran. Setelah pertemuan terakhir itu sulit rasanya untuk bisa melupakannya, Zulaikha perempuan berniqab dengan suara yang khas, lembut dan sayu. Tuhan, mengapa pertemuan yang singkat terasa begitu lekat.
Jika engkau mengizinkan Tuhan, aku ingin mengenalnya lebih lagi dari saat itu, tapi sepertinya swastamita kali ini belum mau untuk mempertemukan, bahkan ketika adzan maghrib telah usai dikumandangkan kita tak kunjung juga dipertemukan. Aku akan terus kembali ke tempat ini dan akan terus aku tunggu, sampai waktu kita tiba, Zulaikha.

