

Puisi pertamaku tentang keluargaku
Bait pertamanya adalah perihal ayahku
yang pecah di sungut jalanan
dan cemberut di tumpukan pekerjaan
Hari itu aku merekam ayahku
seperti matahari
yang dilecehkan mata Hari
yang melecehkan mata hati kami
Puisi pertamaku ganti bait
lalu aku culik ibuku yang irit
sebagai lakon dalam episode yang pahit
Bagaimana ia terjaga saat kami terlena
dan bagaimana ia terlena saat kami melupa
ia pun diberi tempat;
dicatat sejarah sebagai bukan apa-apa
karena demikian harusnya
Lalu ganti alinea,
kutemukan adikku
yang saat itu hobi melucu
sedang tergugu di balik pintu
Kenapa? tanyaku
Kakiku dicuri Waktu, tangisnya pilu
Lalu aku kejar waktu
dan kurebut jari-jari kaki adikku
Saat aku kembali
sudah kutemukan dia menjadi permaisuri
dari seorang lelaki yang lebih baik dari kami
Mimpi, perkenalan dari adik iparku itu. Ramah sekali
Malam gemah dan kelamku ripah
Aku, ayahku, ibuku
lalu adikku semeja makan dan membisu
Adik iparku entah kemana
Katanya masih sibuk bekerja
Maklum, makelar pintu surga
Tak apa
Kami masih semeja
dan kami begitu betah tak bersuara
Bahkan hingga ceceran nasiku menjadi kata
dan mereka antri menjelma bait-bait sajakku
Setelah makan malam bubar,
kudengar ayah, ibu, dan adikku tertawa lebar
Mereka memandang diriku
di layar tivi yang lebar
membacakan sajakku
seratus ribu tahun setelah kepergianku:
ke palagan jemu
Cilegon, 07 September 2020

