Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Milana

Oleh ariqyraihan
Pagi-pagi Milana terpaksa mencuci seprei milik Tuannya dengan buru-buru. Noda yang melekat susah dihilangkan dengan air saja. Tuannya sudah berangkat ke pusat kota setengah jam yang lalu. Pria kaya raya pemilik toko emas. Kabarnya, saking kayanya, dia bisa membeli dua gunung sekaligus. Rumah tua warisan orangtuanya di atas bukit kini ditempatinya.

Weldth. Kota ini yang menjadi tujuan Milana saat dulu meninggalkan kota kelahirannya. Kota yang menjadikan dia pelayan. Barangkali, bila dia memilih kota lain nasibnya akan buruk—bukan pelayan yang mencuci pakaian atau piring, melainkan mencuci dirinya sendiri setelah para lelaki berbau alkohol bergantian menikmati tubuhnya. Hari ke hari.

Milana semakin panik, saat noda itu susah dihilangkan. Jika Nyonya sampai tahu saat lusa nanti kembali, habislah dia. Dulu dia pernah membersihkan taplak meja bernoda milik Tuannya, dan Nyonya marah besar. Belum pernah Milana melihat Nyonya semarah itu. Dia pikir Tuan berkhianat dari dirinya.

Wajah gemuknya memang tak sebanding dengan tubuh kurus Milana. Tapi, dibandingkan Nyonya, Milana memiliki dada padat dan lekuk pinggang yang bisa mengundang lelaki mana pun untuk melanggar ikrar pernikahannya. Rambut Milana hitam pekat sejurus hingga ke punggung lurus dan licinnya. Berbeda dengan Nyonya yang berambut cenderung kemerahan seperti senja yang terbakar.

Entahlah, mungkin Tuannya Milana lebih menyukai yang pekat-pekat. Menurut desas-desus dulu pun Nyonya berambut hitam. Sebelum dia memutuskan bahwa merah lebih baik dari hitam. Lebih cerah, kata bibir tipisnya di balik pipinya yang tirus—bertahun-tahun yang lalu.

Seperti pada suatu malam, saat Tuan menanyai dirinya ketika Nyonya pergi, “Mengapa kau terlahir sebagai pelayan? Ada yang salah dengan ibumu. Tidakkah dia menikahi seorang pemilik emas banyak?”

Tuannya Milana begitu mengagumi bentuk tubuh sang pelayan. Nyonya mungkin pernah menjadi perempuan yang mampu memuaskan malam-malamnya dahulu kala. Tapi berjalannya waktu, ternyata perubahan bentuk tubuh Nyonya membuat Tuannya Milana diam-diam mencari malam yang lain untuk dirinya sendiri.

“Tidak, Tuan.”

“Atau ibumu pernah hidup di luar negeri dan menikah dengan lelaki luar biasa di sana?”

“Tidak, Tuan.”

“Lalu? Bila ada tiga orang sepertimu lagi, sudah akan kupekerjakan dia sekarang.”

“Tidak, Tuanku. Ibuku menikahi seorang pemabuk tua, hanya karena mengaku-ngaku dialah ayahku yang benar.”

“Beruntunglah ia!” pekik lelaki pemilik kumis berliku dan tebal itu.

“Masalahnya, ibuku tidak seutuhnya tahu siapa penyebab hadirnya aku di rahimnya.”

Dan Tuannya itu pun merekah senyum. Hanyut dalam kehangatan tubuh Milana. Terus begitu hingga puluhan malam lainnya. Penuh kehati-hatian.

---

Seminggu setelah kejadian noda seprei yang sulit dibersihkan itu, Nyonya kedapatan marah-marah lagi. Milana dipanggil ke dapur dan mendapati beberapa cangkir yang tertelungkup—baru selesai dicuci—masih ada sedikit noda. Wanita itu mengangkat cangkir dengan tangan gemuknya dan menunjukkan di mana letak noda itu.

Perihal seprei itu memang sedikit aneh. Biasanya dia selalu mampu menghapus jejak-jejak yang tertinggal dengan sempurna. Hanya kali ini, kali ini, noda itu tak mau hilang. Sampai sekarang Milana masih waswas diri agar tak ketahuan Nyonya. Pekerjaannya bisa hilang. Seperti saat ini, bila dia kedapatan berbuat kesalahan. Meskipun hanya sebuah cangkir.

Milana mengangguk saja, kembali membersihkan cangkir-cangkir itu sembari diawasi oleh Nyonya. Di selang waktu, Nyonya menumpahkan isi hatinya. Nada suaranya seperti nenek tua yang tinggal di kaki bukit, hidup sengsara. Nyonya bercerita perihal ketidakpuasannya dengan permainan lelakinya yang begitu cepat dan terasa sekejap. Entah sekejap yang dimaksud berapa lama.

Kebiasaan nyonya bercerita serupa guru yang dikejar tenggat kurikulum; dia akan menceritakan apa pun tentang suaminya itu. Tentang hebatnya dia di ranjang semasa muda hingga hal seperti tadi. Tentang permainan lelakinya itu.

“Kau tahu apa yang paling memuaskan dari permainan liar?”

Milana menggelengkan kepala. Dia sudah selesai dengan cangkirnya. Kini Milana, yang hari itu memakai pakaian pelayan berwarna hitam dan tidak memberi ruang untuk bagian tubuhnya bernapas, berbalik dan sedikit bersandar pada bibir tempat mencuci piring. Bahkan dengan posisi tersebut, lekuk tubuh Milana sama menariknya.

“Kelihaianmu menggunakan senjata andalan! Permainan akan menjadi monoton jika yang bisa kaulakukan hanya bergabung, dan kemudian melakukan tugas begitu saja. Tidak ada kreativitas di sana.”

Melihat wajah Nyonya berkata seperti itu membuat Milana harus menahan tawa. Bulat pipi Nyonya yang terkadang beradu dengan mata atau harus menggembung, sesuai dengan kata-kata yang sejurus keluar dari mulutnya, tampak seperti sebuah boneka beruang yang bisa bicara. Milana pernah melihat boneka seperti itu saat berbelanja di pusat kota dan taksengaja melewati sebuah toko mainan. Persis sekali dengan Nyonya.

Andai saja dia tahu apa yang dilakukan suaminya. Andai wanita gemuk itu tahu apa yang mampu diberikan Milana pada suaminya. Mungkin sekarang juga dia akan berlari menuruni bukit dan dengan panik mencari ke segala penjuru untuk obat pengurang berat badan. Atau mencari rumah bordil untuk meningkatkan kemampuannya dalam menciptakan sebuah permainan malam.

“Tuan itu seorang pemain hebat! Jika tidak, dia tidak akan memenangkanku sepuluh tahun lalu!”

Sepuluh tahun dan tak ada seorang anak pun berlarian di sini. Sebuah saran yang hebat, batin Milana. Pelayan muda itu berhasil keluar dari kubangan curahan hati Nyonya ketika Tuannya pulang—memencet bel—dan dia akan membukakan pintu. Dia bergegas ke arah ruang tamu, setelah melewati ruang tengah dengan sedikit berlari, lalu membukakan pintu.

Mata Milana yang bulat, dibungkus serupa cokelat pohon, dan Tuannya beradu. Sejenak, mereka saling tersenyum. Pipi Milana memerah untuk beberapa detik. Dari sudut pandangan Tuannya, ada kehangatan melambai-melambai yang menyergap tubuhnya. Melesat, melalui kain-kain yang menyelimutinya. Bayangan malam itu menyeruak. Tak berapa lama, Nyonya datang menyambut. Milana pun beranjak.

---

Sabtu malam, terdengar bising memekakkan telinga. Nyonya bertengkar dengan Tuan sepertinya. Milana terjaga di kamarnya di dekat taman belakang rumah. Sementara kamar pemilik rumah ada di lantai dua dengan jendela menghadap kamar Milana. Dari depan kamarnya bisa melihat jelas ke arah kamar itu.

Sepertinya Tuan sengaja membangun kamar pelayan di sana agar dia bisa dengan bebas mengawasi pergerakannya. Entah sudah ada berapa pelayan yang pernah bekerja di sini. Menurut kabar burung yang kerap bertengger di pohon depan rumah, sudah lima pelayan bekerja di sini semenjak Tuannya itu menikah dengan Nyonya.

Suara pertengkaran itu begitu keras. Milana keluar kamar dan duduk-duduk di bangku cokelat kayu. Seharusnya Tuannya ada di sini. Tapi ada Nyonya. Tuan tidak mau Nyonya tahu. Jadi dia memilih menunggu Nyonya tidur. Nyonya tidak tidur malam ini.

Sayup terdengar percakapan itu. Nyonya marah besar. Tuan ketahuan bertemu wanita penjaga malam. Milana sadar Nyonya marah karena suaminya ternyata tidak setia. Tapi dia tidak pernah tahu kalau dialah biang dari pertengkaran itu.

Terdengar suara bisik-bisik dari dinding batas antara rumah Tuannya dengan tetangga sebelah. Mario, penjaga kebun tetangga sebelah itu, duduk di atas dinding itu. Wajahnya yang sedikit datar menatap Milana penuh arti.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Milana.

“Memperhatikanmu.” Jawab Mario pelan. Lelaki kurus pemilik hidung tajam itu melompat turun, dan menghampiri bangku Milana. Mario melangkah pelan-pelan. Dia takut terdengar oleh Majikan Milana. Terkadang bodoh dan hati-hati bisa berbeda tipis.

“Kau sendiri?” Mario balik bertanya. Dia menyungging senyum yang tak terlihat senyum karena sesuatu yang hangat dan baik. Seperti senyum iblis.

Milana tahu senyum iblis seperti apa. Dia pernah bertemu iblis. Dia pernah merasai tubuh iblis. Tidak panas seperti yang dikiranya tentang neraka. Dingin, mungkin iblis sengaja memadamkan apinya sejenak demi merasai panas yang lain. Panas yang melahirkan peluh dan erangan.

Milana tidak bisa mengatakan pada Mario jika dia menunggu Tuannya di sini. Hal itu sungguh bodoh dan akan menjadi gosip yang terbit di pagi harinya. Mario bermulut besar. Satu Weldth juga tahu. Hanya ada dua orang kaya di atas bukit ini dan hanya Mario yang selalu mengumbar cerita.

“Aku sedang menjernihkan pikiran. Kau dengar itu?” Milana menunjuk ke arah lantai dua, pada jendela yang tertutup rapat oleh tirai. Hanya siluet bayangan saja.

Namun kemudian Milana, terdiam. Sepertinya dia salah mengungkapkan atau memang tidak memperhatikan. Suara itu sudah berubah desahan. Siluet di lantai dua menunjukkan sebuah drama yang memunculkan kehangatan di dalam tubuh, mendorongnya menjadi sebuah rasa yang meluap-luap. Sebuah drama yang sering dipentaskan oleh Milana dan Tuannya.

Mario sedari tadi mengawasi tubuh Milana. Tepat ketika Milana hendak menyanggah pernyatannya tadi, Mario mendekap Milana. Erat. Milana melawan.

“Apa yang kaulakukan laki-laki sialan?”

“Diam saja, pelacur! Kaupikir aku takpernah tahu apa yang kaulakukan selama ini dengan tuanmu?”

Milana terperanjat dalam diamnya. Bagaimana lelaki mesum ini tahu?

Dalam satu hentakan, sekujur tubuh Milana menyerah pada hasrat. Apadaya, hewan pun butuh makanan untuk bertahan hidup. Sudah dua hari dia belum memasak apa pun dalam tubuhnya. Mario datang membawa bencana dengan memberinya bahan-bahan masakan yang telah busuk—digerogoti waktu.

Mario dengan gesit membuka kancing atas seragam pelayan Milana, menenggelamkan bibirnya di bibir Milana. Malam yang dingin, sedikit embusan angin merasuki keduanya. Mario menyingkap rok Milana dan kemudian memastikan jika kedua tubuh mereka saling menyatu.

Bibir Mario kering. Milana berpikir dia adalah koban pertama. Bagi Mario mungkin memang pertama. Untuk Milana, entah yang keberapa. Selain Tuannya. Mario benar-benar pria yang gesit rupanya. Sepertinya, drama yang terjadi di lantai dua dan halaman belakang saling berpacu bagai pacuan kuda.

Milana mengikuti permainan Mario. Sesekali dia menangkap ceracauan di lantai dua.

Dalam keterpaksaannya Milana mencoba merasai malam itu dengan bayangan lain. Tuannya. Lelaki sebelumnya. Sebelumnya lagi. Terus sebelumnya lagi. Namun dia gagal. Sehingga Mario menjadi kehambaran baginya. Menjijikan. Milana benci. Tapi dia takmau menghentikannya.

Milana terbayang malam lampau itu.

---

Pagi-pagi Nyonya berteriak sekencang-kencangnya. Dia melihat seorang lelaki tak bergerak mengambang di kolam taman miliknya. Milana yang baru terbangun langsung berlari keluar. Melihat sosok di kolam, Milana berjengit dan berusaha menahan teriak dengan menutup mulutnya.

Mario ditemukan tak bernyawa. Air di kolam berwarna merah muda—sepertinya darah cepat berbaur dengan air—dan pucat. Milana tidak ingat apa-apa. Hal yang diingatnya adalah saat ia mengerang dan mengejang, entah yang keberapa kali, dengan Mario terus menghentak-hentak tubuhnya bagai hewan buas. Selepas itu, Milana melemas, lalu perlahan berjalan menuju kamarnya. Sementara kamar di lantai dua menurutnya sudah padam lampunya.

Nyonya dengan segera memanggil polisi. Nyonya takut orang mati. Nyonya takut mati. Tapi dia makan rakus sekali. Di dalam teleponnya dia terkejut menemukan mayat Mario. Nyonya bukan pemain teater. Jadi tangisannya tidak kosong. Melihat Mario, Milana kosong.

Milana memutuskan untuk tidak tahu apa-apa. Dia terbayang malam lampau itu.

---

Polisi lokal mengotopsi jasad Mario dan ditemukan irisan pada pergelangan tangannya. Tetangga sebelah juga memutuskan untuk tidak mengacuhkan orang yang pernah dipekerjakannya ini. Polisi pun sudah menggeledah seluruh rumah, tidak ditemukan senjata pembunuhan itu. Perkiraan Polisi senjatanya itu berupa pisau dapur atau benda tajam seukuran telapak tangan.

Milana diinterogasi oleh kapten Polisi Bismarck, dua jam tiga puluh menit. Kapten Bismarck yang memang menyukai Milana saat dulu, acapkali menyambangi Tuannya Milana untuk membahas bisnis emas dan distribusinya yang butuh perlindungan seseorang yang cakap, kini memanfaatkan situasi. Dia bertanya begitu detail, seakan dia ingin melihat sendiri apa yang dilakukan Mario terhadap Milana secara langsung.

Emas memang selalu menjadi objek terbaik di kota Weldth. Emas dan wanita. Kapten Bismarck menyukai keduanya. Emas Tuannya Milana dan wanita penjaga malam. Sungguh heran ketika perut Kapten berusia 30-an itu belum juga membusung ke depan. Tapi, Milanan selalu menjadi perhatian nomor satu Kapten Bismarck.

Mental Milana mulai tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak ada kaitannya dengan pembunuhan. Dia merasa kapten Bismarck menelanjangi dirinya dengan pertanyaan itu. Ekspresi menjijikan kapten berambut pirang itu membuat Milana jengah. Ditambah Milana dituduh menyembunyikan Tuannya yang mendadak hilang pagi itu.

“Mengapa tuanmu mendadak hilang? Kudengar dia bertengkar dengan istrinya ketika malamnya? Apa yang dibicarakan mereka?” tanya Kapten Bismarck sembari memelintir kumis tipis yang dilengkungkannya itu.

Milana menggeleng. Di kepalanya berputar memori tentang dia dan Tuannya di beberapa malam tanpa Nyonya, lalu curahan hati Nyonya tentang permainan liar yang dengan mudah bisa dibayangkannya.

“Apakah istrinya tahu jika kau ...,”

“Aku apa?” Milana menyergah. Jengah dengan tuduhan kapten Bismarck.

“Kau tidur dengan Tuanmu!” Wajah kapten Bismarck begitu menang. Dia terkekeh.

“Tidak!” Bantah Milana.

“Tunggu saja sampai aku menemukan bukti bahwa Tuanmu pembunuhnya!”

Tidak mungkin, batin Milana. Tuannya orang baik dan dermawan. Kapten Bismarck berpendapat jika topik pertengkaran suami-istri kaya raya itu perihal perselingkuhan suaminya, namun sang istri tidak tahu dengan siapa suaminya melakukan hal bejat itu. Bismarck sangat yakin, Tuannya Milana adalah sang pelaku.

“Kau jangan sembarangan, Kapten. Tidak sepatutnya kau berbicara seperti itu. Tuanku orang terhormat. Dia takkan pernah membunuh.”

“Aku sangat yakin. Empat tahun aku bekerja sama dengan dia. Kau tak tahu apa yang dia lakukan di tambang.”

Urat-urat wajah Milana sedikit menegang. “Jangan pernah tuduh aku untuk hal semacam itu lagi, Kapten. Aku punya ha—hei! Jangan tatap tubuhku dengan senyuman seperti itu!”

Entah apa yang ada di dalam otak Kapten Bismarck saat ini. Hanya saja tubuh Milana bagai magnet yang memberi gaya tarik pada kedua bola mata lelaki itu. Lelaki yang mengenakan seragam abu-abu. Lengkap dengan topi koboinya.

“Lebih baik kautunjukkan padaku bagaimana kau mengikuti permainan Tuanmu dan aku akan menutup kasus ini dengan mudah.”

“Tidak,” ujar Milana cepat. Dia melangkah keluar ruangan Kapten Bismarck dan menghilang dari pandangan.

---

Fakta menghilangnya majikan Milana langsung tersiar cepat ke seantero kota. Orang-orang berbisik. Menerbitkan gosip. Telinga-telinga mulai panas. Mulai condong untuk menangkap berita. Telinga-telinga mulai terbakar. Terlalu banyak penasaran.

Nyonya terus menangis di malam-malamnya. Kepergian suaminya seakan membunuh dirinya. Beberapa hari ini dia mengurung diri di rumah. Memang biasanya seperti itu. Milana berkata seperti itu biar terlihat ada perbedaan saja.

“Barangkali dia sedang ke luar kota membuka cabang baru.”

“Ah, bohong! Dia pasti ke Springsteen mencari wanita penjaga malam lalu menghabiskan hari dengannya!”

“Memangnya Springsteen masih punya wanita semacam itu?”

“Tidak. Aku jijik dengan lelaki itu. Wanita harus dihormati! Dia pikir dia lahir dari mana?”

“Mungkin dia sudah mati. Digigit anjing gila yang terserang rabies.”

Begitu banyak suara-suara yang akhirnya membuat Nyonya semakin jengah dan terus menangis. Orang di kota ini suka bicara. Sayangnya, mereka punya ritual aneh: menjual perasaan kepada turis yang melancong ke sini.

Itulah kenapa, kadang orang Weldth dibenci kota lainnya.

---

“Tuan, jangan ...,” desah Milana ketika tubuh Tuannya perlahan merangsek naik, menyejajarkan tubuhnya, dengan dada bidang dan perut terbentuk, ke atas tubuh Milana. Gadis muda, idaman lelaki, dan malah bekerja dengan dirinya. Sementara Tuannya adalah pria dengan kelihaiannya memikat wanita—Nyonya seperti hanya sebuah formalitas.

Tiga bulan setelah bekerja di sini, Milana mulai sadar arti tatapan dari tuannya itu. Setiap kali mata mereka berpadu, Tuannya Milana seakan menelan dengan lembut pandangan Milana. Dia tak kuasa menolak majikannya itu. Perempuan mana pun sungguh beruntung pernah dipentaskan drama olehnya.

Sebuah metafora dari pertunjukan, permainan, atau apa pun yang majikannya itu suguhkan kala kehangatan menjadi satu-satunya yang dia cari di antara hari-harinya menjual emas di pusat kota.

Desahan Milana semakin kuat. Gadis itu mengerang. Semakin kuat alunan desah itu, semakin keras Tuannya menghentak. Tuannya Milana senang mendengar suara gadis itu ketika mengerang. Renyah. Bagai padang rumput di antara hujan; serupa sesepoi angin membelai basah rerumputan itu. Peluh memenuhi tubuh keduanya. Jeda pun muncul.

“Kau tahu, aku menikahi Nyonya hanya untuk mempertahankan kekayaanku. Membuatnya jatuh cinta adalah pekerjaan mudah. Kedua orangtuanya sudah mati, dan dia sendirian menguasai warisan orangtuanya. Kau tahu, mereka adalah tempatku membeli emas dulu. Kini aku memilikinya.”

Milana diam saja. Masih tenggelam.

“Bahkan orang sebelah rumah, si bangsat Gucci itu, takkan menyamai kekayaanku! Aku kagum sekali pada istrinya yang mau menerima wanita penjaga malam berkunjung ke rumah mereka. Nyonya takkan mengampuni orang itu. Untungnya kau bukan wanita malam. Nyonya tidak boleh tahu.”

Milana melemas, lalu kemudian Tuannya kembali menghentak. Permainan berlanjut. Milana kembali mengikuti irama permainan itu. Tubuhnya seperti merengkuh Tuannya begitu saja. Milana kembali mengerang. Cepat, cepat, semakin cepat. Keras, keras, semakin keras. Erangan Milana menggema di seantero kamar. Milana mengejang. Desahan demi desahan serupa alunan dawai pengantar surga. Tuannya dan Milana sama-sama menginginkan malam ini pada akhirnya.

“Ingat, jika kauberitahu, mungkin kau takkan melihat matahari terbit lagi.”

Tuannya meliar. Dia membalikkan badan Milana di atas, kemudian membiarkan gadis itu menguasai dirinya sejenak, kemudian memutar kembali tubuhnya bergantian. Jendela dan ranjang adalah saksi mata bagaimana malam itu bergerak. Bagaimana hasrat memenjarakan manusia dalam dosa yang ditasbihkan sebagai hal biasa. Tuannya tidak menyerah. Hentak demi hentak, kemudian dia menenggelamkan bibirnya di dalam kehangatan bibir Milana.

Satu hentakan terakhir. Tuannya menghentak lagi dengan keras. Milana mengejang begitu dalam. Milana mengerang lebih dalam. Tubuhnya sangat lemas.

Sinar rembulan terasa begitu mendamaikan. Dua tubuh yang gontai, menyerah pada kasur. Bersimbah cahaya yang menembus jendela. Dunia terasa begitu polos. Seperti langit malam itu. Seperti bulan malam itu. Seperti Milana dan Tuannya malam itu.

---

Kapten Bismarck sudah mengantungi izin pemeriksaan menyeluruh dari kantor kepolisian beserta surat penangkapan Tuannya Milana. Entah bagaimana caranya lelaki itu mendapatkan surat penangkapan.

Sementara itu, Nyonya duduk di ruang tengah dengan pandangan kosong. Kepergian suaminya serasa meruntuhkan langit-langit kehidupannya. Apalagi, hal terakhir yang didapatnya hanyalah sebuah pertengkaran: mengapa sang suami seperti tak berhasrat kepada dirinya? Dan kecurigaan Nyonya jika suaminya punya wanita lain di luar rumah.

Sesaat, Nyonya berpikir untuk pindah. Dia memanggil Milana. Menanyakannya kota mana yang cocok untuk ditinggali jika ia pergi.

“Fauxhall bagus,” kata Milana, “Di sana kan utara, lebih dingin. Beda dengan di sini yang seringkali panas kalau siang dan hanya angin sepoi jikalau malam.”

“Bagaimana dengan Springsteen?” tanya Nyonya. Sedari tadi suaranya pelan, di wajahnya hanya tergambar bayangan bagaimana menghilang dari semua hal ini.

“Kurang tepat. Dulu aku tinggal di sana ...,” kemudiah lidah Milana seolah tercekat dan menghentikan ucapannya begitu saja.

Terdengar bunyi bel. Milana membukakan pintu. Kapten Bismarck rupanya. Sesaat lelaki itu terdiam. Terpaku melihat Milana, yang seperti biasanya menggunakan baju pelayan yang tidak memberikan ruang bagi tubuhnya itu, karena gadis itu juga menggulung rambutnya ke belakang dan menyisakan poni rambut yang disisir ke pinggir. Kapten Bismarck menelan ludah.

“Ya?” tanya Milana yang mulai risih kapten Bismarck kembali seolah menelanjangi dirinya.

“Ah, eh, ya! Saya bawa surat penangkapan untuk Tuanmu dan izin menggeledah rumah ini lagi. Menyeluruh.”

Milana menoleh ke arah Nyonya. “Biarkan saja polisi itu melakukan semaunya. Semakin cepat pembunuhnya ketemu, semakin baik. Alangkah baiknya jika dia mau mencari suamiku juga.” Ucapan Nyonya begitu datar.

Kapten Bismarck kembali menggeledah rumah. Seantero lantai dua diperiksanya, sudut-sudut kamar, laci-laci, dan nihil. Sama seperti penggeledahan sebelumnya. Pisau set yang ada di dapur posisinya masih sama dengan sebelumnya. Dan memang tak ditemukan pisau set menghilang pada saat kejadian.

“Nyonya,” kapten Bismarck duduk di kursi seberang wanita gemuk itu. Tatapannya kini setengah kosong, setengah mengawasi. “Apakah suamimu pernah membunuh sebelumnya?”

“Tentu saja belum,” jawab Nyonya.

“Maksud saya, sebelum menikah dengan Anda. Semua orang tahu jika suamimu besar takjauh dari kota Springsteen.”

Nyonya hanya menggeleng. Kapten Bismarck kembali menunjukkan kekecewaannya.

---

Milana menatap foto ibunya yang dia simpan di kotak kayu di bawah kasur miliknya. Foto wanita dengan wajah serupa dirinya, namun di foto ini rambut ibunya berwarna kemerahan. Kata orang, ibunya Milana bagai malaikat dan iblis. Semua orang di Springsteen tahu jika ibunya Milana adalah seorang yang sangat menyayangi anaknya.

Tapi, sebagian dari mereka yang menamai diri dengan ‘penjaga malam’ tahu jika ibunya Milana adalah iblis yang mereka sukai. Iblis yang mereka bayar. Iblis yang mereka tindih tubuh kekar dan bau itu dengan tubuh wanita itu. Tubuh yang mereka impikan untuk selalu bersama menghabiskan malam sembari menikmati alkohol di gelas.

Kebanyakan mereka adalah pemabuk berat. Kebanyakan mereka juga menjadi pilihan Milana perihal mana yang membantu ibunya untuk menghadirkan Milana ke kehidupan ini. Sampai akhirnya datanglah seorang lelaki, di usianya yang ketiga tahun. Hanya itu yang Milana ingat. Hanya itu yang kemudian dia ceritakan. Karena kemudian Lelaki itu langsung pergi begitu saja. Sampai-sampai, ketika Milana menemukan ibunya terbunuh dengan luka dalam di pergelangan tangan, semua rahasia terkubur dan dia memutuskan untuk meninggalkan Springsteen. Hingga sampailah Milana bekerja di rumah tua ini.

Foto seorang ibu saja sudah membuat Milana menyelam dalam-dalam dirinya; menguak kebenaran; pembunuh ibunya. Pintu kamarnya diketuk. Kapten Bismarck berdiri di bibir pintu.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Milana. Kapten Bismarck menutup pintu di belakangnya dan bergabung dengan Milana, duduk di bahu kasur.

“Aku ingat, benda yang menggantung di lehermu itu,” Kapten Bismarck menyibak kerah baju Milana—dia sedang tidak mengenakan seragam pelayan—yang memang terbuka sedikit sampai kancing pertama. Surga impian baru tampak sedikit, batin kapten Bismarck.

“Katamu dulu, kalung ini peninggalan ibumu?” kapten Bismarck memeriksa kalung berbentung prisma kecil itu. Milana mengangguk.

“Dan, menurut laporan Nyonya, kau pernah kedapatan mencuci noda di seprei?”

Milana kembali mengangguk. Tidak punya pilihan lain untuk berkelit.

“Aha! Sudah kuduga! Kau memang tidur dengan Tuanmu! Wah, apa kata Nyonya jika dia tahu ini?”

“Tolong jangan ... kasihani dia,” Milana memohon.

“Faktanya begini: Mario mencumbumu, Tuanmu marah, dia membunuh Mario, kemudian kabur untuk menghindari masalah. Kalau begini mungkin kamu saja yang kubawa ke jeruji.”

Wajah Milana memelas, “Jangan. Bukan saya yang membunuhnya!”

“Tapi, harus ada yang disalahkan. Dan kasusmu lebih dekat. Bisa saja pengadilan menganggap kau sepenuhnya sadar malam itu, dan kemudian membunuh Mario begitu saja. Sesukaku saja membuat laporan nanti.”

Milana terdiam. Membuang wajahnya.

“Atau kukasih jalan keluarnya. Aku mau apa yang kamu lakukan ke Tuanmu itu, juga dilakukan kepadaku!” wajah kapten Bismarck yang memerah dan tersenyum lebar. Milana langsung mengangguk.

“Malam ini, di kamar ini. Berbohonglah kepada Nyonya jika kau butuh menginap untuk menggeledah lagi,”

Kapten Bismarck mengiakan dan kemudian dia keluar. Di tangannya ada sebuah kertas yang tadi hendak ditunjukkannya ke Milana, namun urung. Dirinya sudah dibutakan oleh hasrat menggebu. Tapi, tiada yang tahu jika hasrat bisa membawa sesuatu menuju akhir.

---

Bulan mulai menggelayut di puncak malam. Rumah tua milik Tuannya Milana sunyi dan senyap. Ruang tengah tampak gelap. Kapten Bismarck menekan bel rumah, namun tiada jawaban. Dia pun memutar kenop pintu dan ternyata tidak terkunci. Dia merasa janggal dengan keadaan rumah ini walaupun tidak sepenuhnya.

Ketika sudah menyeberang ruangan, menuju kamar Milana, dekat taman belakang, lagi-lagi kapten Bismarck terpaku. Kali ini Milana hanya memakai baju tipis terusan hingga ke lutut berwarna putih. Tidak. Transparan.

Kapten Bismarck menelan ludah. Tubuh yang pernah hadir di mimpinya. Tubuh yang diinginkannya sedari lama. Kini semua tampak jelas di mata. Takperlu lagi menatap Milana dengan tatapan yang selama ini dilakukannya: semua terlihat jelas. Hasrat lelaki itu semakin menggebu.

Semua kepadatan, keindahan lekuk Milana, bisa dia nikmati, bahkan di jarak yang tak begitu dekat. Milana tersenyum di bawah pendaran cahaya bulan. Kapten Bismarck mendekat. Milana membiarkan bibirnya dan bibir lelaki itu menyatu dalam kehangatan yang mendorong paksa hasrat di malam yang dingin itu.

Begitu lama. Begitu dalam.

Milana melepas pagutan itu dan rebah di atas rerumputan taman. Kapten Bismarck mengikuti, dia melucuti segala yang ada, dan kemudian berenang di lautan surgawi yang diimpikannya. Malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan baginya.

Milana memejam mata, Kapten Bismarck mulai menindih dan menghentak. Pelan, pelan, dan pelan. Sebelah tangan Milana mencengkeram rambut lelaki itu. Begitu kuat. Begitu erat. Dalam kepalanya muncul bebayangan perihal malam di masa lampau. Mengenal Tuan di malam-malamnya membuat Milana semakin menemukan hidupnya.

Entahlah, karena ternyata wanita penjaga malam tidaklah buruk—seperti dirinya.

Milana membiarkan kapten Bismarck terhanyut dalam kenikmatannya. Di kedalaman permainan liarnya. Sebelah tangan Milana lagi menghilang dari sudut pandangan kapten Bismarck yang larut dalam kebodohannya.

Ya, sesaat, Milana memutar tubuhnya, kini dia menguasai Bismarck—memejamkan mata saking resapnya—dan kemudian terdengar erangan. Darah mengucur dari leher kapten Bismarck. Milana menggenggam kalungnya berbentuk prisma yang ternyata sebuah susunan. Dia memutar susunan prisma dan berubah menjadi sebilah pisau kecil. Lalu ditancapkannya ke leher lelaki itu.

Mata kapten Bismarck seketika membelalak, menahan sakit. Mulutnya mengerjap-ngerjap. Tangannya berusaha menangkap tubuh Milana, mungkin hendak mencekiknya, namun Milana malah membenamkan dirinya di dalam tubuh kapten Bismarck.

Kali ini dia menghentak. Kapten Bismarck seolah menjadi gila. Kesakitan tiada tara menusuk sadis di leher, tapi sebagian dari dirinya menyerah pada hentakan Milana.

“Kau tahu? Apa yang terjadi padamu juga terjadi pada Tuanku! Bahkan jika kau tadi mengecek lantai dua terlebih dahulu, kau bisa menemukan Nyonya dalam kondisi mengenaskan.” Milana tertawa di telinga kapten Bismarck.

“Lelaki itu memang bodoh! Mudah ditaklukkan dengan tubuh wanita; tubuhku. Kau benar Tuanku membunuh Mario karena cemburu, sesaat istrinya tertidur dan dia turun ke taman untuk menemukanku sedang rebah bersama tukang kebun itu! Dan kemudian aku membunuhnya juga!”

Kapten Bismarck masih mengerjap-ngerjap, ingin menutupi cucuran darah di lehernya namun tidak bisa. Tubuhnya ditahan oleh tindihan Milana, membuat dirinya menjadi sangat lemas. Atau mungkin tenaga Milana yang besar sehingga bisa menahan tubuh kapten Bismarck.

“Tuanku itu pembunuh ibuku! Aku menemukan fakta itu ketika suatu malam dia menyergapku dari belakang, dan setelah tiga puluh menit, dia mengatakan ‘oh, kau begitu mirip dengan wanita yang dulu pernah kutiduri dan kemudian kubunuh karena menolak bayaran.’ Seakan itu hal biasa. Lalu dia mengatakan, ‘Wajahmu begitu mirip dengan dia, salah satu gadis terbaik yang pernah kucoba. Bahkan, aku merasakan hal yang sama denganmu! Seperti seorang malaikat yang terakhir kembali’ dan hal itu yang membuatku sadar siapa pembunuh Ibu,” ucap Milana.

Kaptern Bismarck mengerang lama, mengejang, dan kemudian gerakannya berhenti. Paru-parunya berhenti memproses udara. “Semua yang terkait dalam kejadian itu harus disingkirkan. Karena mulut manusia itu kotor dan licik.”

Milana bangkit dari tubuh lelaki yang kini sudah meregang nyawa itu. Dia mencelupkan kalung itu ke dalam kolam dan membersihkannya. Kemudian dia berganti pakaian dan membakar pakaian itu di halaman belakang.

Milana pun menghilang. Tak ada yang tahu ke mana gadis itu pergi. Hanya saja menurut berita yang muncul di koran selama beberapa tahun ke depan, selalu ada pembunuhan yang terjadi dengan luka irisan di pergelangan tangan atau di leher. Tak ada yang tahu siapa pembunuh sebenarnya.

Semua lelaki penjaga malam waspada. Berjaga-jaga, jangan-jangan tubuh yang mereka tindih di kemudian hari adalah jelmaan dari tubuh yang menebar kebencian atas orang-orang yang bertanggungjawab atas kematian ibu yang dicintai pemilik tubuh itu. Lalu satu di antara mereka akan sadar, setelah meregang nyawa, Milana berikutnya sudah hadir ke dunia ini.



SELESAI
Rabu 09 Januari 2019
64
1 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Ariqy Raihan

ariqyraihan

Senang menulis dan bicara tentang sepakbola

Tuliskan tanggapanmu tentang Milana

GendhukGandheseS

Selasa 19 Maret 2019

Tidak ada yg perlu dibenarkan dg apa yg dilakukan perempuan itu ... Tidak juga perlu disalahkan... Perbuatan itu terbentuk dari perbuatan serupa. Rere mencipta Milana dg baik. Detail latar & masa lalu perempuan itu pu ditulis dg teliti. Aku selalu suka tulisan Rere.

Baca karya Ariqy lainnya

CERPEN

Kebaikan-Kebaikan Takdir yang Tak Terduga

Rabu 13 Desember 2017
-
244
CERPEN

Lisa

Rabu 13 Desember 2017
-
112
PUISI

Amplop dan Prangko

Rabu 13 Desember 2017
-
112

Milana

Cerpen oleh Ariqy Raihan

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah