

Ia menyeretku ke bukit,
menyalakan api di dada ilalang.
Kami tertawa, seolah langit hanya milik dua orang.
Di laut ia berteriak:
“Gelombang adalah kutukan paling indah!”
dan aku percaya, sebab tubuhnya sendiri
adalah badai yang mengguncang.
Pantai, sungai, danau, gunung—
semuanya ia lempar ke wajahku,
seperti mantra,
seperti luka yang terlalu nikmat untuk ditolak.
Mataram menjelma arena,
dan aku tak lagi tahu
mana kota, mana tubuhnya,
mana peta, mana hatinya.
Aku cuma tahu:
di matanya, Lombok terbakar—
dan aku rela hangus bersamanya.

