
Ia menulis— tinta pecah jadi bara, kata-kata melompat, berisik, menggigit dinding malam. Buku catatan menjelma luka yang basah, setiap huruf menuntut darah.

She hurls herself onto the highway— trains, ships, the air itself become her allies. No map can subdue her; she chooses to be lost, for there the world is more ho...

Ia melemparkan dirinya ke jalan raya— kereta, kapal, udara, semuanya jadi sekutu. Tak ada peta yang mampu menundukkannya; ia memilih tersesat, karena di sana: dun...

Ia menyeretku ke bukit, menyalakan api di dada ilalang. Kami tertawa, seolah langit hanya milik dua orang. Di laut ia berteriak: “Gelombang adalah kutukan paling...

Perempuan itu tak lagi menangis, ia menyimpan hujan dalam saku bajunya dan mengirim bau tanah basah ke alamat yang tak dikenal. Ia tak menulis surat,

Aku di jok belakang, memelukmu seerat kenangan yang tak mau pulang. Hujan turun. Kota gaduh. Tapi tak ada yang lebih bising dari hatiku yang diam...

Lima menit di atas motor, hujan Bandung mencuci langit dan ingatan. Aku menggigil, tanpa jaket— tapi yang paling menusuk adalah dinginmu. Kau duduk di...

Empat tahun aku bilang: Bandung waktu itu sedang sekarat, sepi seperti nisan yang enggan dikenang. Langitnya abu-abu, dan hujan turun seperti anak-anak nakal yang melu...

Aku bangun pagi dan menemukan tubuhku masih utuh, tapi ada yang hilang dari mataku: kepercayaan, atau barangkali sisa-sisa semangat yang kemarin kutaruh di balik asbak.

Aku menyetir. Kamu tidur di sampingku, dan waktu berjalan mundur di kaca spion. Kita bilang cuma tiga hari. Cuma perjalanan. Cuma mengantar barang.
