

Ia menulis—
tinta pecah jadi bara,
kata-kata melompat, berisik, menggigit dinding malam.
Buku catatan menjelma luka yang basah,
setiap huruf menuntut darah.
Ia berjalan—
jalan bukan jalan,
melainkan tubuh yang meronta,
asphalt, tanah, pasir,
semua bergetar di telapak kakinya.
Ia berlari, terhuyung, tertawa pada bayangan,
menyumpahi langit yang menutup rapat rahasianya.
Ia mendengar—
musik bukan musik,
melainkan palu yang memukul tengkorak,
melumat sunyi,
membuka pintu hitam dalam dadanya.
Nada jadi kilat, bass jadi gemuruh,
suara jadi pecahan kaca.
Ia ingin tahu siapa dirinya—
tapi jawaban bukan wajah,
bukan nama, bukan rumah.
Jawaban adalah ledakan:
api yang mengoyak hening,
angin yang merobek peta,
air yang menenggelamkan semua kemungkinan.
Ia menulis lagi dengan tangan gemetar,
ia berjalan lagi dengan kaki berdarah,
ia mendengar lagi dengan telinga pecah.
Dan dari reruntuhan itu
tumbuh dirinya yang baru,
bercahaya sekaligus terbakar,
tak bisa dijinakkan,
tak bisa dijelaskan,
hanya bisa terus meledak
lagi
dan
lagi.

