

Ia melemparkan dirinya ke jalan raya—
kereta, kapal, udara, semuanya jadi sekutu.
Tak ada peta yang mampu menundukkannya;
ia memilih tersesat,
karena di sana: dunia lebih jujur daripada rumah.
Kota demi kota,
ia hunuskan kesepian seperti pisau,
menusuk malam yang asing,
mendengar darahnya sendiri
bergemuruh di antara klakson dan desir angin.
Ia tahu: tubuhnya hanyalah wadah sementara,
tapi langkah-langkahnya
adalah doa yang lebih keras dari gereja,
lebih panjang dari ayat-ayat tua
yang tak pernah selesai dibaca.
Ia perempuan yang menolak jinak.
Perjalanan baginya bukan pelarian,
melainkan pertempuran sunyi—
setiap stasiun adalah medan perang,
setiap jalan lengang adalah altar
untuk dirinya yang terus ia bakar,
hingga tersisa abu yang berkilau
seperti bintang yang menolak padam.
Dan bila orang bertanya: “ke mana kau pulang?”
ia hanya tertawa kecil,
sebab pulang baginya
adalah terus berjalan,
menyulam luka dengan jarak,
menemukan hidup
di setiap kehilangan.

