

Ada rindu yang diam-diam tumbuh,
di sela malam yang semakin sunyi,
namamu datang tanpa mengetuk,
mengisi ruang yang tak lagi berpenghuni.
Aku rindu pada tawa yang dulu,
pada percakapan yang tak pernah terasa cukup,
pada hangatnya sebuah kehadiran,
yang kini hanya tinggal kenangan.
Namun, cinta tak selalu tentang memiliki,
kadang ia mengajarkan cara melepaskan.
Patah hati membuatku mengerti,
bahwa kehilangan pun adalah sebuah pelajaran.
Pernah aku kecewa pada harapan,
pada janji yang perlahan menjadi dusta,
pada seseorang yang pernah kupercaya,
namun memilih pergi tanpa kata.
Aku bertanya kepada langit,
mengapa harus aku yang terluka?
Mengapa bahagia yang sempat singgah,
harus berakhir menjadi air mata?
Tapi waktu mengajarkanku perlahan,
bahwa luka tak selamanya tinggal.
Ada pagi setelah panjangnya malam,
ada senyum setelah tangis yang mengalir.
Kini aku belajar bahagia,
bukan karena seseorang selalu ada,
melainkan karena aku masih mampu merasa,
masih mampu mencintai dan tertawa.
Dan pada akhirnya aku bersyukur,
untuk setiap datang dan setiap pergi.
Untuk rindu yang pernah mengajarkanku menunggu,
untuk patah hati yang mengajarkanku mengerti.
Aku bersyukur pernah mencintai,
meski akhirnya tak menjadi milikku.
Sebab dari semua yang pernah terjadi,
aku menemukan kembali diriku.
Kini bila rindu datang menyapa,
akan kubiarkan ia duduk sebentar.
Tak lagi kupaksa untuk tinggal,
tak pula kuusir dengan gentar.
Sebab aku percaya,
setiap kehilangan punya alasan,
setiap luka membawa pendewasaan,
dan setiap akhir mungkin menyimpan
awal dari kebahagiaan.
Maka biarlah semuanya menjadi cerita—
tentang rindu, cinta, kecewa, dan air mata.
Karena di antara semua rasa yang pernah ada,
aku akhirnya menemukan satu kata: SYUKURLAH

