Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Api Percaya yang Ditiup

Oleh fadlilahnida
Salah satu ujian terbesar yang dialami seorang perempuan dalam memilih pasangan adalah 'kepercayaan'. Hal tersebut merupakan keniscayaan, di mana kelak seorang perempuan akan menggandeng lengan berbeda. Bukan lagi kedua orang tuanya, melainkan suaminya. Segala tanggung jawab dan tugas orang tua yang sudah puluhan tahun dirasakan kebermanfaatannya, kini akan berpindah tangan kepada seseorang yang bahkan mengenalnya pun tak sampai puluhan tahun. Di situlah ujiannya: kepercayaan. Perempuan perlu percaya kepada seseorang yang akan digandengnya sepanjang hidup, dalam waktu yang tak singkat.

___

Sadar atau tidak, kamu perlu tahu bahwa aku pun mengalami hal yang tadi telah kujelaskan. Tak mungkin aku langsung bilang "ya" atau "mau" saat kamu mengatakan kalimat itu. Aku perlu tahu lebih dalam tentang dirimu. Aku perlu 'percaya' dan yakin kepadamu. Untuk itu, kita perlu waktu, bukan?

Waktu yang kita rencanakan telah sama-sama kita lalui. Beragam informasi telah saling bertukar. Banyak pertanyaan dan jawaban telah terurai. Beberapa rencana telah tersampai. Hingga di batas waktu, aku masih membutuhkan perpanjangan, beda denganmu yang kulihat begitu yakin. Keputusan menambah waktu bukan alasan aku bermain-main, akan tetapi aku sedang mencari sebuah 'percaya' yang mungkin masih tenggelam dalam dasar hati. Aku perlu berusaha mencari 'percaya' itu dan berjuang keras memunculkannya.

Tibalah suatu ketika, saat dirimu turut membantuku menemukan 'percaya'. Kamu membantu dengan sebuah kalimat yang masih kuingat sampai saat ini, "Naya, terkadang Allah menguji hamba-Nya untuk bisa percaya meski hal itu sulit. Cobalah Naya percaya kepadaku. Percayalah bahwa aku bisa dan pantas menjadi imam bagimu."

Setelah mendengar kalimat itu aku berpikir keras. Tuhan, sedemikian bebalkah aku sehingga Engkau mengujiku dengan sebuah hal yang bernama 'percaya'? Tuhan, bodohkah aku sehingga tidak bisa membedakan mana orang yang bersungguh-sungguh menjadi imam terbaik dan mana orang yang bermain-main?
Dalam kidung doa, dalam gulita, juga dalam isak dan tangis atas pengakuan, aku mencoba untuk 'percaya kepadamu'. Aku pantang berkhianat, aku pantang menyakiti dengan hal tak syar'i, sehingga aku pun memilih untuk percaya, lalu berkata 'ya' dan sama-sama melangkah lebih maju.

Sungguh, kamu perlu tahu bahwa saat aku memilih untuk percaya, aku telah totalitas dan meninggalkan apa-apa yang menyenangkan bagiku. Hatiku berat, jiwaku sedih, beberapa hal yang kusuka satu per satu telah kulepas. Kulakukan semuanya bukan untuk main-main. Bukan! Semata-mata aku hanya ingin lebih 'percaya' kepadamu. Ya, aku tak ada niat berpaling meski sesaat. Aku tak ada niat berkhianat meski sebentar. Itulah sebabnya aku berkata bahwa hal terberat lain adalah: 'menjaga hati'. Hanya saja, aku memilih untuk tak berkata-kata kepadamu. Aku lebih memilih diam, bukan tanpa alasan, tapi karena aku telah mencoba percaya kepadamu. Aku harus konsisten. Kurencanakan untuk saling berkabar di pertemuan kedua, mungkin itu waktu yang tepat untuk saling menyampaikan kabar gembira. Begitu pikirku saat itu.

Kamu perlu tahu, usahaku untuk percaya kepadamu bagai mencoba menghidupkan api lilin pada sumbunya yang lembap. Pernahkah kamu mencobanya? Betapa sulit dan perlu berulang-ulang, bukan? Ketahuilah, aku mengalami hal yang sama. Hingga, Tuhan memberiku percaya yang paripurna setelah sekian lama. Api percaya itu menyala! Ya, aku bahagia!

Tiba-tiba saja, ujian lain hadir lewat sebuah angin yang berembus dari mulutmu. "Fyuh..." dengan sekejap kamu mematikan api. Tentu, aku marah besar. Aku yang telah susah-susah menyalakannya! Berkali-kali kupetik korek, berulang-ulang aku berdoa, sudah kumatikan lampu namun kini 'api percaya' dari lilin itu kau tiup. Padam! Gelap. Hingga aku meronta mencari cahaya. Berhari-hari, sampai aku sudah tak peduli lagi berjalan ke mana. Menuju cahaya. Aku butuh itu.

Beberapa pelukan mendekapku. Ada tangan mengusap pipiku. Saat aku berkata, "Aku sedih, ada orang yang meniup api percayaku. Apa salah diriku? Perbuatan apa yang keliru?" Mereka tak lantas menjawab dengan emosi memuncak. Kalimatnya begitu indah mendamaikan, meski kala itu pikiranku tak mudah mencerna kata.

Namun kini, kupahami seutuhnya lewat sebuah pesannya dari ramuan kisah, "Hamba Allah yang hebat adalah dia yang ikhlas dalam setiap perbuatannya. Dirinya tidak goyah dengan kejadian apapun. Dia 'rida' pada ketentuan Allah karena yakin bahwa 'Allah tidak pernah menzhalimi hamba-Nya.' Di pikirkannya hanyalah 'ikhtiar' agar maksimal dalam berbuat 'kebaikan' pada orang lain tanpa mencari balasan dari makhluk, melainkan mencari 'cinta Allah'."

Kusadar, mungkin ada ikhlas yang masih butuh ditata dalam hatiku ketika aku merasa amat kecewa dan sakit (saat kamu memadamkannya dalam sekejap). Ketahuilah, aku merasa sedih dan kecewa bukan karena aku tak berjodoh denganmu, melainkan kamu menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah susah payah aku nyalakan. Biarlah diriku saja yang mengalami ini. Semoga skenario yang telah dilalui menjadi jalan agar kita sama-sama belajar: agar aku lebih ikhlas dan kamu lebih berhati-hati.




[Naya]
Minggu 06 Mei 2018
85
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Api Percaya yang Ditiup

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
107
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
109
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
87

Api Percaya yang Ditiup

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah