Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Kepakan Sayap yang Tak Sama

Oleh fadlilahnida
Aku pernah bertanya kepada Mama, "Ma, jika aku sedang berproses dengan seseorang lalu ada orang lain yang datang, terus gimana, ya?" Saat itu, jujur, aku hanya sedang berandai, tidak bermaksud lebih, tidak bermaksud mengharap peluang kecil yang menjadi alasan agar jalinan yang telah lama kita untai itu putus. Sekali lagi, aku hanya sedang berandai. Dan, tahukah kamu apa respon yang diberikan Mama? Ia menjawab dengan ketegasan di luar dugaanku.

"Naya, sebuah proses itu bukan main-main, ya! Sudah, kamu fokus aja sama Mas-nya. Jangan mikir aneh-aneh. Nanti godaan setan masuk. Kalau sudah satu yang itu, ya sudah! Jangan main-main!"

Tuhan, sebegitu sakralkah proses ta'aruf? Sungguh, saat itu aku terkaget. Perandaianku ternyata salah di mata Mama yang sudah banyak mengecap manis-pahit hidup.

"Ta'aruf itu salah satu proses menuju pernikahan. Jaga kesuciannya supaya kelak pernikahan kamu barakah. Terus doa dan istikharah dalam setiap tahapnya. Minta yang terbaik sama Allah. Berdoa agar ditunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Jika memang jodoh sama Mas-nya, insya Allah dilancarkan. Jika memang belum jodoh, berdoalah agar ditunjukkan apa kesalahannya yang sesuai syari'at. Kamu jangan mendahului untuk memutuskan jika alasan kamu tidak syar'i. Kuatkan hati kamu. Keluarga kita jangan sampai berbuat tak baik, jangan sampai menyakiti."

Mulai saat itu, aku paham bahwa dalam proses ta'aruf pun setan telah mencoba untuk menggagalkan. Dengan banyak cara: bayang-bayang masa lalu, keyakinan yang fluktuatif, perandaian yang aneh, dan hal lain yang mungkin belum sepenuhnya aku tahu.

Sungguh, saat itu aku merasa juga keyakinan yang timbul-tenggelam. Aku sempat menceritakan itu kepada Fatya. Katanya, "Kak Nay, coba kuatkan hatinya. Totalitas, Kak. Saat ini, kan, lagi sama dia, Kakak coba totalitas dan sungguh-sungguh dalam menjalaninya. Mulai ber-progress. Dia udah banyak berjuang buat Kakak, kan? Nyari tempat tinggal, ngasih buku, dan lain-lain. Masa Kakak jalan di tempat aja?"

Aku pun mulai mencicil satu demi satu anak tangga agar kepercayaan dan keyakinanku semakin tumbuh. Aku menyusun surat pengunduran diri dari tempat kerjaku. Ya, hal itu yang kulakukan. Keputusan besar, memang. Di saat aku mulai betah dengan pekerjaan turun lapang ke daerah perbatasan sembari mengajar anak-anak kecil yang menggemaskan, di saat itulah aku harus mundur teratur. Demi totalitas dalam proses. Demi membalas perjuanganmu. Demi terbang pada tujuan yang sama, agar kita lekas sampai. Kau tahu? Dahulu, kita ibarat burung yang hendak naik ke puncak gunung. Kau sayap kanannya dan aku sayap kirinya. Tentu, jika sayap kanan mengepak sangat cepat sedangkan sayap kiri lambat, burung itu akan kelelahan, bukan? Karena ada yang tak seimbang. Sehingga, aku memutuskan untuk menyeimbangimu, karena kukira kamu telah banyak berkorban, telah cepat mengepakkan sayap. Tapi sayang, penilaianku keliru. Kecepatan kepakanmu tak seperti yang aku terka. Kepakan kita tak sama.


[Naya]
Minggu 13 Mei 2018
50
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Kepakan Sayap yang Tak Sama

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
77
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
78
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
53

Kepakan Sayap yang Tak Sama

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah