Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Menata Hati yang Baru

Oleh fadlilahnida
Perpindahan dari satu hati ke hati lain tidaklah mudah, khususnya bagi aku, seorang perempuan yang terlahir dengan karakter dominan melankolis. Pernah ada trauma yang aku alami dalam sebuah proses yang membuat aku menunda untuk membuka hati yang baru, Kawan.

Dahulu, aku pikir waktu adalah segalanya yang akan mampu melerai rasa yang pernah tertaut. Aku pikir semakin lama aku melangkah, semakin jauh aku pergi, maka aku akan semakin cepat melupakan. Sayang, pilihanku dan keputusanku ternyata belum tepat. Aku masih belum berdamai dengan diriku, sehingga usahaku sia-sia. Semakin jauh aku pergi, semakin lama waktu berlalu, justru rindu itu semakin menusuk! Bahkan, aku berteriak dalam hati, "Tuhan, aku tidak bisa membunuh, sekalipun membunuh rasa!"

Tuhan Mahabaik, dalam setiap pilihan pasti terselip amanat yang akan Dia berikan. Dalam perjalanan, aku bertemu dengan seorang teman, Kinan. Dia lebih tua dariku dua tahun. Ada sinyal yang diberikan Tuhan sehingga aku merasa nyaman dan aman berdiskusi dengannya. Darinyalah sebuah jawaban atas pencarianku lahir. Darinya, aku temukan cara, bukan untuk pergi dan lari dari takdir, tapi untuk memaafkan.

"Kak, aku belum bisa. Aku takut jika kejadian itu berulang lagi."

"Mau sampai kapan, Naya? Kamu akan tetap terbayang dengan masa lalu jika kamu belum mencoba terbuka pada hati yang baru."

"Kak, tapi, setiap ada yang datang, filter utamaku selalu dia, cinta pertamaku. Sekalipun aku sadar sesadar-sadarnya bahwa aku tak mungkin bersama dia. Dia sudah menikah dan punya masa depan dengan orang lain."

"Coba istigfar, Nay. Berpikirlah realistis. Setiap orang itu unik. Jika kamu mencari yang persis sama seperti dia, dijamin, kamu akan semakin lama untuk sembuh, karena tidak ada orang yang 100 persen sama, bahkan orang kembar pun berbeda."

Aku berdiam diri, berusaha mencerna kata-katanya.

"Aku dan kamu itu punya kemiripan dalam kisah hidup. Percayalah, Nay, siapkan lagi hatimu. Jika kamu sudah merasa telah berdamai dengan dirimu sendiri, pertimbangkan untuk menerima proses dari Ustaz Anwar. Cobalah dan niatkan ibadah." lanjutnya.

Hingga, tiga tahun setelah kegagalan dengan kisah pertamaku, aku baru bisa membuka hati dan menerima beberapa proses syar'i lain. Bayangkan, aku butuh waktu tiga tahun untuk berdamai! Sungguh, aku tertatih untuk mulai menyatukan kepingan yang terserak, derai air mata membersamai rekatan-rekatan baru yang aku coba susun dengan rapi. Saat telah menyelesaikannya, aku bilang kepada Tuhan, "Tuhan, jaga hati aku untuk bisa tetap menjadikan kecintaan kepada-Mu di atas segalanya. Bantu aku untuk memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Aku tidak ingin menyakiti seseorang di masa depanku."

Tibalah periode saat kamu hadir dalam alur hidupku. Mengisi titik-titik pertanyaan dengan harapan hidup yang kamu bawa. Sungguh, jika yang menjadi alasan utama dalam beproses adalah 'cinta' maka entah kapan lagi aku memulai. Aku hanya punya kesungguhan dalam menempuh sunnahnya. Ya, hanya itu. Dan, aku telah berjanji bahwa aku tidak akan pernah mengecewakan seseorang yang akan menjadi masa depanku. Kesamaan itu lambat laun telah aku temukan meski lewat semak belukar kepercayaan.

Sungguh sayang sekali, semua itu ternodai denga masa lalumu. Aku kira, kita telah sama-sama selesai dengan masa lalu kita, tapi ternyata kita berbeda. Kemudian, luka dan kesedihan itu kembali hadir. Bahkan, lebih dalam dari tiga tahun lalu. Jika kejadian pertama membutuhkan waktu tiga tahun untuk berdamai, lalu kejadian ini, yang lebih dalam, membutuhkan waktu berapa lama? Aku kembali dalam pencarian jawaban, kembali dalam proses melerai semuanya. Menata hati yang baru (mau tidak mau) membutuhkan waktu, perjalanan, dan satu hal yang paling penting: keikhlasan. Kawan, bantulah ikhtiarku dengan pilinan doa darimu.
Rabu 16 Mei 2018
54
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Menata Hati yang Baru

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
107
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
109
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
87

Menata Hati yang Baru

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah