Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Rangkaian Alasan

Oleh fadlilahnida
Pertanyaanku saat itu, "Apakah orang baik selalu dimaklumi jika dia disakiti? Apakah kebaikannya tidak cukup kuat untuk menjadi alasan bahwa dia pun berhak untuk sama-sama diperlakukan dengan hal yang baik pula?"

Hal menyakitkan telah aku alami. Di saat aku rasa kebaikan berbalas dengan penghargaan dan totalitas, ternyata tidak! Eh, maaf, 'belum' maksudku. Aku sangat sedih ketika dirimu menyampaikan bahwa aku adalah orang yang baik dan sabar sehingga diriku bisa melalui cobaan yang menimpaku. Cobaan bagiku atas pilihanmu yang sepihak. Hey, tunggu, apakah kalimat itu hanya sekadar hiburan yang jatuh di luar tempo?

"Maaf, Naya. Aku tidak bisa melanjutkannya. Maafkan aku yang telah menjadi penjahat dalam kehidupanmu dan aku pun menyesal mengapa kondisi ini jatuh kepadamu dan keluargamu. Tapi, lagi-lagi aku percaya bahwa Tuhan akan memberikan ujian kepada hamba yang kuat dan sabar. Aku yakin kamu bisa melaluinya. Sekali lagi, maaf, Naya."

Jelas-jelas aku tak berbesar hati atas hiburanmu itu. Jauh dari sekadar kalimat hiburan malah, aku menilainya tak lebih sebagai tusukan dari belakang. Menyakitkan. Tak bisakah Hukum Newton III berlaku kepadaku saat itu? Harus berapa kali lagi aku mengalami ketidak-adilan hidup? Harus berapa kali lagi kebaikan dibalas dengan ketidakjujuran pada mula?

"Aku tidak mau hidup dengan orang yang luar biasa sepertimu, Naya. Aku bukanlah orang yang baik untukmu." dirimu merendah.

Sungguh, bukan itu alasan yang aku perlukan dalam berhentinya proses ini! Kalau memang menurutmu aku 'luar biasa', mengapa itu menjadi alasan untuk memberhentikan proses kita? Mengapa kriteria utama yang sesuai ajaran agama kita (perempuan/laki-laki saleh) telah kamu tolak? Tidakkah kamu sedang bergurau? Pahamkah kamu tentang alasan yang sesuai syari'at atau tidak? Sayang, nasi telah menjadi bubur. Tak ada kesempatan lagi untuk menarik semua keputusan yang telah kamu sampaikan.

Sepertinya takdir memang harus begini. Tuhan ingin agar aku (masih) ditekan untuk melambung nanti, entah kapan. Aku terima perlakuanmu meski dengan peluh dan darah. Aku akan memaafkan meski belum tahu kapan aku akan benar-benar memaafkan dengan kemurnian hati. Sunggguhpun, jika memang proses ini terhenti, bukan itu alasan yang ingin aku dengar darimu. Mungkin, jika alasan yang kau rangkai lebih indah dan sesuai syari'at, luka ini tidak akan terlalu dalam dan kesedihan ini tidak akan terlalu lama. Semoga kejadian ini jadi pelajaran bagi kita: agar aku lebih tawadhu dan kamu lebih paham syari'at.
Sabtu 19 Mei 2018
39
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Rangkaian Alasan

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
77
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
77
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
52

Rangkaian Alasan

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah