Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Belum Jodoh

Oleh fadlilahnida
"Kak, aku dan dia udahan. Belum jodoh."

Ketika kami sarapan bersama di Warung Sunda, aku memberanikan diri menyampaikannya.

"Ehw, kawmu jawngan ngomong sembwarangan, Naya." sahutnya kurang peduli sambil asyik mengunyah nasi liwet bakar.

"Aku serius..." aku mengangguk mantap, menaruh sendok dari genggaman, mencoba siap untuk menceritakan kisah utuh kepadanya.

"Nay? Kamu enggak sedang bercanda, kan?" raut wajah Kak Kinan berubah.

"Enggak, Kak. Sebenarnya udah tiga minggu selesainya. Tapi aku belum berani jujur sama Kakak. Berat banget, Kak. Serius."

"Ya, iya, lah! Pasti berat banget, apalagi kamu udah banyak ambil keputusan. Sini, mana nomornya, aku omongin dia!"

"Enggak usah, Kak. Udah selesai, kok."

"Mana nomornya? Belum dihapus, kan? Sini aku telepon. Alasannya apa?"

"Engga perlu ditelepon, Kak. Gak apa-apa. Alasannya ada perempuan lain yang jadi masa lalu dia."

"Kurang aj*r banget sih. Untuk seukuran laki-laki kayak dia, enggak pantes tahu kayak gitu. Ya Allah, Nay... kamu yang kuat, ya."

Tak terasa, air mata yang tak kuharapkan menetes.

"Kak, kayak mimpi, tahu. Aku sama sekali enggak nyangka akhirnya bakal gini. Kalau dia belum selesai sama masa lalu dia, kenapa dia memilih proses yang baru. Nyakitin tahu, Kak. Aku sedih. Saat aku coba untuk totalitas dalam proses, ngambil banyak tindakan supaya pas ketemu lagi kita sama-sama berkabar, ujung-ujungnya malah begini. Padahal, dari awal dia datang juga aku udah wanti-wanti lewat perantara: kalau dia datang ke aku gara-gara hopeless dan pelampiasan atas kegagalan sebelumnya, lebih baik jangan diterusin. *Aku butuh laki-laki yang respect sama perasaan perempuan*."

Kak Kinan mendekat, lalu memelukku. "Aku ngerti, Naya. Aku pernah berada di posisimu. Kamu kuat, ya?"

Isakan itu kembali setiap aku mengingat peristiwanya. Sungguh, sampai detik ini aku hafal benar semua yang telah dia sampaikan dari awal hingga akhir. Aku hafal segala harapan yang telah ia ungkap. Aku hafal semuanya!

"Saat ibunya nelepon, aku bilang baik-baik aja, Kak. Enggak ngungkit-ngungkit lagi dan aku nerima semuanya. Aku yakin, sejelas apapun aku berkisah pasti ibunya belum paham karena jarak kita amat jauh. Kalau aku boleh meminta sama Tuhan, aku ingin ibunya tahu semua yang telah ia sampaikan sama aku, karena dengan itulah yang membuat ibunya mengerti anaknya ada pada posisi dimaklumi atau bersalah. Sayang, kesempatan itu belum ada, Kak. Pun, aku juga enggak akan pernah berharap lagi sama dia."

"Aku ngerti, Nay. Dia bukan yang terbaik untuk kamu. Kamu harus percaya, Nay, Tuhan pasti akan ganti dengan yang jauh lebih baik. Kamu harus yakin itu."

Tuhan, aku bersyukur, selalu ada teman yang menguatkanku ketika aku berada dalam kondisi lemah. Meski aku berjauhan dengan Mama, aku selalu ditemani oleh sahabat-sahabat yang lembut hatinya. Kisahku dan Kak Kinan tak jauh beda, dan Engkau telah membuat skenario itu. Terima kasih, aku jadi punya lampu terang saat merasa gelap di jalan.
Minggu 20 Mei 2018
58
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Belum Jodoh

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
107
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
109
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
87

Belum Jodoh

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah