Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
PUISI

Terpangkas

Oleh fadlilahnida
Danau. Pelataran. Perpustakaan.
Surau. Senja. Purnama.
Stasiun. Kereta. Penjual roti kita.
Rumput. Dermaga. Dilema percaya.

Untuk kokohnya diri, kaugunakan tiang besi.
Untuk segala situasi, termasuk kepalamu itu.
Pada hari-hari lain sama, kini beda lain cerita.
Ada yang meluluh.
Seolah sebuah perahu berlayar, lepas dari dermaga harapan.
Usahamu, jerih tergopoh dalam belai angin sore.
Hei, ucapanmu bukan perkara sepele!

"Apa lagi yang belum terjawab? Tanyakan saja. Saya sedang dalam posisi meyakinkanmu."
Ujar saat bangkitmu menggema.
Mulailah banyak pikiran berlendotan,
seperti beberapa anak dalam buaian Bapak yang sama-sama kita saksikan.

Ribu aksara tanya bertengger dalam bait-bait.
Aku ragu, jika terujar bisa jadi akan pahit.
Senja kemudian padam, padahal kita masih belum selesai.
"Beri aku waktu dua sampai tiga hari ke depan..." kataku, tanganmu melambai.

Duhai, selesailah puluhan kisah di balik tirai tangis malam.
Hanya beberapa pekan setelah temu di pinggir danau.
Beribu langkah setelah berjarak dari surau kampus kita.
Beberapa jeda usai meninggalkan stasiun yang sama.
Hitungan minggu saja setelah rumput yang dulu sama-sama kita injak itu beberapa kali telah dipangkas, sama halnya tentang perasaan,
yang resmi,
kini terpangkas.
Minggu 03 Juni 2018
70
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Terpangkas

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
108
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
109
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
88

Terpangkas

Puisi oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah