Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Kias

Oleh fadlilahnida
Oh, sungguh relatif sekali penilaian manusia atas apa yang telah dilakukan kepada manusia lainnya. Sering kali aku gampang menilai, baik tentang hidupku atau hidupmu. Bak sebuah kebiasaan yang telah lama mengakar, maka spontanitas akan menjadi buahnya.

Aku begitu, gampang sekali menilai orang. Ya, meski sebenarnya tak selalu berujung pada ucapan atau penghakiman. Seringnya dipendam saja. Ditaruh diam-diam. Syukur-syukur jika waktu berbaik hati untuk mengungkap semuanya agar apa yang kunilai itu terbukti antara ya atau tidak-nya.

Aku pernah meratap pada Tuhan untuk dipertemukan dengan seseorang. Entahlah, hatiku gusar sekali waktu itu. Satu jam kemudian aku dipertemukan dengamu. Lekas sekali Tuhan mengabulkan doa. Aku bersyukur pagi itu. Kuciumi telapak tangan sendiri sambil mengucap alhamdulillah, alhamdulillah, terus menerus.

Hanya karena satu hal saja aku bersyukur, yaitu dapat bertemu denganmu setelah terlampau tiga tahun tak jumpa. Ada gusar hati, sebenarnya. Apalagi setiap malam, ketika keheningan menyusup, sering berseliweran penilaian-penilaian. Kembali aku dijangkiti spontanitas itu: menilai dirimu usai tiga tahun tak bertemu.

Alangkah beruntungnya aku ketika kehadiranmu memampukan diriku untuk membelakakkan mata dan membuka telinga dengan lebar bahwa orang tak selalu dinilai dari hitam dan putih kehidupan saja. Selalu ada sisi abu-abu yang bisa menjadi pertimbangan, sekalipun tak selalu berlaku sama untuk semua orang.

Saat aku menilai dengan penuh kebimbangan, kamu menyadarkan aku untuk melihat seseorang dari banyak sisi lalu kemudian memutuskan keputusan terbaik dengan mantap. Saat aku menyampaikan penilaian negatif, kamu membantu aku untuk melihat hal terkecil yang menyusup pada diri seseorang bahwa sejelek-jelek manusia, pasti ada hal baiknya meski sedikit.

Sore itu, kamu mengajak aku ke tepi danau untuk berbincang tentang segala hal. Kita duduk bersama, saling bersisian. Menatap riak air yang tenang. Mengais udara senja ke sukma dengan damai. Kita sama-sama menarik napas, kemudian kembali lagi mendiskusikan berbagai hal yang menurut kita perlu. Eh, lebih tepatnya menurut aku perlu, karena di sini posisinya aku sebagai orang yang masih perlu banyak tahu. Bukan begitu?

"Lalu, apa sebenarnya yang masih kamu ragukan? Kondisiku setelah jatuh kah? Atau hunian?"

Aku berpikir keras. Diriku sendiri juga masih bingung tentang apa yang masih kuragukan tentangmu. Sudah telanjur rupanya aku meragukan sedikit tentang masa lalumu. Namun saat itu aku kelu untuk menyampaikan penilaian bahwa kamu adalah orang yang belum selesai atas masa lalu. Aku takut jika hal itu tak terbukti. Seperti yang telah kusampaikan di awal bahwa seringkali penilaian itu hanya sampai di ujung lidah tanpa mampu keluar menjadi kata. Atau, menjadi terkaan saja yang kubiarkan tersimpan diam-diam. Hingga, saat Tuhan berbaik hati, maka akan terungkap semuanya. Aku memilih diam.

"Begini saja, beri aku dua hari lagi. Baru aku akan sampaikan keputusannya. Sepakat?"

"Oh, baiklah. Di sini aku sudah dalam posisi yakin. Tidak masalah menunggu beberapa hari. Kabari saja kalau kamu sudah mendapat keputusan."

"Baik. Percaya padaku."

Sebenarnya aku belajar darimu untuk selalu bilang "percaya, percayalah, atau yakinlah" bahwa semenjak Tuhan menakdirkan kita bertemu, kita memilih untuk serius menjalaninya. Kamu mengajarkan untuk memberi keputusan tepat waktu. Eh, malah seringkali lebih dulu dari waktu yang kita sepakati. Dalam waktu satu bulan kita telah melakukan banyak sekali capaian yang menarik. Aku senang, bersamamu ternyata dimudahkan.

Hati manusia terkadang mudah untuk berubah. Aku bedoa kepada Tuhan agar hatiku selalu dijaga. Jika kamu adalah orang yang baik untuk membersamai hidupku seterusnya, maka aku ingin cukuplah jalan ini berhenti pada dirimu. Agar tidak ada alasan lagi aku memilih sosok yang baru. Namun jika kamu bukan yang terbaik, maka aku meminta agar Tuhan memberikan alasan sehingga jika kita tak bersama, kita telah paham dan mengerti mengapa jalan kita berbeda.

"Hatiku tak meragu. Marilah kita terus melangkah. Temani aku hingga ke sekian purnama, bahkan selamanya." Aku meyakinkanmu.

"Aku bahagia atas ungkapanmu. Dua puluh satu hari lagi aku akan datang. Tunggu aku di persimpangan agar tak salah arah, ya."

"Tentu. Aku akan setia. Sambil menunggu, aku akan siapkan apa saja yang mungkin nanti akan kita butuhkan."

"Ide yang sangat bagus. Percayalah aku akan melakukan hal yang sama. Hingga, dua puluh satu hari lagi kita akan saling tukar capaian yang membahagiakan."

"Aku sudah memilih untuk percaya, bahkan sebelum kamu mengatakannya. Terima kasih, dalam sebulan ini kamu sudah memberiku beragam pemahaman."

Bintang malam telah sempurna memantulkan cahayanya kepadaku. Sungguh, saat itu aku merasa lega dan bahagia. Tinggal menunggu ia kembali dalam kondisi terbaik masing-masing. Tiga pekan lagi. Tanggal dua puluh satu bulan empat. Aku melingkarinya.

Dirimu telah berhasil mengubahku, sungguh. Aku mampu membuang semua penilaian buruk tentangmu dan pikiran negatif hanya dalam satu bulan. Dalam kurun waktu itu pula telah banyak yang kita lakukan. Seperti berjalan di jalan tol, cepat dan lancar. Hanya tinggal menunggu sampai pada garis waktu saja. Dan, itu tidak lama lagi, bukan? Aku merasa tidak sia-sia bertemu (kembali) denganmu waktu itu. Aku sangat bersyukur bisa lebih tahu tentangmu dan banyak berdiskusi. Meski aku harus mulai melepaskan satu demi satu apa yang kusenangi, tak mengapa. Toh, kita sudah saling percaya bukan? Toh, kamu pernah bilang untuk senantiasa membahagiakan, ya? Masa aku tak membalasmu dengan kebaikan serupa. Tenang, aku telah memilih untuk mempercayaimu. Semua akan baik-baik saja, bukan?

Hari demi hari berlalu. Kita sepakat untuk tak saling temu dalam media apapun dan fokus terhadap apa yang akan kita capai. Sekali lagi, aku telah memilih untuk percaya kepadamu. Aku yakin, kamu tidak akan mengecewakan.

Angin malam mengantarkan sebuah pesan darimu. Tunggu, ini belum tanggal tiga puluh satu. Kupastikan lagi foto profilmu, kutatap gambarnya, bahwa memang benar kamulah yang mengirim pesan ke posnselku. Ya, jelas sekali foto pengirim pesan itu adalah laki-laki berjanggut tipis tanpa jambang, berkulit langsat, dan berkacamata.

"Maafkan aku yang belum bisa menjadi temanmu menghabiskan jutaan purnama. Anggaplah semua yang telah kita lakukan itu belum sama sekali terjadi. Kamu bisa mengerjakan hal lain tanpaku. Aku percaya itu."

Tidak mungkin seseorang yang dikirim Tuhan ketika aku sedang gusar berubah menjadi pengkhianat. Aku tak percaya kamu demikian mudah memutuskan semuanya sepihak, tanpa negosiasi. Apa kabarnya semua yang sudah kita persiapkan? Jangan-jangan yang sibuk mempersiapkan hanya aku dan kamu tidak? Benar begitu?

"Temui aku besok senja di tepi danau yang sama. Di kursi kayu barisan tiga, dekat pohon mangga."

Tidak ada jawaban. Baiklah, tak mengapa. Aku punya waktu belasan jam untuk menyusun beragam kalimat tanya. Aku belum sakit, tenang. Dirimu, kan, yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja jika kita berpikiran positif. Aku pun demikian. Barangkali dirimu sedang bercanda atau mungkin berada pada titik jenuh menjamah banyak targetan. Semoga kamu dilindungi agar besok senja kita bisa bersua lalu membicarakan semuanya.

Hewan bersayap melayang-layang. Semburat jingga memoles langit berawan tipis meneduhkan. Satu-dua orang lalu-lalang, berjalan di depanku, tepat pada tepi danau. Sekian jam aku menunggu, batang hidungmu belum nampak. Kulirik jam. Ah, sebentar jagi senja padam. Andai saja cahaya senja seperti cahaya lilin, akan kujaga ia agar tetap bertahan beberapa menit saja. Aku percaya kamu akan datang. Aku yakin kamu tak mungkin berkhianat. Aku banyak belajar darimu tentang memercayai dan meyakini, bagaimana mungkin kamu ingkari?

Malam menjelang. Aku mematut jilbab yang telah kusut masai diterpa angin berkali-kali. Tak ada gunanya aku tetap duduk manis di kursi kayu. Sia-sia waktuku. Kamu tak datang. Namun aku juga tak sama sekali mempu menyalahkan, karena dirimu tidak menjawab pesan terakhir dariku.

Sudah seminggu semuanya berlalu. Kamu tiada kabar. Semua tentangmu terhapus begitu saja. Aku seperti sedang mencari seseorang yang asing. Mengapa keadaan ini berubah sangat cepat? Mengapa Tuhan membiarkan aku sendirian? Mengapa semua yang telah kukorbankan tak ada harganya kemudian dibalas dengan ditinggalkan? Di mana letak keadilan yang sebenarnya?

"Lasmi, aku lihat Guntur bersama Cahaya." Ara berujar kepadaku.

"Di mana?"

"Kantor Urusan Agama."

[Bersambung]
Selasa 02 Oktober 2018
38
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Kias

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
77
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
77
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
52

Kias

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah