Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Kias #4

Oleh fadlilahnida
[Part Ending]

Melalui angin senja kamu menyampaikan kiasan bahwa rencana kita tak akan berjalan dengan baik. Muram. Seperti peralihan siang dan malam. Remang.

Sepiawai apa pun dirimu, Guntur, kamu tak akan pernah bisa membohongiku, apalagi membohongi Tuhan. Jelas kegelisahanmu terbit dari tarikan napas yang panjang dan jemari yang bergerak-gerak. Kamu mungkin lupa bahwa aku pernah belajar psikologi ketika kuliah.

Kamu ingin menceritakan dongeng? Tepat sekali pemilihan diksimu. Karena dongeng memang hanya di khayalan. Tak pernah menjadi kenyataan. Hanya bualan.

"Mi, kamu ingat kalau aku pernah jatuh dan lututku cedera kemudian harus operasi?"

Aku mengangguk.

"Kamu juga bisa melihat bahwa aku tidak bisa lagi berjalan dengan normal?"

Aku kembali mengangguk.

"Kamu tahu kalau sebagian tulang panggulku dipotong untuk mengganti tulang di bagian lain?"

"Iya, aku tahu semuanya. Aku ingat! Lalu apa hubungannya dengan semua yang telah terjadi? Dari awal aku pernah bilang kalau kondisi fisikmu tidak masalah! Harus berapa kali lagi aku bilang bahwa aku sanggup menerima kamu atas ketidak sempurnaan? Guntur, tolonglah. Kita tidak sedang main teka-teki. Aku butuh kepastian."

"Tenanglah..." jawabmu sok santai.

"Bagaimana aku bisa tenang? Kamu mendadak tidak ada kabar. Kalaupun kita selesai, tinggal ceritakan saja apa alasannya. Jika kita lanjut, kamu berkabar mengapa kamu memilih permainan dalam jalinan ini. Selesai. Tidak perlu panjang lebar."

Kamu menarik napas. Sangat dalam.

"Ada hubungan apa dengan Cahaya? Aku tahu, kamu pernah ta'ruf dengan dia."

Aku menyelidik. Dirimu bungkam tak bersuara.

Setelah sekian lama, kamu pun mengeluarkan suara, "Lasmi, maaf. Kita selesai. Aku hanya mampu sampai sini. Maafkan aku."

Kemudian kamu merunduk. Tiup angin menggetarkan jilbab merahku dan ujung newsboy cap cokelatmu.

Ada derai yang coba kutahan. Ada sesak yang kucoba tekan. Ada beragam ungkapan yang urung kusuarakan, hingga aku hanya bisa memilih untuk melepaskan.

"Baiklah. Terima kasih atas permainan ini. Selamat menikmati petang. Aku pulang."

Tanpa mendengarkan alasan lanjutan darimu aku segera beranjak. Jujur, saat itu hatiku hancur berkeping-keping. Dahulu, saat kamu datang membawa harap, aku tertatih untuk percaya. Seolah dirimu hanya tinggal menunggu jawabanku agar jalan kisah kita selurus penggaris, tanpa kelokan. Akan tetapi saat ini berbeda. Dirimu yang dulu meyakinkanku bahkan berubah tak yakin. Hanya karena dongeng masa lalu yang sengaja kau rangkai ulang. Ada Cahaya yang hadir untuk kau pilih, kemudian kamu seolah lupa dengan janji yang telah terukir.

Aku memang tak lebih unggul soal kecantikan darinya. Tidak pula soal harta. Akan tetapi sebelum memutuskan untuk berproses denganku bukannya kita telah sepakat agar sama-sama mengemas masa lalu kemudian meninggalkannya sebagai kenangan?

"Lasmi, kamu belum tahu cerita lengkapnya. Tunggulah sebentar! Aku hanya tidak ingin mengecewakanmu."

Terlambat! Aku sudah lebih dari kecewa. Kuberlari meninggalkanmu yang sendirian memeluk setangkup bual alasan.

Bruk!

Aku menubruk seseorang.

"Lasmi, kamu harus kuat." Seseorang yang kutubruk adalah Ara.

Ara ternyata mengikutiku dari semenjak aku keluar kos sore tadi. Dalam pelukan Ara, tangisku tumpah ruah. Terlalu berharap kepada manusia ternyata menyakitkan. Sungguh, kejadian sore itu menorehkan bekas sembilu yang entah pulihnya kapan.

*

Jika kisah bersamamu hanya akan menyisakan duri, aku lebih memilih untuk menolak lanjut saat ada secuil sinyal keraguan di bibir pertemuan kita.

Jika hanya akan menuai perih, aku tak akan memperjuangkan kelanjutan kisah tepi danau, saat kepergianmu ternyata hanya sebagai kias untuk mengakhiri.

Lalu, jika singgahnya dirimu kepadaku hanya sebatas pelarian, aku ingin memohon pada Tuhan untuk tak dipertemukan lagi denganmu.

Namun, semuanya memang telah terjadi dan tengah kualami. Aku bisa saja mencaci, menilaimu sebagai laki-laki buruk, dan menyalahkan Tuhan, akan tetapi aku masih ingat pelajaran pertama kita bahwa kita tidak berhak menghakimi seseorang. Biarlah Tuhan yang mengadili. Ia lebih tahu siapa yang salah dan benar. Dan, ia lebih tahu isi hati di antara kita. Aku tak ada niat untuk balas menyakiti, karena jika aku begitu, antara dirimu dan diriku tiada beda. Biarlah semua ini menjadi pelajaran agar aku senantiasa ikhlas dan berhati-hati dalam berharap.
Sabtu 08 Desember 2018
34
0 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Nida Fadlilah Arief

fadlilahnida

"Jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku."

Tuliskan tanggapanmu tentang Kias #4

Baca karya Nida lainnya

PUISI

Bicara Waktu

Minggu 04 Maret 2018
77
PUISI

Tentang Hati

Selasa 06 Maret 2018
77
PUISI

Aku dan Kesempatan

Senin 12 Maret 2018
52

Kias #4

Cerpen oleh Nida Fadlilah Arief

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah