

mereka tak gentar,
meski undangan dikirim berkali-kali
dengan amplop besi
dan salam penutup dari surga palsu.
tiap fajar,
langit disetrum agar debu lekas diam,
peta dilipat seperti kain putih
yang lupa pernah memerah di sudut lipatannya.
anak-anak tumbuh
tanpa akar di perut bumi,
sebab rahim digantikan karung pasir,
dan tangis pertama mereka
diterjemahkan jadi suara sirene.
bila langit bergetar,
itu bukan doa,
hanya drone yang sedang belajar
menyusun ayat baru di udara.
mereka disebut batu,
sebab tak lekas retak
meski berkali-kali dipoles
dengan meteor berselimut pita kemanusiaan.
dunia menonton,
sambil menyeruput simpati,
mengganti channel jika terlalu berdarah,
dan kembali lagi saat semuanya sudah jadi mural.
mereka tetap berdiri,
bukan karena kuat,
tapi karena tanah ini
sudah menolak membiarkan mereka rebah
tanpa nama.

