Matahari pagi bersinar terang, menerangi jalanan kota yang masih sepi. Maya berdiri di depan rumahnya. Ia mengenakan jaket denim dan helm boogo kesayangannya.
Tiba-tiba, sebuah motor berhenti di depan rumah. Maya menoleh, melih motor PCX putih. Pria itu mengenakan jaket hitam dan helm abu-abu, sama seperti yang ia temui kemarin sore.
"Halo, Mbak," sapa pria itu dengan ramah. “Ketemu lagi deh dengan mas-mas yang selalu dipanggil pak"
Maya terkejut, tetapi ia segera tersenyum. "Oh, Pak! Ketemu lagi. "
Pria itu tertawa. "Kebetulan sekali, Mbak."
Pria itu lalu menyalakan motornya dan mulai melaju.
Selama perjalanan, mereka berbincang-bincang ringan. Pria itu menceritakan tentang pekerjaannya sebagai admin di sebuah perusahaan yang juga sembari menjadi pengemudi ojek online, dan Maya menceritakan tentang pekerjaannya sebagai guru SD. Mereka juga membahas tentang cuaca, berita terkini, dan hal-hal lain yang sepele.
Tiba-tiba, pria itu bertanya, "Mbak, apakah Anda percaya dengan cinta beda agama?"
Maya terdiam, berpikir. "Saya tidak tahu, Pak. Saya belum pernah mengalami sendiri."
Pria itu mengangguk. "Saya mengerti. Tapi, apakah mbaknya mau dengan kemungkinan itu?"
Maya kembali terdiam. Ia tidak ingin menyakiti perasaan pria itu, tetapi ia juga tidak ingin memberikan harapan yang palsu.
“Misalkan ada seseorang yang mau sama kamu, tapi beda agama, kira-kira kamu mau nggak?” tanya pria itu dengan sapaan yang sudah semakin akrab.
Maya pun terdiam dan hanya tertawa ringan.
Pria itu mengangguk, mengerti. “Aku paham kok, nggak usah buru-buru dijawan. Pasti sulit kan?"
Mereka terdiam beberapa saat, suasana menjadi canggung. Akhirnya, pria itu memecah keheningan.
"Kalau ada orang yang sampai rela pindah agama, gimana?”
Maya terkejut. Ia tidak menyangka pria itu akan bertanya lebih lanjut.
Mereka terus berbincang-bincang sampai akhirnya tiba di kantor Maya. Maya mengucapkan terima kasih kepada pria itu, lalu turun dari motor. Pria itu melambaikan tangan, lalu pergi.
Maya masuk ke kantor, hatinya dipenuhi dengan perasaan campur aduk. Ia senang bertemu dengan pria itu lagi, tetapi ia juga merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia menyukai pria itu, atau hanya menganggapnya sebagai teman biasa.
Maya menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang mengganggu. Ia harus fokus pada pekerjaannya.