Notifikasi di ponselnya berbunyi, mengabarkan bahwa driver ojek online-nya sudah dekat. Sebuah motor matic berwarna putih berhenti di hadapannya. Degup jantung Maya sedikit berdetak lebih cepat saat melihat siapa yang mengendarai motor itu.
"Lama banget sih nggak ketemu?" sapa pria itu dengan senyum ramah yang masih sama.
"Iya ya" Maya tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Maya mengangguk, masih sedikit terbawa suasana. Maya pun naik ke boncengan motor.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa berbeda. Ada sedikit kecanggungan di antara mereka. Maya sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara pria itu fokus menyetir sambil sesekali melirik Maya melalui spion.
"Gimana nih, jawabanmu apa?" Pria itu membuka percakapan.
"Mmmm…. gimana ya…."
"Aku serius lho…" lanjut pria itu.
Maya tahu apa yang akan dibicarakan pria itu. Percakapan tentang cinta beda agama itu masih membekas di ingatannya.
"Begini" pria itu tampak sedikit gugup.
"Saya serius dengan apa yang saya katakan waktu itu. Saya... saya ingin menikahi kamu."
Maya tertegun. Ia tidak menyangka pria itu akan mengulang pernyataannya, bahkan dengan lebih tegas.
"Mmmmm..." Maya bingung harus berkata apa.
"Saya tahu ini mungkin terdengar tiba-tiba. Tapi, perasaan saya ke kamu benar-benar tulus. Saya tidak bisa membohongi hati saya sendiri." Pria itu berhenti sejenak, memberi kesempatan Maya untuk mencerna kata-katanya. "Aku tidak akan memaksa kamu untuk langsung menjawab. Tapi, aku harap mau memberi aku kesempatan untuk membuktikan keseriusanku."
Maya terdiam. Ia bisa merasakan ketulusan dalam suara pria itu. Perasaan yang selama ini ia pendam, kini muncul ke permukaan.
Pria itu lanjut memastikan kepada Maya "Kalau kamu mau aku ajak serius, kamu kirimkan nomor kamu lewat chat di aplikasi ya"
Sesampainya di tujuan, Mayapun turun dari motor.
Benar saja, Maya memberikan nomor HPnya melalui chat di aplikasi ojek online itu.
Pria itu langsung menghubungi Maya melalui chat Whatsapp.
"Pagi, aku Arka yang tadi nganterin kamu ke sekolah."
Maya tersenyum tipis, lalu bergegas membalas chat dari Arka. Hatinya dipenuhi rasa bahagia yang bercampur dengan sedikit kekhawatiran. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi ia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya.
Sejak hari itu, Maya dan Arka semakin intens berkomunikasi. Mereka bertukar pesan melalui WhatsApp, sesekali menelepon, dan bahkan beberapa kali bertemu untuk makan siang bersama. Maya semakin mengenal Arka, dan semakin yakin dengan ketulusan pria itu.
Meskipun berbeda keyakinan, Maya dan Arka tetap menjalin hubungan. Mereka saling menghargai dan menerima perbedaan yang ada. Mereka tahu perjalanan cinta mereka tidak akan mudah, tapi mereka siap menghadapi segala rintangan bersama-sama.