Matahari mulai tenggelam, meninggalkan langit dengan warna jingga keemasan. Maya keluar dari kantor, membawa tas kerjanya di bahu. Ia menghela napas panjang, merasa lega karena hari kerja yang panjang telah berakhir.
Saat ia berjalan menuju gerbang sekolah, sebuah motor berhenti di sampingnya. Maya menoleh, melihat Arka yang tersenyum padanya.
"Kan ketemu lagi kan, mau pulang?" tanya Arka.
Maya terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu Arka di sini.
"Iya, ah kamu pasti sengaja kan, biar orderanku masuk ke kamu " jawab Maya sambil tertawa.
“Ya, iyalah, aku emang sengaja nungguin kamu," kata Arka
Maya akhirnya naik ke boncengan motor. Arka menyalakan mesin dan mulai melaju.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Maya sibuk menikmati angin senja yang sejuk dan rintik hujan, sementara Arka fokus pada jalan. Sesekali, mereka bertukar pandang, senyum tipis terukir di wajah mereka.
Tiba-tiba, laju motor sedikit lebih pelan dari biasanya. Kala itu posisi ada di depan sebuah lapangan. Maya bingung, tidak tahu apa yang ingin dilakukan Arka.
"Mah, ini perempuan yang aku ceritain kemarin” ungkap Arka melalui panggilan telepon.
Kemudian HPnya diserahkan kepada Maya, seraya memintanya untuk melanjutkan obrolan bersama orang di telepon itu.
“Selamat sore, tante….” kata Maya dengan perasaan groginya..
"Halo sore. Oh, ini yang diceritain Arka kemarin ya?” tanya seorang perempuan dari panggilan telepon itu.
“Iya, tante…” jawab Maya kaku
“Ini mamahnya Arka, salam kenal ya” lanjut suara wanita itu dengan ramah.
“Iya tante, salam kenal juga” suara Maya masih gugup.
“Baik-baik ya kamu sama Arka…..” ungkap mamah Arka.
Kemudian telepon itu pun dikembalikan kepada Arka.
“Mah, ini aku lagi di jalan, nanti aku lanjut lagi ya” ucap Arka seraya mematikan telepon itu.
Maya tertegun, bingung, hingga sekujur tubuhnya terasa lemas. Maya terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
Maya terharu dengan kata-kata mamah Arka. Ia tidak menyangka bahwa Arka begitu tulus padanya.
"Kamu yakin mau serius sama aku?" tanya Maya dengan hati bergetar.
"Konyol kamu ah, aku sampe rela hujan-hujanan gini, sampek aku telpon mamah. Masak iya aku nggak serius sama kamu. Ya jelas aku seriuslah" ucap Arka meyakinkan Maya.
Maya tersenyum dan kembali terdiam.
“Sekarang aku tanya, kamu mau serius nggak sama aku?” tanya Arka ingin memastikan jawaban Maya.
“Tapi, kita beda lo, kamu bakal yakin sama aku?” pengulangan pertanyaan Maya.
Sepanjang perjalanan, suasana cenderung sunyi. Maya merasa sedikit gelisah, pikirannya terperangkap dalam keraguan. Ia tahu bahwa hubungan mereka berjalan dengan baik, namun ada satu hal yang membuatnya ragu. Ia berasal dari keluarga yang sederhana—terlalu sederhana, bahkan menurutnya. Sementara Arka, ia tahu betul, memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Ibu Arka adalah seorang pemilik butik ternama di Bekasi, dan ayahnya bekerja di Pertamina, sebuah perusahaan besar yang memiliki banyak pengaruh. Apa yang bisa diberikan Maya untuk menyambut mereka? Bisakah mereka menerima dirinya dan keluarganya yang sederhana?
Arka pun menjawab dengan yakin dan mantap, karena tidak ingin Maya selalu dipenuhi dengan keraguan.
“Memang di dalam ajaran agamamu ada ya perbedaan derajat dan lainnya? Nggak kan? Aku bakal serius dan mau menerima kamu apa adanya.” ungkap Arka dengan nada serius.
Maya mengangguk, hampir meneteskan air mata. Tapi karena posisi masih di jalan, ia pun menahan diri.
Tidak terasa sudah hampir sampai di rumah Maya. Sebenarnya Arka pun ragu untuk bertemu dengan keluarga Maya.
“Aku turunin kamu di depan gang aja ya, “kata Arka.
“Enak aja, sampai depan rumah lah. Nggak tanggung jawab banget sih sama anak orang” jawab Maya agak keras.
“Iya deh iya, aku tanggung jawab kok” ungkap Arka.
Sesampainya di depan rumah Maya, mereka pun saling berpamitan.
“Terimakasih ya,” kata Maya masih kaku.
“Ok. Love you” ungkap Arka seraya memutarkan motornya.
Maya berjalan masuk rumah dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tetapi ia yakin bahwa ia akan selalu mengingat waktu ini, waktu di mana ia bertemu dengan Arka dan merasakan perasaan yang tulus untuk pertama kalinya.