Malam itu, kamar Maya terasa sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang menemani kesendiriannya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lilin aroma terapi yang menyala redup di atas nakas.
Pikirannya melayang, teringat pada Arka. Kejadian hari ini masih membekas di hatinya, meninggalkan luka yang perih.
Maya menghela napas panjang, mencoba meredakan gejolak emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia merasa bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Ia mencintai Arka, tapi ia juga tidak bisa mentolerir kebohongan.
"Ya Tuhan," bisik Maya, menatap langit-langit kamarnya. "Aku bingung, Tuhan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencintai Arka, tapi aku tidak suka dengan kebohongannya."
Air mata mulai membasahi pipi Maya. Ia merasa hatinya sangat sakit.
"Ya Tuhan," lanjut Maya, suaranya bergetar. "Jika memang dia untukku, izinkan kami untuk bersama dan dekatkanlah kami. Tapi, jika dia bukan untukku, biarkan kami berjauhan dan dijauhkan dengan cara-Mu."
Maya terdiam, mencoba menenangkan diri. Ia merasa lega setelah mengucapkan doa itu. Ia merasa menyerahkan segalanya kepada Tuhan.
"Aku percaya, Tuhan, Engkau tahu yang terbaik untukku," bisik Maya. "Aku akan menerima apapun yang Engkau berikan."
Maya mematikan lilin aroma terapi dan berbaring di tempat tidur. Ia memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Namun, pikirannya terus melayang, teringat pada Arka.
Di sisi lain kota, Arka juga sedang merenungkan kejadian hari ini. Ia merasa menyesal telah memutuskan hubungan dengan Maya. Ia tahu bahwa ia salah, tapi ia merasa terdesak oleh keadaan.
"Aku minta maaf, Maya," bisik Arka, menatap foto Maya di ponselnya. "Aku tahu aku salah. Aku harap kamu bisa memaafkan aku."
Arka tidak bisa tidur malam itu. Ia terus memikirkan Maya, berharap gadis itu akan menghubunginya. Namun, hingga pagi menjelang, ponselnya tidak berdering.
Pagi itu, Maya terbangun dengan perasaan yang lebih tenang. Ia merasa sudah menerima apapun keputusan Tuhan. Ia memutuskan untuk menjalani hari-harinya seperti biasa, tanpa Arka.
Sementara itu, Arka merasa gelisah. Ia tidak sabar ingin bertemu Maya dan meminta maaf. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor Maya, berharap gadis itu mau menemuinya.
Namun, ketika Arka tiba di kantor Maya, ia mendapat kabar bahwa Maya sedang cuti. Arka merasa kecewa, tapi ia tidak menyerah. Ia akan terus mencari Maya, sampai ia menemukan gadis itu.