Tiga hari berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Maya menatap layar ponselnya, kosong. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan dari Arka. Ia merasa seperti kehilangan separuh jiwanya. Perasaan rindu dan sesal bercampur aduk, membuatnya sulit berkonsentrasi pada apapun.
Setiap malam, sebelum tidur, Maya selalu berdoa, memohon petunjuk dan kekuatan. Ia ingin menghubungi Arka, menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, tapi egonya menahannya. Ia takut ditolak, takut Arka sudah tidak peduli lagi padanya.
Hari Minggu tiba. Maya pergi ke gereja, mencari ketenangan dan jawaban. Saat pendeta menyampaikan khotbah tentang pengampunan dan perdamaian, hati Maya tergerak. Ia merasa Tuhan sedang berbicara padanya, menyuruhnya untuk mengulurkan tangan.
Sepulang dari gereja, Maya memberanikan diri. Ia membuka aplikasi pesan dan mengetik sebuah pesan untuk Arka. Jari-jarinya gemetar, tapi ia memantapkan hati.
"Arka, maafkan aku. Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku tahu aku salah, tapi aku harap kamu mau mendengarkan. Sebentar lagi bulan puasa, maafkan aku lahir dan batin ya."
Jantung Maya berdebar kencang saat ia menekan tombol kirim. Ia menunggu dengan cemas, berharap Arka akan membalas.
Beberapa menit berlalu, kemudian ponsel Maya berbunyi. Sebuah pesan dari Arka. Maya membuka pesan itu dengan hati berdebar.
"Maya, aku sudah memaafkanmu. Tapi, sepertinya kita memang tidak berjodoh. Kita berbeda keyakinan, keluarga kita berbeda, dan kita tidak bisa saling memahami. Mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua. Aku harap kamu bisa menemukan seseorang yang lebih baik dariku."
Hati Maya hancur membaca pesan itu. Ia merasa seperti ditusuk ribuan jarum. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia tidak menyangka Arka akan mengatakan hal itu.
"Tidak berjodoh?" bisik Maya, suaranya bergetar. "Begitu mudahnya kamu mengatakan itu?"
Maya merasa marah, kecewa, dan sedih. Ia merasa Arka tidak pernah benar-benar mencintainya. Ia merasa semua usahanya selama ini sia-sia.
"Baiklah, Arka," ketik Maya dengan jari-jari gemetar. "Kalau itu keputusan kamu, aku akan menerimanya. Terima kasih untuk semua kenangan yang pernah kita buat. Semoga kamu bahagia. Nanti, jika kamu pulang ke Bekasi, hati-hati di jalan ya. Sampaikan juga salamku untuk orang tuamu di sana."
Maya menekan tombol kirim, lalu mematikan ponselnya. Ia menangis tersedu-sedu, melepaskan semua emosi yang selama ini ia pendam. Ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Sejak hari itu, Maya dan Arka benar-benar lost contact. Mereka tidak pernah lagi berkomunikasi, seolah-olah tidak pernah saling mengenal. Maya mencoba untuk melupakan Arka, tapi kenangan tentang pria itu selalu menghantuinya. Ia berharap suatu hari nanti, mereka bisa bertemu kembali, bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai dua orang yang pernah saling menyayangi.