Maya duduk di teras rumahnya, menatap langit malam yang bertabur bintang.
Hatinya masih dipenuhi harapan, berharap Arka akan menghubunginya. Ia telah menunggu berhari-hari, namun tidak ada tanda-tanda dari Arka.
"Mengapa dia tidak menghubungiku?" bisik Maya pada dirinya sendiri.
Ia merasa frustrasi dan kecewa. Ia ingin sekali mendengar suara Arka, ingin tahu apa yang dipikirkannya. Namun, ia juga merasa takut. Takut jika Arka tidak merasakan hal yang sama dengannya.
Maya adalah seorang wanita yang penuh intuisi. Ia selalu percaya pada firasatnya. Dan firasatnya mengatakan bahwa Arka adalah bagian dari masa lalunya. Ia merasa ada ikatan yang kuat di antara mereka, ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Dalam imajinasinya, Maya membayangkan pertemuan mereka. Ia ingin sekali mengungkapkan semua kekecewaannya, semua rasa sakit yang telah ia pendam. Ia ingin mengatakan betapa ia telah berjuang untuk berdiri sendiri, betapa ia telah terluka ketika ia kehilangan Arka.
"Aku bukan wanita yang lemah," gumam Maya. "Aku bisa berdiri sendiri. Tapi itu tidak berarti aku tidak terluka. Aku terluka, Arka. Aku sangat terluka."
Maya memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang hendak jatuh. Ia tidak ingin terlihat lemah. Ia ingin Arka melihatnya sebagai wanita yang kuat, wanita yang pantas untuk dicintai.
Namun, di balik kekuatannya, Maya juga menyimpan rasa sayang yang mendalam untuk Arka. Ia tidak bisa menyangkal bahwa ia masih mencintai pria itu. Ia merindukan senyumnya, tawanya, sentuhannya.
"Aku tahu ini gila," pikir Maya. "Tapi aku tidak bisa berhenti berharap. Aku berharap dia masih mencintaiku. Aku berharap dia akan kembali padaku."
Maya membuka matanya dan menatap langit malam. Ia melihat sebuah bintang jatuh, dan ia membuat permohonan.
"Aku berharap Arka akan menghubungiku," bisiknya. "Aku berharap dia akan kembali padaku."
Maya tahu, harapannya mungkin sia-sia. Tapi ia tidak bisa berhenti berharap. Ia percaya, suatu hari nanti, Arka akan kembali padanya.