Maya berjalan menyusuri taman kota, mencoba menikmati udara segar dan sinar matahari pagi. Namun, pikirannya terus melayang pada Arka. Ia berusaha keras untuk melupakan pria itu, tetapi kenangan tentang mereka selalu kembali menghantuinya.
Ia masih ingat jelas pertemuan pertama mereka.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Arka tiba-tiba menghilang tanpa kabar, meninggalkan Maya dengan hati yang hancur. Maya mencoba mencari Arka, tetapi seolah-olah pria itu lenyap ditelan bumi.
Kini, setelah beberapa bulan berlalu, Arka kembali hadir dalam hidupnya. Maya merasa bingung dan terluka. Ia ingin melupakan Arka, tetapi hatinya masih merindukan pria itu.
Maya duduk di bangku taman, menatap ke kejauhan. Ia mencoba membayangkan hidupnya tanpa Arka. Ia ingin fokus pada karirnya, pada impiannya. Ia ingin membangun hidup yang bahagia dan mandiri.
Namun, setiap kali ia mencoba melupakan Arka, bayang-bayang pria itu selalu muncul di benaknya. Ia ingat senyumnya, tawanya, sentuhannya. Ia ingat semua momen indah yang mereka lalui bersama.
"Mengapa aku tidak bisa melupakannya?" bisik Maya pada dirinya sendiri.
Ia tahu, ia harus melepaskan masa lalu. Ia harus menerima kenyataan bahwa Arka mungkin tidak akan pernah kembali padanya. Namun, hatinya masih belum siap untuk melepaskan harapan.
Maya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan sulit. Namun, ia bertekad untuk melupakan Arka dan melanjutkan hidupnya.
Ia bangkit dari bangku taman dan berjalan pulang. Ia ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya, tertawa dan melupakan kesedihannya. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa bahagia tanpa Arka.
Namun, di dalam hatinya, Maya tahu bahwa ia tidak akan pernah benar-benar melupakan Arka. Pria itu akan selalu menjadi bagian dari dirinya, bagian dari masa lalunya.