Maya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah dinding kamarnya. Pikirannya dipenuhi oleh Arka. Ia masih berharap pria itu memikirkannya, merindukannya, seperti yang ia rasakan.
"Apakah dia merindukanku?" bisik Maya pada dirinya sendiri.
Maya adalah wanita yang penuh intuisi. Ia selalu merasa terhubung dengan orang-orang di sekitarnya, terutama dengan Arka. Namun, kali ini, ia merasa seperti ada tembok tebal yang memisahkan mereka.
Ia mulai merenungkan hubungan mereka, mencoba mencari tahu di mana letak kesalahannya. Ia merasa bersalah, egois, karena tidak bisa memahami Arka.
"Maafkan aku, Arka," bisik Maya. "Aku salah. Aku tidak mengerti kamu. Aku terlalu egois."
Maya ingat percakapan terakhir mereka, pertengkaran yang menyakitkan. Arka marah, menuduhnya tidak menghormati ibunya, pelit hanya karena masalah kue. Kata-kata itu masih terngiang jelas di benaknya, menyayat hatinya.
"Kamu sama orang tua aja perhitungan," kata-kata Arka itu terus berputar di kepalanya.
Maya merasa terluka, terhina. Ia tahu, ia bukan orang yang pelit, apalagi tidak menghormati orang tua. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang dicintainya.
Namun, ia juga tahu, ia dan Arka berasal dari latar belakang yang berbeda. Arka berasal dari keluarga yang mapan, sementara Maya dibesarkan dalam kesederhanaan. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.
"Aku harus memikirkan masa depanku," gumam Maya. "Aku tidak bisa bergantung pada siapa pun."
Maya merasa lelah dengan semua drama ini. Ia ingin melupakan Arka, melanjutkan hidupnya. Namun, hatinya masih belum siap untuk melepaskan pria itu.
Ia meraih ponselnya, berniat menghubungi Arka. Namun, ia ragu. Apakah ia harus meminta maaf? Apakah ia harus menjelaskan semuanya?
Maya menghela napas panjang, meletakkan kembali ponselnya. Ia tahu, ia harus menyelesaikan masalah ini dengan Arka. Ia tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian.
"Aku akan bicara dengannya," tekad Maya. "Aku akan menjelaskan semuanya. Aku akan meminta maaf jika aku salah. Tapi aku juga ingin dia mengerti aku."
Maya tahu, ini akan menjadi percakapan yang sulit. Namun, ia percaya, kejujuran adalah kunci untuk menyelesaikan masalah. Ia berharap, Arka akan mendengarkannya, memahaminya, dan memaafkannya.