Maya duduk di tepi jendela kamarnya, menatap hujan yang turun dengan deras. Pikirannya melayang jauh, kembali ke masa lalu, ke saat-saat indah bersama Arka. Hatinya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Arka telah pergi.
Setiap kali ia mencoba melupakan Arka, kenangan manis tentang pria itu selalu muncul di benaknya. Ia ingat dengan jelas saat Arka bertanya tentang masa lalunya.
"Kamu pernah pacaran?" tanya Arka suatu malam.
Maya mengangguk pelan. "Waktu SMA, sekali," jawabnya lirih.
"Kenapa putus?" tanya Arka lagi, dengan nada lembut.
Maya menelan ludah, mencoba menahan air mata yang hendak jatuh. "Dia... menikah dengan sahabatku sendiri," ucapnya dengan suara bergetar.
Arka terdiam sejenak, lalu menarik Maya ke dalam pelukannya. "Sudah, jangan sedih lagi," bisiknya lembut. "Kan sudah ada aku."
Pelukan hangat Arka, kata-kata manisnya, semua itu masih terasa begitu nyata bagi Maya. Ia merasa seperti masih bisa merasakan kehangatan tubuh Arka, mendengar bisikan lembutnya.
"Mengapa kamu pergi, Arka?" bisik Maya pada dirinya sendiri.
Ia merasa bingung dan terluka. Ia tidak mengerti mengapa Arka meninggalkannya tanpa penjelasan.
Apakah semua janji manis itu hanya kebohongan belaka?
Maya mencoba mencari jawaban, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Ia hanya bisa merenungkan kenangan mereka, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Ia ingat saat mereka pertama kali bertemu, saat mereka tertawa bersama, saat mereka berbagi mimpi dan harapan. Ia ingat saat Arka memperlakukannya dengan begitu hangat dan manis, membuatnya merasa dicintai dan dihargai.
"Kamu membuatku merasa istimewa, Arka," gumam Maya. "Mengapa kamu menghancurkan semuanya?"
Maya merasa marah, kecewa, dan sedih. Ia ingin melupakan Arka, tetapi ia tidak bisa. Kenangan tentang pria itu terlalu kuat, terlalu indah untuk dilupakan.
Ia tahu, ia harus melepaskan masa lalu, melanjutkan hidupnya. Tetapi, di dalam hatinya, ia masih berharap Arka akan kembali. Ia masih berharap, suatu hari nanti, mereka akan bersama lagi.