Maya tertegun. Jari-jarinya gemetar saat melihat story WhatsApp Arka. Hingga sore menjelang, tidak ada balasan ataupun respon dari Arka. Maya menelan ludah, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
"Berarti nomorku nggak dia blok, bahkan dia masih nge-save nomor aku?" bisik Maya pada dirinya sendiri.
Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Mengapa Arka tidak menghapus atau memblokir nomornya? Apakah itu berarti masih ada harapan? Atau hanya kebetulan semata? Maya menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang mengganggunya.
Malam harinya, Maya memutuskan untuk mengakhiri puasanya. Ia berlutut di samping tempat tidur, memanjatkan doa dengan khusyuk. Ia bersyukur atas kesempatan yang diberikan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, untuk merenungkan makna Prapaskah.
"Tuhan, terima kasih atas segala berkat dan penyertaan-Mu. Aku bersyukur atas kesempatan untuk bertobat dan membarui diri. Aku pasrahkan segala kegelisahan dan keraguanku kepada-Mu," kata Maya dengan suara lirih.
Malam itu, Maya berniat untuk memulai puasa Daniel. Ia ingin membersihkan tubuh dan jiwanya, memfokuskan diri pada doa dan refleksi. Puasa Daniel ini bukan tentang meminta Arka kembali, tetapi tentang memohon petunjuk dan kekuatan untuk menghadapi masa depan.
Maya ingin segala yang saat ini membelenggu pikirannya dan hatinya bisa terurai dan memberikan jalan terbaik baginya.
Selama 21 hari ke depan, Maya hanya akan mengonsumsi sayuran, biji-bijian, dan buah-buahan. Ia ingin membuktikan kesungguhannya dalam mencari kedamaian dan ketenangan hati. Ia berharap, selama puasa ini, ia dapat menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang mengganjal di benaknya.
Hari-hari berlalu dengan lambat. Maya mengisi waktunya dengan membaca kitab suci, berdoa, dan bermeditasi. Ia juga aktif dalam kegiatan gereja, melayani sesama dengan sukacita. Ia merasa lebih dekat dengan Tuhan, lebih damai dengan dirinya sendiri.
Meskipun bayang-bayang Arka masih sesekali muncul, Maya tidak lagi merasa terbebani. Ia belajar untuk menerima masa lalu, untuk melepaskan segala penyesalan dan harapan yang tidak realistis. Ia percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuknya.
Setiap malam, sebelum tidur, Maya selalu menyempatkan diri untuk berdoa bagi Arka. Ia berharap Arka bahagia, menemukan cinta yang tulus, dan hidup dalam damai. Ia tidak lagi berharap Arka kembali padanya, tetapi ia tetap menyayangi Arka sebagai bagian dari masa lalunya.
Maya percaya, semoga yang ia semogakan bisa menjadi semoga yang baik baginya.