

Maya keluar dari toko buku dengan dua kantong belanja yang berisi beberapa novel dan buku catatan baru. Langit sore mulai berubah jingga. Ia menarik napas panjang, lalu membuka aplikasi ojek online seperti biasanya.
Tak sampai lima menit, notifikasi muncul.
"Driver telah tiba."
Maya berjalan menuju motor yang terparkir di tepi jalan. Namun langkahnya melambat ketika melihat sosok pengemudi yang berdiri di sana.
Laki-laki itu menoleh dan tersenyum.
"Hai, apa kabar kamu?"
Suara itu terasa begitu familiar.
Maya membeku beberapa detik sebelum akhirnya mengenali wajah yang hampir setahun tak ia lihat.
Arka.
Orang yang dulu begitu dekat dengannya.
Orang yang kemudian hilang tanpa benar-benar berpamitan.
Maya terkekeh kecil untuk menyembunyikan keterkejutannya.
"Ih, siapa ya? Haduuh aku takutt."
Arka tertawa pelan.
"Ya ampun, Maya. Masa lupa?"
"Hmm... kayaknya pernah lihat deh. Mirip mantan teman."
"Mantan teman?" Arka menggeleng sambil tersenyum. "Jahat banget."
Maya naik ke motor itu, masih sulit percaya dengan kebetulan yang baru saja terjadi.
Sepanjang perjalanan, suasana yang awalnya canggung perlahan mencair.
"Jadi..." Arka membuka percakapan. "Apa kabar selama hampir setahun ini?"
"Baik. Kuliah, kerja sampingan, gitu-gitu aja. Kamu?"
"Ya sama. Sibuk nyari arah hidup."
Maya tertawa.
"Masih suka ngomong aneh ternyata."
"Kamu juga masih suka ketawa di hal yang nggak lucu."
Mereka berdua terdiam sesaat.
Aneh.
Padahal sudah hampir satu tahun tidak berkomunikasi, tapi percakapan itu terasa seperti lanjutan dari obrolan yang sempat terputus kemarin sore.
"Jujur," kata Arka pelan, "aku nggak nyangka bakal ketemu kamu lagi."
"Aku juga."
Maya menatap jalanan yang mulai ramai.
"Bahkan aku pikir kita udah nggak bakal ketemu."
Arka mengangguk.
"Aku juga sempat mikir begitu."
Angin sore berembus lembut.
Beberapa detik berlalu sebelum Maya akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Kenapa sih dulu kamu hilang?"
Pertanyaan yang selama ini selalu ingin ia tanyakan.
Arka terdiam cukup lama.
"Bukan karena aku benci kamu."
"Aku nggak bilang kamu benci."
"Tapi aku tahu kamu pasti bertanya-tanya."
Motor melambat ketika lampu merah menyala.
"Aku waktu itu lagi berantakan, May. Banyak masalah keluarga, kuliah, kerja. Aku ngerasa nggak punya energi buat ngobrol sama siapa-siapa."
"Lalu kenapa nggak bilang?"
Arka tersenyum pahit.
"Karena aku nggak tahu cara menjelaskannya."
Maya menunduk.
Selama ini ia menyimpan sedikit kecewa.
Bukan karena Arka pergi.
Melainkan karena Arka pergi tanpa penjelasan.
"Aku sempat marah, lho."
"Aku tahu."
"Sempat nangis juga."
Arka tertawa kecil.
"Kalau yang itu aku nggak tahu."
"Ya sekarang tahu."
Mereka ikut tertawa.
Namun ada kehangatan yang berbeda di antara tawa itu.
Seolah luka lama yang selama ini tersimpan perlahan menemukan tempat untuk pulang.
Arka kembali bicara.
"Kalau boleh jujur, aku sering kepikiran kamu."
Maya terdiam.
"Kadang kalau lewat tempat yang pernah kita datangi, atau lihat buku yang kamu suka, aku ingat."
"Serius?"
"Iya."
"Lalu kenapa nggak hubungi aku?"
Arka menghela napas.
"Karena semakin lama aku diam, semakin nggak tahu harus mulai dari mana."
Maya mengangguk pelan.
Ia memahami perasaan itu.
Kadang waktu yang terlalu panjang justru membuat seseorang takut membuka kembali percakapan yang telah lama tertutup.
"Kalau aku..." Maya memulai.
"Hmm?"
"Aku juga sempat kangen."
Arka tersenyum.
"Semoga aku nggak salah dengar."
"Tapi cuma sedikit."
"Oh jadi sedikit ya?"
"Iya. Sedikit banget."
"Berarti bohong."
Maya tertawa.
"Kenapa?"
"Karena dari dulu kalau kamu bilang sedikit, biasanya banyak."
Mereka kembali tertawa.
Matahari mulai tenggelam ketika motor memasuki jalan menuju rumah Maya.
Suasana menjadi lebih tenang.
"Aku senang ketemu kamu hari ini," kata Arka tiba-tiba.
Maya menatap punggung laki-laki itu.
Ada banyak hal yang telah berubah selama setahun terakhir.
Tetapi ada juga beberapa hal yang ternyata masih sama.
"Aku juga."
"Setidaknya sekarang aku tahu kamu baik-baik saja."
Maya tersenyum.
"Dan sekarang aku tahu alasan kamu menghilang."
Motor berhenti tepat di depan rumah Maya.
Ia turun perlahan sambil melepas helm.
Beberapa detik mereka saling memandang, sama-sama tidak tahu harus mengakhiri pertemuan yang begitu tidak terduga ini.
"Jadi..." kata Arka.
"Jadi?"
"Kita nggak lost contact lagi, kan?"
Maya mengangkat alis.
"Hmm... tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung kamu mau menghilang lagi atau nggak."
Arka menggeleng sambil tersenyum.
"Nggak. Kali ini nggak."
Untuk pertama kalinya setelah hampir satu tahun, Maya merasa tidak ada lagi ganjalan yang tersisa.
Pertemuan itu mungkin hanya sebuah pesanan ojek biasa.
Namun bagi mereka, sore itu terasa seperti semesta sedang memberi kesempatan kedua pada dua orang yang pernah kehilangan jalan menuju satu sama lain.

