

Aku tidak pernah menyangka bahwa seseorang bisa datang begitu sederhana, lalu menetap begitu lama di dalam hati.
Pertemuanku dengan Arka tidak memiliki kisah yang istimewa. Tidak ada hujan yang turun tiba-tiba, tidak ada tabrakan tak sengaja seperti di film-film romantis. Kami hanya dua orang yang dipertemukan oleh waktu pada saat yang tepat, atau setidaknya itulah yang kupikirkan saat itu.
Awalnya kami hanya bertukar cerita biasa. Tentang pekerjaan, tentang hal-hal kecil yang terjadi setiap hari, tentang mimpi-mimpi yang masih kami simpan rapat. Namun semakin lama, percakapan itu menjadi kebiasaan yang tanpa kusadari selalu kutunggu. Aku mulai tersenyum ketika melihat namanya muncul di layar ponsel. Hari-hariku terasa lebih ringan karena kehadirannya. Arka tidak pernah berusaha menjadi seseorang yang luar biasa, tetapi justru kesederhanaannya membuatku merasa nyaman.
Entah sejak kapan rasa itu tumbuh. Aku tidak pernah merencanakannya. Tahu-tahu aku sudah jatuh terlalu dalam. Arka menjadi seseorang yang selalu ingin kuceritakan pada semesta. Seseorang yang diam-diam kusebut dalam setiap doa.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Pada suatu malam, kami membahas sesuatu yang selama ini tidak pernah menjadi topik pembicaraan. Saat itulah aku menyadari bahwa kami berbeda keyakinan.
Awalnya aku menganggap itu bukan masalah. Bukankah cinta lebih besar daripada segala perbedaan? Namun semakin hari, kenyataan menunjukkan wajah yang berbeda. Ada keluarga yang harus dihormati, ada keyakinan yang telah dijaga sejak lahir, ada masa depan yang ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan. Aku dan Arka sama-sama menyadari bahwa jalan yang kami tempuh tidak akan mudah.
Meski demikian, kami tetap bertahan. Tetap saling menyapa setiap pagi dan saling menguatkan setiap malam. Kami sama-sama berusaha mengabaikan kenyataan yang ada di depan mata. Sampai akhirnya aku merasa lelah berperang dengan ketakutanku sendiri. Pada suatu malam, dengan tangan gemetar dan hati yang nyaris runtuh, aku mengirimkan pesan yang paling sulit dalam hidupku.
"Arka, mungkin kita harus berhenti berharap."
Pesan itu menjadi awal dari jarak yang perlahan tumbuh di antara kami. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada saling menyalahkan. Kami hanya sama-sama memilih diam. Dan terkadang, diam jauh lebih menyakitkan daripada perpisahan.

