

Siang itu, bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Suasana sekolah mulai lengang. Anak-anak telah kembali ke rumah masing-masing, menyisakan hembusan angin yang membawa aroma masakan dari kantin sekolah.
Di salah satu meja kantin, empat guru duduk bersama. Pak Gio, Pak Frans, Bu Maria, dan Bu Siska. Obrolan mereka mengalir dari hal-hal ringan hingga akhirnya membahas sebuah kegiatan yang harus mereka siapkan bersama. Mereka saling bertukar pendapat, menyusun ide, mempertimbangkan berbagai kemungkinan agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik.
Di tengah diskusi itu, Bu Lia datang menghampiri.
"Pak Kepala Sekolah ada?" tanyanya.
"Sepertinya ada di ruangannya," jawab salah satu dari mereka.
"Oh ya, saya mau menyampaikan kalau ada tamu."
Setelah menyampaikan maksudnya, Bu Lia pun pergi. Empat guru itu kembali melanjutkan diskusi yang sempat terputus.
Tak lama kemudian, Bu Siska tersenyum kecil sambil berkata setengah bercanda,
"Sudah yuk... nanti dikira kita bikin kubu lagi."
Kalimat itu disambut tawa kecil. Bukan karena mereka sedang membentuk kelompok eksklusif, tetapi karena mereka sudah mulai lelah mendengar anggapan yang sama berulang kali. Mereka pun membubarkan diri. Ada yang kembali ke kantor, ada yang menuju kelas untuk merapikan perlengkapan mengajar.
Hari-hari berlalu seperti biasa.
Pada suatu siang, beberapa guru sedang makan bersama. Di tengah obrolan santai, Bu Lia berkata,
"Lain kali kalau ada diskusi, aku diajak ya."
Ucapan itu membuat suasana sejenak hening. Tidak ada yang menolak keinginannya. Tidak ada pula yang berniat meninggalkannya. Namun, ada rasa heran yang sulit diungkapkan.
Setelah pertemuan itu usai, Bu Maria dan Bu Siska berbincang pelan.
"Bukannya kita nggak pernah melarang siapa pun ikut diskusi?" kata Bu Maria.
"Iya," jawab Bu Siska. "Justru waktu diskusi di kantor, sering kali pembahasannya panjang. Kadang Bu Lia sendiri terlihat kurang mengikuti alurnya. Kita harus mengulang dari awal lagi."
Mereka tidak sedang ingin menyalahkan siapa pun. Mereka hanya mencoba memahami mengapa setiap kali ada beberapa orang berdiskusi, hal itu selalu dianggap sebagai tanda adanya kubu.
Padahal, berdiskusi bukan berarti menutup pintu bagi orang lain.
Tidak semua percakapan harus melibatkan semua orang. Ada kalanya orang-orang berkumpul karena memiliki tugas yang sama, tanggung jawab yang sama, atau sekadar kebetulan berada di tempat yang sama. Itu bukanlah persekongkolan.
Yang lebih melelahkan justru ketika seseorang lebih cepat merasa disisihkan daripada mencoba memahami isi pembicaraan. Lebih mudah menganggap orang lain sengaja menutup diri daripada bertanya, "Sedang membahas apa?"
Sering kali, rasa menjadi korban lahir bukan karena benar-benar dikucilkan, melainkan karena prasangka yang dipelihara lebih lama daripada komunikasi.
Dan yang paling menyedihkan, ketika prasangka itu terus diulang, orang-orang yang sebenarnya tidak pernah berniat mengecualikan siapa pun justru berubah menjadi pihak yang selalu dipersalahkan.
Padahal, pertemanan bukan tentang selalu duduk di meja yang sama. Bukan pula tentang harus ikut dalam setiap percakapan. Pertemanan bertumbuh dari saling percaya, saling bertanya ketika tidak mengerti, dan tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu hanya dari apa yang terlihat.
Sebab, tidak semua kelompok yang sedang berdiskusi adalah sebuah kubu. Terkadang, itu hanyalah beberapa orang yang sedang berusaha menyelesaikan tanggung jawabnya.

