

Di sebuah ruang yang tak terlalu besar, orang-orang datang dan pergi seperti musim. Ada yang akrab hanya sebentar, ada yang bertahan lama, dan ada pula yang memilih menjaga jarak.
Di antara mereka, ada seorang yang terbiasa menyapa semua orang.
Ia bisa duduk bersama siapa saja. Hari ini berbincang dengan kelompok yang gemar bercanda. Besok berdiskusi dengan mereka yang lebih tenang. Lusa membantu orang lain yang bahkan baru dikenalnya.
Baginya, berteman bukan soal memilih kubu. Berteman adalah tentang menghargai setiap manusia yang ditemuinya.
Namun, tidak semua mata melihat dengan cara yang sama.
"Dia itu tukang nemplok sana-sini."
Kalimat itu berembus pelan, lalu menyebar seperti angin yang membawa debu. Tak ada yang mengatakannya tepat di depan wajahnya. Semua memilih berbisik, seolah bisikan lebih mudah dipercaya daripada kenyataan.
Awalnya ia tersenyum.
Ia pikir, mungkin orang-orang hanya salah paham.
Tetapi semakin hari, bisikan itu berubah menjadi label. Setiap kali ia terlihat berbincang dengan seseorang, selalu ada yang menganggapnya sedang mencari tempat. Ketika membantu teman lain, dianggap sedang mencari perhatian. Saat tertawa bersama kelompok berbeda, dianggap berpindah haluan.
Lucunya, tak seorang pun bertanya alasan sebenarnya.
Padahal ia hanya tidak ingin membatasi kebaikan pada lingkaran yang sama.
Suatu sore, ia duduk sendirian di bawah pohon yang mulai menggugurkan daun. Ia memperhatikan ranting-ranting yang menaungi siapa saja tanpa memilih.
Burung boleh datang dari arah mana pun. Angin boleh berembus dari mana saja. Pohon itu tetap berdiri, memberi teduh tanpa bertanya, "Kamu dari kelompok mana?"
Saat itulah ia tersenyum lagi.
Mungkin, menjadi seperti pohon memang tak mudah.
Akan selalu ada orang yang mengira pohon berpihak kepada burung yang sedang hinggap. Padahal, pohon hanya sedang menjalankan kodratnya: memberi tempat bagi siapa pun yang membutuhkan.
Sejak hari itu, ia berhenti sibuk menjelaskan dirinya.
Karena ia sadar, orang yang ingin memahami tak memerlukan penjelasan panjang. Sebaliknya, orang yang sudah memutuskan untuk salah paham akan tetap menemukan alasan untuk menyalahkan.
Ia tetap menyapa.
Tetap membantu.
Tetap menghargai siapa pun.
Bukan karena ingin diterima oleh semua orang, melainkan karena ia tak ingin kehilangan dirinya hanya demi memenuhi prasangka orang lain.
Dan akhirnya ia mengerti...
Yang disebut "tukang nemplok" sering kali hanyalah seseorang yang tidak membangun tembok di antara manusia.
Sebab persahabatan yang tulus tidak mengenal kubu. Ia hanya mengenal hati yang mau saling menghargai.
Karena pada akhirnya, masalah bukanlah dengan orang yang mampu berteman dengan siapa saja.
Melainkan dengan mereka yang mengira setiap kedekatan pasti memiliki kepentingan.

