

Di sebuah kedai kecil, seorang penulis duduk dengan secangkir kopi yang mulai kehilangan hangatnya.
Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Orang-orang datang silih berganti, membawa tawa, cerita, keluh kesah, bahkan rahasia yang tak pernah mereka titipkan kepada siapa pun.
Mereka mengira semua percakapan itu akan hilang bersama senja.
Padahal, bagi seorang penulis, tak ada cerita yang benar-benar pergi.
Semuanya menetap.
Di sela halaman buku.
Di balik tokoh-tokoh yang tampak fiktif.
Di antara dialog yang terasa begitu nyata.
Suatu hari seseorang bertanya, "Bagaimana kau bisa membuat tokohmu terasa hidup?"
Penulis itu tersenyum.
"Karena mereka pernah benar-benar hidup."
Bukan berarti ia menyalin wajah seseorang begitu saja.
Ia hanya memungut serpihan: cara seseorang tersenyum, kebiasaan mengetuk meja saat gugup, kalimat yang diulang ketika marah, atau tatapan yang menyimpan terlalu banyak luka.
Lalu semuanya dijahit menjadi sebuah cerita.
Tak ada yang benar-benar sama.
Namun mereka yang pernah hadir biasanya akan mengenali jejaknya.
Maka seorang sahabat tua pernah berpesan kepadanya,
"Berhati-hatilah bergaul dengan seorang penulis."
Bukan karena mereka pendendam.
Melainkan karena ingatan mereka sering kali lebih panjang daripada percakapan.
Mereka mungkin memaafkan.
Tetapi pengalaman tak pernah mereka buang.
Ia akan berubah menjadi paragraf.
Menjadi tokoh.
Menjadi pelajaran.
Menjadi kisah yang terus dibaca orang-orang, bahkan ketika para pelakunya telah lama melupakan peristiwanya.
Sang penulis menutup bukunya, lalu berkata pelan,
"Jangan khawatir. Aku tidak menulis untuk mempermalukan siapa pun. Aku menulis agar setiap pertemuan, setiap luka, setiap kebaikan, dan setiap pengkhianatan tidak sia-sia."
Lalu ia menatap langit yang mulai gelap.
"Tapi satu hal tetap benar..."
Berhati-hatilah bergaul dengan seorang penulis. Sebab setiap langkah yang kau tinggalkan bisa menjelma menjadi cerita, dan setiap nama yang pernah singgah dapat hidup lebih lama daripada usiamu. Abadi di antara kata-kata, bukan sebagai balas dendam, melainkan sebagai jejak yang tak sempat dilupakan.

