

Kenapa, sih, Mas...
Rasa ini
hanya bisa tertancap di hati saja?
Tak mampu keluar menjadi kata,
tak mampu jatuh menjadi air mata,
tak mampu sampai
kepada orang yang ingin mendengarnya.
Aku hanya memendam.
Padahal,
setelah kita berpisah,
aku sudah berusaha meyakinkan diri
bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun Tuhan ternyata
menulis akhir cerita
yang tak pernah kubayangkan.
Kini,
setiap kali ingin berkata,
"Mas... aku kangen."
Yang menjawab
hanyalah sunyi.
Kenapa, sih, Mas...
Aku masih ingin marah
karena kau pergi tanpa pamit.
Masih ingin bertanya
kenapa Tuhan begitu cepat memanggilmu.
Masih ingin bercerita
tentang hari-hari yang terus berjalan,
meski diam-diam
selalu ada namamu
di sela-sela doaku.
Tapi semua itu
hanya tertancap di hati.
Tak bisa kusampaikan.
Tak akan pernah sampai.
Yang tersisa hanyalah
percakapan-percakapan
yang kini hanya bisa kulanjutkan
dalam doa.
Mas...
Kalau memang di sana
kau bisa melihat bumi,
lihatlah seseorang
yang sedang belajar tersenyum,
padahal di dalam hatinya
ada rindu
yang tak pernah menemukan jalan pulang.
Dan Tuhan...
Kalau suatu hari
rasa ini masih tetap tinggal
di tempat yang sama,
biarlah.
Aku tidak meminta
agar Engkau menghapusnya.
Aku hanya berharap,
setiap kali rasa ini menusuk hatiku,
Engkau mengubahnya
menjadi doa.
Agar rinduku
tidak lagi menjadi luka,
melainkan menjadi kasih
yang mengantarkan namanya
kepada-Mu,
di setiap malam
yang masih membuatku berkata pelan...
"Mas... aku kangen."

