

Tuhan...
Kenapa Engkau memanggilnya
begitu cepat?
Bukankah masih banyak hari
yang belum sempat ia jalani?
Bukankah masih banyak senyum
yang belum sempat ia tinggalkan
untuk orang-orang yang menyayanginya
Aku tahu...
Aku bukan siapa-siapa.
Bahkan mungkin,
namaku tak lagi ada
dalam lembar hidupnya.
Kami sudah memilih
jalan yang berbeda.
Aku bukan lagi tempat
ia pulang.
Dan aku juga bukan
alasan ia bertahan.
Tapi Tuhan...
Mengapa hati ini
tetap terasa kehilangan?
Mengapa dadaku sesak
seolah-olah ada sesuatu
yang ikut dibawa pergi bersamanya?
Aku tidak berhak
meminta apa pun.
Aku hanya seseorang
yang pernah mengenalnya,
yang pernah menyimpan cerita,
lalu diam-diam
tetap mendoakannya.
Di lubuk hatiku
yang paling dalam,
aku percaya...
jalan yang Engkau pilih
adalah jalan yang paling indah untuknya.
Kini ia telah pulang.
Mungkin...
ia sedang tersenyum,
bertemu kembali
dengan ayahnya.
Tak ada lagi rasa sakit.
Tak ada lagi lelah.
Tak ada lagi air mata.
Dan untuk itu,
aku sungguh bersyukur.
Namun, Tuhan...
Kalau memang dia sudah bahagia
bersama ayahnya di sana,
kenapa justru
hatiku tak karuan di sini?
Mengapa setiap malam
namanya datang
bersama sunyi?
Mengapa setiap doa
selalu berakhir
dengan rindu
yang tak bisa kusampaikan?
Mungkin beginilah
cara manusia mencintai.
Tidak selalu dengan memiliki.
Tidak selalu dengan bersama.
Kadang...
hanya dengan kehilangan,
baru ia sadar
betapa berharganya
kehadiran seseorang.
Tuhan...
Kalau nanti
dia melihat ke bumi,
jangan biarkan dia melihat
air mataku.
Biarkan dia tahu saja
bahwa di sini
ada seseorang
yang tetap mendoakannya
dengan tulus.
Seseorang
yang bukan lagi siapa-siapa,
tetapi akan selalu bersyukur
karena pernah dipertemukan dengannya.
Selamat pulang, Mas.
Semoga damai yang abadi
menjadi pelukanmu.
Dan semoga Tuhan,
perlahan-lahan,
mengajarkan hatiku
untuk menerima bahwa...
tidak semua kehilangan
berasal dari orang
yang masih kita miliki.
Ada juga kehilangan
yang datang dari seseorang
yang sudah lama kita lepaskan,
tetapi tak pernah benar-benar
hilang dari doa.

