

Mas...
Ternyata kepergianmu
tidak hanya meninggalkan sepi
di satu hati.
Banyak orang kehilanganmu.
Ada yang kehilangan senyummu,
ada yang kehilangan tawamu,
ada yang kehilangan sosok
yang selalu membawa hangat
di tengah lelahnya hari.
Hari ini,
aku melihat begitu banyak doa
mengiringi langkahmu pulang.
Aku baru sadar...
Betapa berharganya dirimu
di mata banyak orang.
Mas...
Mungkin di bumi
banyak hati yang menangis
karena tak lagi bisa menjumpaimu.
Namun aku percaya,
di keabadian,
Tuhan sedang menyambutmu
dengan pelukan yang paling damai.
Dan mungkin...
ayahmu adalah orang pertama
yang memelukmu
setelah perjalanan panjang itu.
Sungguh...
rasanya sedih.
Tetapi di balik kesedihan ini,
ada ketenangan yang perlahan tumbuh.
Karena aku tahu,
meski banyak orang kehilanganmu,
lebih banyak lagi
orang yang mendoakanmu.
Doa-doa itu
terbang bersama angin malam,
naik bersama harapan,
lalu jatuh menjadi damai
di hadapan Tuhan.
Mas...
Namamu kini
tidak lagi dipanggil
untuk kembali.
Namamu dipanggil
di setiap doa.
Semoga Tuhan
memberikan tempat terbaik bagimu.
Semoga terang kasih-Nya
menyelimuti setiap langkahmu
di keabadian.
Dan semoga...
setiap orang yang kehilanganmu,
termasuk aku,
perlahan belajar menerima
bahwa cinta yang tulus
tidak selalu berakhir dengan pertemuan.
Kadang...
cinta yang tulus
berubah menjadi doa
yang tak pernah berhenti diucapkan.
Selamat beristirahat, Mas.
Banyak orang kehilanganmu.
Dan jauh lebih banyak lagi
yang akan terus
mendoakanmu...
hingga keabadian.

