

Mas...
apa benar di sana penuh dengan kebahagiaan?
Apa benar tak ada lagi air mata,
tak ada lagi lelah yang harus dipikul,
dan tak ada lagi perpisahan?
Kamu bahagia, kan, Mas?
Aku sering bertanya pada langit,
meski aku tahu tak akan ada jawaban
yang terdengar oleh telingaku.
Namun entah mengapa,
hatiku selalu berharap
bahwa di sana senyummu jauh lebih tulus
daripada saat terakhir aku mengenalmu.
Aku sudah belajar mengikhlaskanmu.
Bukan karena aku lupa,
melainkan karena aku percaya
ada tempat yang jauh lebih indah
yang kini menjadi rumahmu.
Tau nggak sih, Mas...
setiap kali lagu "Gala Bunga Matahari" mengalun,
dan "Sesi Potret" ikut menemani,
hatiku selalu berantakan.
Lirik demi lirik seperti mengetuk
ruang yang selama ini kusimpan rapat.
Seolah lagu-lagu itu tahu
bahwa ada seseorang yang masih sering kusebut
dalam diam dan doa.
Aku tidak lagi meminta
agar waktu memutar segalanya kembali.
Aku hanya berharap,
di setiap doa yang dipanjatkan banyak orang untukmu,
ada damai yang terus memelukmu.
Kalau memang benar
di sana hanya ada kebahagiaan,
maka tetaplah tersenyum, Mas.
Biarkan aku di sini
belajar merindukanmu dengan cara yang paling indah:
mengirim doa,
menyimpan kenangan,
dan percaya bahwa suatu hari nanti
rasa kehilangan ini akan berubah menjadi syukur
karena pernah dipertemukan denganmu.
Bahagialah di keabadianmu, Mas.
Aku baik-baik saja...
meski beberapa lagu masih tahu
cara membuat hatiku pulang kepadamu.

