

Kalau aku memanggilmu,
apakah kamu akan datang, Mas?
Kalau aku menyebut namamu pelan,
akankah kamu berdiri di sana,
tersenyum seperti biasanya?
Kalau aku kembali ke tempat-tempat
yang pernah menyimpan jejakmu,
apakah angin akan membawa hadirmu,
meski hanya sesaat dalam rinduku?
Kadang aku masih berharap,
semesta sedang bercanda.
Bahwa suatu pagi nanti
kamu akan muncul dan berkata,
"Aku di sini."
Tapi kenyataan selalu mengajariku
bahwa ada pertemuan
yang memang tidak lagi terjadi di dunia.
Kini aku tahu,
memanggilmu tak lagi membuatmu datang.
Menyebut namamu tak lagi membuatmu menjawab.
Sebab jarak di antara kita
bukan lagi sekadar langkah,
melainkan keabadian.
Meski begitu,
namamu tak pernah benar-benar hilang.
Ia hidup di setiap doa yang kupanjatkan,
di setiap kenangan yang kusimpan,
dan di setiap air mata yang diam-diam jatuh
saat tak seorang pun melihat.
Kalau suatu hari nanti
Tuhan mengizinkanmu mendengar rinduku,
sampaikan pada-Nya satu hal saja...
Bahwa di bumi ini
masih ada seseorang
yang sesekali memanggil namamu dalam diam,
bukan untuk memintamu kembali,
melainkan untuk memastikan
bahwa di tempatmu kini
kamu benar-benar telah bahagia.
Dan jika memang kamu tak bisa datang lagi, Mas...
izinkan doa-doaku yang menemuimu.
Karena hanya itulah satu-satunya cara
aku tetap bisa mengatakan,
"Aku masih mengingatmu."

