

Kenapa...
Kenapa setiap kali namamu terlintas,
hatiku masih memilih diam?
Kenapa...
Kenapa aku sudah mencoba mengikhlaskan,
tetapi rindu masih menemukan jalannya sendiri?
Dan kenapa...
Kenapa semakin aku berusaha terlihat baik-baik saja,
semakin hatiku terasa kehilangan arah?
Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
Bukan karena tak ada yang ingin kusampaikan,
melainkan karena semua kata
seolah berhenti di tenggorokan.
Yang tersisa hanyalah diam,
dan hati yang entah sedang berbicara kepada siapa.
Aku sendiri tidak mengerti
apa yang sedang terjadi di dalam dada ini.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Bahkan mungkin bukan sekadar sedih.
Hanya ada ruang kosong
yang tak mampu kujelaskan dengan bahasa apa pun.
Mungkin beginilah rasanya
ketika seseorang pergi,
tetapi kenangannya memilih tetap tinggal.
Dan aku...
Masih belajar menerima
bahwa ada kehilangan
yang tak pernah benar-benar selesai,
hanya perlahan berubah menjadi doa.

