

Aku bisa menenangkan orang lain.
Aku bisa menguatkan mereka
yang sedang jatuh.
Aku bisa meyakinkan mereka
bahwa badai pasti berlalu,
bahwa waktu akan menyembuhkan,
dan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan.
Aku bisa...
Tetapi, mengapa
aku tidak bisa memeluk sedihku sendiri?
Saat semua orang mulai baik-baik saja,
justru aku masih tertinggal
di ruang yang penuh dengan kenangan.
Tuhan...
Orang bilang putus cinta itu menyakitkan.
Aku percaya.
Namun ada luka
yang bahkan tak sempat memiliki nama.
Luka karena mencintai seseorang
yang belum pernah mendengar
bahwa aku menyayanginya.
Belum sempat kusampaikan rasa itu.
Belum sempat kuucapkan
betapa berharganya ia bagiku.
Belum sempat kuberanikan diri
untuk mengatakan semuanya.
Namun waktu lebih dahulu memanggilnya.
Dan kini...
Ia telah damai bersama-Mu.
Tuhan...
Bukan karena aku tidak ikhlas.
Aku hanya sering bertanya,
mengapa ada perasaan
yang harus tetap menjadi rahasia
hingga pemiliknya tak lagi ada di dunia?
Andai saja waktu memberi satu kesempatan lagi,
mungkin aku tidak akan meminta apa pun.
Aku hanya ingin berkata,
"Terima kasih telah hadir."
"Semoga kamu selalu bahagia."
"Dan... aku pernah menyayangimu."
Kini semua kata itu
tak lagi mencari telinga untuk mendengarnya.
Mereka hanya berubah menjadi doa
yang setiap malam kutitipkan kepada-Mu.
Tuhan...
Jika memang ia telah Kaupeluk
dalam damai-Mu yang abadi,
maka ajarkan aku
untuk memeluk kesedihanku sendiri.
Agar suatu hari nanti
saat aku kembali mengenangnya,
yang jatuh bukan lagi air mata,
melainkan rasa syukur...
Karena meski aku tak pernah sempat mengucapkan cinta,
aku masih sempat mencintainya.

