

Sore itu Maya sebenarnya hanya ingin pergi ke toko pernak-pernik seperti biasanya. Tidak ada sesuatu yang istimewa. Ia hanya membutuhkan alasan untuk keluar rumah, berjalan sebentar, melihat benda-benda kecil yang mungkin bisa mengalihkan pikirannya dari banyak hal yang akhir-akhir ini terlalu sering memenuhi kepala. Ia memesan Gojek, lalu menunggu tanpa pernah membayangkan siapa yang akan datang.
Sebuah motor berhenti di depan rumah. Maya keluar dan menerima helm yang diberikan pengemudinya. “Pakai, Dek,” katanya. Maya hampir saja langsung mengenakan helm itu jika suara berikutnya tidak membuatnya berhenti.
“Hallo, Adek.”
Maya mengangkat wajah.
Arka.
Untuk beberapa detik, Maya hanya memandangnya. Ada rasa terkejut, ada rasa tidak percaya, dan ada sesuatu yang buru-buru ia tekan dalam-dalam sebelum sempat tumbuh menjadi kegembiraan.
“Lha, kok kamu?” tanyanya akhirnya.
Arka tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. “Kenapa? Nggak boleh?”
Maya menggeleng. “Bukan begitu.”
Padahal sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan.
Yang ingin ia katakan adalah, kenapa harus kamu?
Kenapa dari begitu banyak orang yang mungkin datang menjemputnya, justru Arka? Kenapa setelah sekian lama mereka mencoba menjadi biasa saja, sore itu Tuhan mempertemukan mereka lagi dalam keadaan yang begitu sederhana? Mengapa harus di depan rumahnya, di saat ia tidak punya kesempatan untuk menyiapkan hati?
Maya mengenakan helm dan naik ke belakang. Arka menyalakan motor.
Dan perjalanan pun dimulai.
Awalnya tidak banyak percakapan. Maya hanya duduk diam, memandang jalan yang terus bergerak di hadapannya. Namun pikirannya justru tidak pernah benar-benar diam. Ia menyadari satu hal yang membuatnya sedikit takut: ternyata berada dekat dengan Arka masih terasa familiar.
Terlalu familiar.
Ia masih mengenali cara Arka mengendarai motor. Masih tahu kapan Arka sedang tersenyum meskipun tidak melihat wajahnya. Masih bisa menebak kapan laki-laki itu hendak berbicara dari gerakan kecil kepalanya. Bahkan diamnya pun masih terasa seperti diam yang pernah ia kenal.
Maya menelan ludah.
Harusnya aku sudah lupa.
Tetapi ternyata lupa dan tidak lagi memiliki rasa adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang bisa berhenti menunggu tanpa benar-benar berhenti mengingat.
Seseorang bisa memilih pergi tanpa benar-benar berhenti peduli.
Dan Maya takut, mungkin dirinya masih berada di antara keduanya.
Arka kemudian membuka percakapan tentang sekolah. “Kalau Sabtu-Minggu libur, ya?”
“Iya lah,” jawab Maya.
“Oh, kalau sekolah Muslim sampai Sabtu ya masih masuk.”
Percakapan kecil itu berkembang. Mereka berbicara tentang hal-hal sederhana. Sesekali Maya tertawa. Sesekali Arka membuat candaan. Semuanya terasa seperti dulu.
Dan justru itulah yang membuat Maya semakin tidak nyaman.
Karena ia mulai menikmati perjalanan itu.
Ia mulai menikmati suara Arka.
Mulai menikmati percakapan mereka.
Mulai lupa bahwa ia seharusnya menjaga jarak.
Maya kemudian bertanya kepada dirinya sendiri, kalau aku masih bisa merasa nyaman seperti ini, apakah benar aku sudah selesai?
Ia tidak menemukan jawaban.
Kemudian lagu itu terdengar.
Sebuah lagu rohani Kristen yang langsung dikenali Maya.
Jantungnya seperti berhenti sesaat.
Lagu yang dulu sering Arka putar ketika mereka bersama.
Kenangan datang bukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Tidak ada adegan dramatis. Hanya potongan-potongan kecil yang tiba-tiba muncul: perjalanan lama, percakapan mereka, tawa yang pernah terdengar begitu mudah, dan Arka yang dulu selalu mencari alasan untuk membuat Maya tetap berada di dekatnya sedikit lebih lama.
Arka bahkan ikut bernyanyi.
“Aku masih ingat lagu rohani dulu, lho,” katanya. “Aku sampai hafal.”
Maya tersenyum.
Senyum yang sebenarnya menyimpan terlalu banyak hal.
Ia ingin tertawa karena Arka masih saja seperti itu. Tetapi di balik senyumnya ada rasa sesak yang tidak ingin ia akui.
Kenapa kamu masih ingat?
Kenapa kamu masih menyimpan hal-hal kecil tentang kita?
Dan pertanyaan yang paling Maya takuti:
Kenapa aku juga masih mengingatnya?
Ia akhirnya berkata, “Ya sudah, ayo ke gereja aja.”
Arka tertawa. “Lha, apaan? Kamu yang selalu ada aja alasan buat ngindar kalau aku ajak ke gereja.”
Maya terdiam.
Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi Maya tahu ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya.
Arka mungkin tidak sadar bahwa setiap kali ia mengajak Maya mendekat kepada sesuatu yang menjadi bagian penting dalam hidupnya, Maya justru semakin sadar bahwa mereka berbeda. Bukan sekadar soal tempat ibadah. Bukan sekadar soal keyakinan. Tetapi tentang jalan hidup yang mungkin suatu hari akan membuat mereka harus memilih sesuatu yang tidak bisa disatukan.
Maya akhirnya berkata pelan, “Aku bukan menghindar.”
“Terus?”
Maya memandang jalan.
“Aku hanya tidak ingin mengambil kamu dari Tuhanmu.”
Arka diam.
Maya pun diam.
Namun di dalam hati, ia tahu kalimat itu sebenarnya juga berlaku untuk dirinya sendiri.
Ia tidak ingin mencintai seseorang dengan cara yang membuat dirinya kehilangan arah.
Ia tidak ingin suatu hari nanti Arka harus memilih antara perasaannya dan sesuatu yang selama ini ia yakini.
Dan yang lebih Maya takutkan adalah dirinya sendiri.
Ia takut kalau ia memberi Arka kesempatan, ia akan mulai berharap.
Kalau ia membiarkan Arka mendekat, ia akan mulai nyaman.
Kalau ia mulai nyaman, ia akan sulit pergi.
Dan kalau suatu hari hubungan itu ternyata tidak bisa berjalan, bukan hanya Arka yang terluka.
Maya juga.
Ketika Arka mengatakan kontraknya di Magelang akan selesai bulan September dan ia akan kembali ke Bekasi, Maya tiba-tiba merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar menjadi miliknya.
“Kok nggak diperpanjang lagi?” tanyanya.
“Nggak ah.”
“Kenapa?”
Arka kemudian menceritakan alasan mengapa dulu ia meminta kembali ke Magelang.
“Karena ada seseorang yang mau aku perjuangin.”
Maya diam.
Ia tidak perlu bertanya siapa.
Dari cara Arka mengatakannya, Maya sudah tahu.
Dirinya.
Dulu dirinya.
Seseorang yang pernah membuat Arka rela kembali ke tempat yang sama.
Seseorang yang pernah membuat Arka bertahan lebih lama.
Seseorang yang mungkin sekarang justru sedang duduk diam di belakang motornya, berpura-pura tidak terpengaruh.
Maya merasakan dadanya sesak.
Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin berkata, terima kasih sudah pernah memperjuangkanku.
Tetapi ada bagian lain yang justru merasa bersalah.
Karena Arka pernah berjuang untuk sesuatu yang Maya sendiri tidak mampu berikan.
“Sekarang mah kayaknya aku nggak bakal balik,” lanjut Arka. “Soalnya sudah nggak ada yang diperjuangin.”
Maya menunduk.
Kalimat itu terasa seperti pintu yang ditutup perlahan.
Ia seharusnya lega.
Bukankah selama ini ia memang ingin Arka berhenti berharap?
Bukankah selama ini ia ingin Arka menemukan seseorang yang bisa menerima perasaannya?
Tetapi ketika akhirnya Arka mengatakan bahwa perjuangannya sudah selesai, mengapa Maya justru merasa kehilangan?
Ia membenci perasaan itu.
Karena ia tahu ia tidak berhak merasa kehilangan.
Ia tidak memilih Arka.
Ia tidak memberi Arka kepastian.
Ia bahkan baru saja berniat menjaga jarak.
Lalu mengapa hatinya sakit ketika Arka memutuskan untuk pergi?
Maya mencoba bercanda.
“Ya sudah, cari cewek Bekasi aja.”
Arka tertawa.
“Ah, cewek Bekasi itu orangnya nggak apa adanya, tapi selalu ada apanya.”
Maya ikut tersenyum.
Kemudian Arka berkata bahwa Maya berbeda.
Apa adanya.
Tidak banyak tuntutan.
Tidak dibuat-buat.
Dan akhirnya kalimat itu keluar.
“Aku dah serius, lho. Tapi kamunya yang nggak mau diseriusin.”
Senyum Maya hilang.
Ia ingin menoleh kepada Arka dan berkata bahwa bukan karena Arka kurang baik.
Bukan karena Arka tidak pantas.
Bukan karena Maya tidak pernah menghargai perasaannya.
Justru karena Maya tahu Arka terlalu baik untuk dijadikan pilihan setengah hati.
Tetapi bagaimana ia menjelaskan itu tanpa membuat Arka semakin berharap?
Maya akhirnya memilih kejujuran yang paling menyakitkan.
“Karena untuk saat ini ada hati yang masih kujaga.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan itu bukan kamu.”
Begitu kalimat itu keluar, Maya merasa seperti baru saja melukai seseorang yang sebenarnya tidak ingin ia sakiti.
Ia ingin menarik kembali kata-katanya.
Ingin mengatakan bahwa sebenarnya bukan sesederhana itu.
Bahwa ada bagian dirinya yang masih peduli kepada Arka.
Bahwa ia senang bertemu dengannya.
Bahwa mendengar Arka menyanyikan lagu lama membuat hatinya hangat.
Bahwa ketika Arka mengatakan akan kembali ke Bekasi, ada sesuatu dalam dirinya yang diam-diam takut kehilangan.
Namun semua itu tidak mengubah kenyataan.
Maya masih menjaga hati seseorang yang lain.
Dan selama hati itu belum benar-benar ia lepaskan, Maya tidak ingin menjadikan Arka sebagai tempat pelarian.
Ia tidak mau menerima cinta hanya karena sedang membutuhkan seseorang.
Ia tidak mau mengatakan “iya” hanya karena Arka telah menunggunya begitu lama.
Karena Maya tahu, menerima seseorang dalam keadaan hati yang masih tertinggal pada orang lain adalah bentuk ketidakadilan.
Bukan hanya untuk Arka.
Tetapi juga untuk dirinya sendiri.
Arka kemudian bertanya, “Nah, kalau gitu sekarang Tuhan siapa yang salah?”
Maya hampir tersenyum.
Pertanyaan itu terdengar seperti candaan, tetapi Maya tahu Arka sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.
“Tuhan itu cuma satu,” jawabnya pelan. “Dan tidak akan pernah salah.”
Maya menatap jalan.
“Bukan siapa yang salah, Ka.”
Ia menarik napas.
“Bukan kamu. Bukan aku. Dan bukan Tuhan.”
“Terus?”
“Waktu.”
Arka diam.
“Kadang dua orang bisa sama-sama tulus, tapi tetap nggak bisa bersama. Bukan karena salah satu kurang baik. Bukan karena perasaannya kurang. Tapi karena waktunya memang belum tepat.”
Maya sendiri hampir tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
Sebab diam-diam ia bertanya kepada dirinya sendiri:
Kalau suatu hari waktunya tepat, apakah aku akan memilih Arka?
Pertanyaan itu membuatnya takut.
Karena untuk pertama kalinya, Maya sadar bahwa jawaban atas pertanyaan itu belum tentu “tidak”.
Mungkin itulah alasan ia harus menjaga jarak.
Bukan karena ia tidak punya rasa.
Tetapi justru karena ia tahu rasa itu masih mungkin tumbuh jika diberi ruang.
Motor terus melaju.
Maya memandang langit sore yang mulai berubah warna. Ada jingga yang perlahan tenggelam di antara gedung dan pepohonan. Indah, tetapi juga terasa seperti sesuatu yang sedang berakhir.
“Cinta itu kayak air, ya,” kata Maya tiba-tiba.
Arka sedikit menoleh.
“Kenapa?”
Maya tersenyum kecil.
“Dia tenang, tapi membingungkan.”
Ia tidak melanjutkan.
Karena sebenarnya ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Di luar, Maya terlihat tenang.
Tetapi di dalam, ada begitu banyak hal yang berputar.
Ia masih peduli kepada Arka.
Ia masih bisa merasa nyaman bersamanya.
Ia masih bisa tertawa ketika Arka bernyanyi.
Ia masih mengingat hal-hal kecil tentang laki-laki itu.
Namun ia juga tahu bahwa perasaan bukan satu-satunya hal yang menentukan sebuah pilihan.
Kadang hati ingin tinggal, tetapi prinsip meminta pergi.
Kadang seseorang datang dengan kesungguhan, tetapi kita belum mampu membalasnya.
Kadang kita harus mengatakan “tidak” kepada seseorang yang sebenarnya tidak ingin kita kehilangan.
Dan yang paling menyakitkan adalah ketika kita sadar bahwa menolak seseorang tidak selalu berarti kita tidak mencintainya.
Bisa jadi justru karena kita memiliki sedikit rasa, kita memilih untuk tidak membuatnya lebih besar.
Maya memejamkan mata sebentar.
Maaf, Ka.
Itulah kalimat yang tidak pernah ia ucapkan.
Maaf karena aku tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan.
Maaf karena pernah membuatmu berharap.
Maaf karena mungkin pernah membuatmu berpikir bahwa suatu hari aku akan memilihmu.
Dan yang paling ingin ia katakan:
Maaf karena sebagian dari diriku masih bahagia ketika kamu datang kembali.
Ketika mereka akhirnya sampai di depan toko, Arka menghentikan motor.
Maya turun perlahan.
Ia melepas helm dan menyerahkannya kepada Arka.
“Terima kasih.”
Arka menerima helm itu.
“Sama-sama. Tuhan Memberkati”
Maya berbalik hendak pergi.
Namun beberapa langkah kemudian, Arka memanggilnya.
“May.”
Maya berhenti.
Ia menoleh.
Arka tidak mengatakan sesuatu yang besar.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada permintaan agar Maya berubah pikiran.
Ia hanya berkata,
“Jangan lupa makan.”
Maya tersenyum.
“Iya.”
Kemudian Arka pergi.
Maya berdiri di sana, memandangi motor itu sampai semakin jauh.
Anehnya, kali ini ia tidak merasa lega.
Ia juga tidak merasa benar-benar sedih.
Yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih rumit.
Seperti kehilangan sesuatu yang sebenarnya belum pernah ia miliki.
Maya kemudian masuk ke dalam toko.
Ia berjalan di antara rak-rak pernak-pernik, melihat benda-benda kecil yang tadi ingin dibelinya. Namun pikirannya masih tertinggal di jalan.
Di atas motor.
Bersama Arka.
Bersama lagu lama.
Bersama kalimat-kalimat yang seharusnya tidak lagi berarti apa-apa, tetapi ternyata masih mampu membuat hatinya bergetar.
Maya mengambil sebuah benda kecil dari rak.
Menatapnya lama.
Kemudian tersenyum tipis.
Mungkin memang seperti itulah cinta.
Tidak selalu datang untuk dimiliki.
Kadang ia hanya datang untuk mengingatkan bahwa hati kita masih mampu merasa.
Dan mungkin Arka adalah salah satu perasaan yang harus Maya simpan sebagai sesuatu yang pernah ada, bukan sesuatu yang harus ia miliki.
Namun malam itu, ketika Maya pulang, ia masih memikirkan satu pertanyaan yang tidak berani ia jawab.
Kalau hati yang sedang kujaga itu suatu hari benar-benar pergi...
apakah Arka masih akan menungguku?
Dan pertanyaan berikutnya bahkan lebih menakutkan.
Atau justru saat itu aku yang sudah terlambat?
Maya tidak tahu.
Ia hanya tahu satu hal.
Untuk sekarang, ia harus tetap berjalan.
Bukan karena Arka tidak layak diperjuangkan.
Tetapi karena Maya tidak ingin memperjuangkan seseorang dengan hati yang masih terbagi.
Sebab bagi Maya, cinta seharusnya bukan tentang siapa yang paling lama menunggu.
Bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Bukan pula tentang siapa yang paling keras memperjuangkan.
Cinta adalah tentang keberanian untuk jujur kepada hati sendiri.
Dan terkadang, kejujuran paling menyakitkan adalah mengakui bahwa seseorang yang begitu baik tetap bukan seseorang yang bisa kita pilih.
Maya menatap langit malam dari balik jendela.
Lalu berbisik begitu pelan hingga bahkan dirinya sendiri hampir tidak mendengarnya,
“Semoga kalau suatu hari waktunya tepat... kita masih menjadi dua orang yang sama-sama ingin bertemu.”
Setelah itu Maya tersenyum kecil.
Bukan karena yakin akan ada hari itu.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa berharap tidak selalu berarti menunggu.
Kadang berharap hanya berarti mendoakan seseorang dari jauh, lalu tetap melanjutkan hidup.
Seperti air.
Tetap mengalir.
Tetap tenang.
Tetapi tidak pernah tahu ke mana akhirnya ia akan bermuara.

