oranment
play icon
Ketika Pergi Menjadi Cara Bertahan
Cerpen
Kutipan Cerpen Ketika Pergi Menjadi Cara Bertahan
Karya indradmwf
Baca selengkapnya di Penakota.id

Ada sebuah kesalahpahaman yang sering terjadi tentang seseorang yang memilih pergi.


Orang-orang biasanya hanya melihat langkah terakhirnya. Melihat ketika ia mengemasi barang, meninggalkan tempat yang pernah nyaman, lalu berjalan menuju tempat yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.


Lalu dengan mudah menyimpulkan,

“Dia pergi karena sudah tidak peduli.”

Padahal, tidak semua kepergian lahir dari kebencian. Ada yang pergi karena terlalu lama bertahan. Ada yang menjauh bukan karena perasaannya telah habis, tetapi karena dirinya sendiri sudah terlalu lelah untuk terus menjadi orang yang sama di dalam hubungan yang sama.


Begitu pula Maya.

Ketika ia pergi ke Semarang waktu itu, Arka hanya melihat satu hal:

Maya meninggalkannya.

Yang tidak Arka lihat adalah malam-malam sebelum keberangkatan itu.


Tentang Maya yang berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya masih bisa diperbaiki. Tentang pesan yang ditulis lalu dihapus. Tentang kalimat yang berkali-kali ingin disampaikan tetapi selalu berhenti karena takut percakapan kembali berubah menjadi pertengkaran.

Arka tidak tahu bahwa keputusan itu tidak lahir dalam satu malam.


Maya sudah lama berada di persimpangan.

Di satu sisi, ada hati yang masih ingin bertahan. Masih ingin percaya bahwa dua orang yang pernah saling menemukan seharusnya bisa menemukan jalan untuk memperbaiki semuanya. Tetapi di sisi lain, ada dirinya sendiri yang perlahan mulai bertanya:

Sampai kapan harus bertahan hanya karena takut kehilangan?


Pertanyaan itu terus tumbuh.

Pelan-pelan. Sampai akhirnya Maya sadar, yang ia takutkan bukan lagi kehilangan Arka. Yang ia takutkan adalah kehilangan dirinya sendiri.


Sebab semakin lama mereka berusaha mempertahankan sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja, semakin Maya merasa dirinya berubah. Ia menjadi terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak menebak. Terlalu sering menunggu. Terlalu sering bertanya apakah dirinya sudah cukup baik untuk dimengerti. Dan tanpa disadari, hubungan yang seharusnya menjadi tempat pulang justru membuatnya terus mencari tempat untuk bernapas.


Bukan berarti Arka selalu salah. Bukan berarti Maya selalu benar. Mereka hanya sama-sama sedang berada dalam keadaan yang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan luka tanpa melukai. Mereka masih memiliki rasa, tetapi tidak lagi tahu bagaimana cara menjaga rasa itu agar tidak berubah menjadi beban.

Pertengkaran demi pertengkaran akhirnya membuat Maya memahami satu hal:

Kadang dua orang tidak membutuhkan lebih banyak kata.


Mereka membutuhkan jarak.

Bukan untuk saling melupakan.

Bukan untuk mencari pengganti.

Bukan untuk menghukum siapa pun.

Tetapi untuk memastikan bahwa keputusan yang mereka ambil tidak lahir dari amarah, ego, atau rasa takut kehilangan.


Maka Maya memilih Semarang.

Ia pergi dengan membawa sebuah tas, beberapa pakaian, dan hati yang bahkan belum tahu apa yang sebenarnya ingin ia temukan. Mungkin ketenangan. Mungkin jawaban. Atau mungkin hanya dirinya sendiri yang selama ini perlahan hilang di tengah keributan hubungan mereka.


Dan selama berada di Semarang, Maya akhirnya mengerti bahwa ada perbedaan besar antara meninggalkan seseorang dan meninggalkan sesuatu yang sudah tidak baik untuk dirinya. Ia tidak sedang melarikan diri dari Arka.

Ia hanya sedang berusaha kembali kepada dirinya sendiri.


Namun bagi Arka, cerita itu ternyata tidak pernah sesederhana itu. Bertahun-tahun kemudian, satu hal masih ia simpan sebagai kesimpulan: Maya pergi ketika mereka sedang bertengkar. Maya pergi ketika hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Maya pergi tanpa memberinya kesempatan untuk memahami. Dan mungkin karena itulah, sampai hari ini Arka masih menganggap bahwa kepergian Maya adalah bentuk dari ketidakmauan untuk memaafkan.


Padahal ada satu hal yang belum pernah benar-benar Arka pahami:

Memaafkan dan kembali adalah dua hal yang berbeda.


Dan sore itu, di atas motor yang membawa mereka menuju sebuah toko kecil di sudut kota, untuk pertama kalinya percakapan tentang masa lalu itu kembali terbuka.

Motor masih melaju perlahan.

Maya masih tersenyum kecil di balik helmnya. Sementara Arka, seperti biasa, mulai membuka percakapan yang entah akan berakhir ke mana.

“Intinya kamu nggak mau maafin aku, ya?”

calendar
02 Sep 2026 11:48
view
2
idle liked
0 menyukai karya ini
Baca bab lainnya
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig