oranment
play icon
book
Karya ini ada di dalam 1 buku
Aku Sudah Memaafkanmu
Cerpen
Kutipan Cerpen Aku Sudah Memaafkanmu
Karya indradmwf
Baca selengkapnya di Penakota.id

Motor masih melaju ketika suasana di antara mereka kembali hening. Setelah pembicaraan tentang hati dan waktu yang tidak tepat itu, Arka seperti masih menyimpan sesuatu yang belum selesai.


Beberapa kali ia menarik napas, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi mengurungkan niat. Sampai akhirnya ia berkata, “Intinya kamu nggak mau maafin aku, ya?” Maya yang sejak tadi memandangi jalan langsung sedikit mengernyit. Ia tidak menyangka pembicaraan mereka akan berbelok ke sana. “Emang kamu tahu aku maafin kamu apa enggak?” tanyanya santai. “Dari mananya coba?” Arka tertawa kecil, tetapi terdengar seperti tawa yang menyimpan rasa kesal. “Lha, buktinya kamu ninggalin aku.” Maya diam sebentar. Arka melanjutkan, “Kamu pergi ke Semarang.


Padahal waktu itu kita memang lagi berantem, kan? Lagi nggak baik-baik aja. Tapi kamu pergi. Ninggalin aku.”

Maya hanya terkekeh. Entah karena bingung harus menjawab apa atau karena ia merasa semua yang dikatakan Arka terdengar seperti cerita yang sudah terlalu sering ia dengar. “Terus?” tanyanya pendek. Arka seperti semakin bersemangat menemukan pembenaran atas perasaannya sendiri. “Ya itu. Kamu pergi pas keadaan kita lagi nggak baik. Aku pikir kamu bakal balik, ternyata malah benar-benar pergi.” Maya tertawa kecil lagi.


Dalam hati ia hanya berpikir, ini orang kalau sudah mulai ngoceh memang ke mana-mana. Arka seperti sedang menyusun ulang kejadian masa lalu berdasarkan versinya sendiri, sementara Maya tahu bahwa cerita mereka tidak sesederhana itu. Ada terlalu banyak hal yang tidak pernah Arka lihat dari sisi Maya.


Ada alasan-alasan yang sengaja Maya simpan. Ada keputusan yang waktu itu tidak dibuat dengan mudah. Tetapi Maya tidak merasa perlu menjelaskan semuanya sore itu.

“Jadi menurutmu aku pergi karena nggak mau maafin kamu?” Maya bertanya. Arka menjawab cepat, “Ya... salah satunya.” Maya kembali terkekeh. “Kamu tuh kalau menyimpulkan sesuatu suka seenaknya.”


Arka tertawa kecil. “Lha terus kenapa?” Maya menggeleng. “Nggak semua hal harus kamu cari jawabannya dari apa yang kelihatan.” Arka terdiam. Maya kemudian menatap jalan di depan mereka dan berkata lebih pelan, “Kadang seseorang pergi bukan karena membenci. Bukan juga karena tidak bisa memaafkan. Kadang seseorang pergi karena dia tahu kalau tetap tinggal, dia akan semakin terluka.”


Arka tidak langsung menjawab. Kalimat Maya terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih dalam di baliknya. Ia tidak pernah benar-benar membenci Arka. Bahkan mungkin itulah masalahnya. Kalau ia membenci, mungkin semuanya akan jauh lebih mudah. Ia bisa menutup pintu, membuang semua kenangan, lalu mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa


Arka memang tidak layak dipertahankan. Tetapi Maya tidak pernah bisa melakukan itu. Karena di antara semua hal yang pernah membuatnya kecewa, tetap ada kenangan tentang Arka yang membuatnya tersenyum. Dan bagaimana mungkin seseorang benar-benar membenci orang yang pernah membuatnya merasa begitu berarti?


Maya menghela napas. “Lagipula, kamu terlalu percaya diri kalau menganggap aku pergi cuma karena kamu.” Arka terkekeh. “Nah, kan. Mulai menyangkal.” Maya ikut tertawa. “Bukan menyangkal. Meluruskan.” “Sama aja.” “Beda.” “Ya sudah, terserah kamu.” Maya menggeleng sambil tersenyum. Itulah Arka. Ketika sudah kehabisan argumen, ia akan memilih kalimat paling sederhana: terserah kamu.


Dan entah kenapa, kebiasaan kecil itu masih sama seperti dulu.

Untuk sesaat, Maya kembali merasa seperti sedang berbicara dengan Arka yang dulu. Arka yang suka berdebat untuk hal-hal kecil. Arka yang selalu ingin menang meskipun sebenarnya tidak punya alasan.


Arka yang bisa membuat Maya kesal dalam lima menit, tetapi lima menit berikutnya justru membuatnya tertawa lagi.

Namun di balik semua kehangatan itu, Maya sadar ada sesuatu yang berbeda sekarang.


Dulu, ketika Arka mengatakan hal-hal seperti itu, Maya masih punya keinginan untuk menjelaskan. Sekarang, ia hanya merasa lelah. Bukan lelah terhadap Arka.

Tetapi lelah terhadap segala sesuatu yang belum selesai. Karena mungkin Arka masih melihat kepergian Maya ke Semarang sebagai sebuah bentuk meninggalkan.


Sementara bagi Maya, perjalanan itu adalah satu-satunya cara yang ia punya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari keadaan yang waktu itu sudah terlalu penuh. Ada luka yang tidak terlihat ketika seseorang pergi. Ada pula luka yang justru mulai sembuh setelah seseorang berani mengambil jarak.


Maya tidak pernah berharap Arka memahami semuanya. Ia hanya berharap suatu hari Arka berhenti menyalahkan dirinya atas sesuatu yang bahkan Maya sendiri tidak lagi ingin perdebatkan. Arka kemudian berkata pelan, “Tapi kamu benar-benar ninggalin aku waktu itu.”


Maya tersenyum kecil.

“Iya.”

Jawaban itu membuat Arka terdiam.

“Iya, aku pergi,” lanjut Maya. “Tapi pergi bukan berarti aku nggak peduli.”

Arka tidak menjawab.

“Dan kamu harus tahu, Ka...” Maya berhenti sejenak. “Ada perbedaan antara meninggalkan seseorang dan memilih untuk menjauh dari sesuatu yang sudah tidak sehat buat hati kita.”


Motor masih melaju.

Arka menggenggam setang lebih erat.

Maya tidak tahu apakah Arka mengerti atau tidak. Ia juga tidak ingin memaksanya mengerti. Karena pada akhirnya, setiap orang akan mengingat sebuah kisah dari sudut pandangnya masing-masing. Bagi Arka, Maya adalah seseorang yang pergi.

Bagi Maya, dirinya adalah seseorang yang akhirnya berani menyelamatkan hati sendiri. Dan mungkin keduanya sama-sama benar.


Hanya saja, tidak semua kebenaran harus memiliki pemenang. Maya kembali terkekeh ketika Arka mulai mengoceh lagi tentang kejadian masa lalu. Ia membiarkan laki-laki itu berbicara sesukanya, sesekali menjawab, sesekali hanya tertawa. Dalam hati Maya, ia tahu satu hal: mungkin Arka memang belum sepenuhnya selesai dengan cerita mereka.


Namun Maya pun tidak sepenuhnya kosong. Hanya saja, ia sudah belajar satu hal yang tidak pernah ia pahami dulu.

Memaafkan seseorang tidak selalu berarti kembali kepadanya.

Kadang kita memaafkan agar hati kita sendiri bisa tenang. Agar kenangan tidak lagi menjadi alasan untuk membenci.

Agar nama seseorang yang pernah begitu dekat tidak lagi membuat dada terasa sesak. Dan mungkin, tanpa pernah Arka tahu, Maya sudah lama memaafkannya.


Hanya saja ia memilih tidak mengatakannya. Karena bagi Maya, ada beberapa hal yang lebih baik tetap menjadi rahasia hati. Termasuk satu kenyataan yang paling sulit ia akui:

Maya sudah memaafkan Arka jauh sebelum perjalanan sore itu dimulai.


Yang belum selesai bukan soal maaf.

Melainkan tentang bagaimana caranya meyakinkan hati bahwa memaafkan tidak harus berarti membuka kembali pintu yang pernah ia tutup.

calendar
02 Sep 2026 11:58
view
2
idle liked
0 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig