oranment
play icon
book
Karya ini ada di dalam 1 buku
Yang Pergi Bukan Karena Tak Cinta
Cerpen
Kutipan Cerpen Yang Pergi Bukan Karena Tak Cinta
Karya indradmwf
Baca selengkapnya di Penakota.id

“Emang kamu nggak mau maafin aku?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.

Arka mengucapkannya pelan, nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil dan hujan yang sejak tadi mengetuk kaca jendela.


Maya tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap lurus ke jalan di depan. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah jawaban.

“Maafin?” Maya akhirnya bersuara.

“Iya.”

Maya tersenyum kecil.

Bukan senyum bahagia.

Lebih seperti senyum seseorang yang sudah terlalu lelah menjelaskan luka yang sama berkali-kali.

“Aku sudah maafin kamu, Ka.”

Arka menoleh sebentar.

“Terus kenapa kamu masih pergi?”

Pertanyaan itu membuat Maya terdiam.

Di luar, lampu-lampu jalan berlari mundur di balik kaca. Satu per satu, seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.


“Karena memaafkan bukan berarti aku harus kembali.”

Arka menggenggam kemudi lebih erat.

“Tapi aku masih bisa memperbaiki semuanya.”

Maya menggeleng.

“Tidak semua yang rusak harus diperbaiki dengan cara kembali ke tempat semula.”

Hening.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.


Arka menarik napas panjang.

“Aku berubah, Maya.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Iya.”

“Terus kenapa?”

Maya menunduk.

“Karena perubahanmu datang setelah aku selesai berjuang.”

Arka terdiam.


Kalimat itu seperti mengetuk satu ruang dalam dirinya yang selama ini sengaja ia kunci.

Maya melanjutkan.

“Aku pernah menunggumu berubah, Ka.”

Suaranya mulai bergetar.

“Bukan sehari. Bukan seminggu. Aku menunggu sampai aku lupa rasanya menjadi seseorang yang tidak sedang menunggu.”


Arka menelan ludah.

“Aku pikir waktu itu kamu baik-baik saja.”

Maya tertawa lirih.

“Itu masalahnya.”

Ia menatap Arka untuk pertama kalinya.

“Aku terlalu pandai terlihat baik-baik saja.”


Dulu, Maya tidak pernah benar-benar ingin pergi.

Ia hanya ingin Arka menyadari bahwa ia sedang kehilangan seseorang.

Ia ingin Arka berhenti menganggap Maya akan selalu ada.


Setiap kali Arka pergi, Maya menunggu.

Setiap kali Arka menghilang, Maya mencari alasan untuk memaklumi.

Setiap kali hatinya terluka, Maya berkata kepada dirinya sendiri:


Mungkin dia sedang lelah.

Mungkin dia sedang punya masalah.

Mungkin besok akan berbeda.


Sampai suatu hari Maya sadar—

ternyata selama ini hanya dirinya yang terus mencari kata “mungkin”.

Sementara Arka tidak pernah benar-benar mencari kata “selamanya”.

Hari ketika Maya pergi pun sebenarnya tidak dramatis.


Tidak ada pintu yang dibanting.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada kata-kata kasar.

Maya hanya mengemasi beberapa barang, menatap kamar yang penuh dengan kenangan mereka, lalu berkata kepada dirinya sendiri:


Kalau aku tetap tinggal, mungkin yang akan hilang bukan hubungan ini.

Mungkin aku sendiri.

Maka ia pergi.

Bukan karena berhenti mencintai.

Melainkan karena akhirnya belajar bahwa mencintai seseorang tidak boleh membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.


“Kenapa kamu nggak pernah bilang semuanya?” tanya Arka.

“Karena aku pernah bilang.”

“Kapan?”

“Berkali-kali.”

Maya tersenyum pahit.

“Cuma kamu nggak mendengar.”

Arka tidak mampu menjawab.


Untuk pertama kalinya ia sadar, mungkin selama ini Maya bukan perempuan yang tiba-tiba berubah.

Maya hanya terlalu lama memendam perubahan itu sendirian.

“Aku salah,” kata Arka.

Maya memejamkan mata.

“Aku tahu.”

“Aku nyesel.”

“Aku tahu.”

“Aku masih sayang kamu.”

Kali ini Maya membuka mata.

Ada sesuatu yang bergetar di sana.

Sesuatu yang hampir menyerupai tangis.

“Aku juga.”

Arka menatapnya.


Maya segera mengalihkan pandangan.

“Aku juga masih sayang kamu, Ka.”

Pengakuan itu membuat perjalanan terasa semakin sunyi.

“Terus…”

Arka tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Maya menjawab sendiri.

“Tapi rasa sayang saja ternyata tidak cukup.”


Mobil akhirnya berhenti di depan rumah Maya.

Hujan sudah mereda.

Arka mematikan mesin.

Namun tidak satu pun dari mereka langsung turun.


Ada begitu banyak kata yang ingin disampaikan, tetapi tidak ada yang tahu bagaimana cara mengucapkannya tanpa membuat perpisahan ini terasa lebih menyakitkan.


“Aku bulan depan selesai kontrak di Magelang,” kata Arka akhirnya.

Maya mengangguk.

“Kamu pernah bilang.”

“Aku bakal balik ke Bekasi.”

“Iya.”

“Aku nggak tahu kapan kita bisa ketemu lagi.”


Maya tersenyum.

“Mungkin memang nggak perlu ketemu lagi.”

Arka menatapnya.

“Kamu benar-benar mau mengakhiri semuanya?”

Maya menarik napas panjang.

“Bukan mengakhiri, Ka.”

“Lalu?”

“Melepaskan.”

Satu kata.


Namun rasanya seperti sebuah pemakaman untuk sesuatu yang pernah mereka perjuangkan bersama.

Maya membuka pintu mobil.

Sebelum turun, ia berhenti.

“Arka.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk pernah menjadi rumah.”

Arka tersenyum tipis.

“Kalau aku pernah jadi rumah, kenapa kamu memilih pergi?”

Maya menatapnya cukup lama.

“Karena rumah yang membuat penghuninya terus merasa sendirian… pada akhirnya bukan lagi rumah.”


Lalu Maya turun.

Pintu mobil tertutup.

Arka masih diam di tempatnya.

Ia melihat Maya berjalan menjauh.

Tidak menoleh.

Tidak berhenti.

Dan untuk pertama kalinya Arka mengerti

ada seseorang yang bisa mencintaimu begitu dalam, tetapi tetap memilih pergi ketika cinta itu mulai menyakitinya.


Hari-hari setelah pertemuan itu berjalan seperti biasa.

Maya kembali menjalani kehidupannya.

Ia bekerja.

Tertawa bersama teman-temannya.

Menyelesaikan pekerjaan.

Menyapa orang-orang seolah tidak pernah ada sesuatu yang patah di dalam dirinya.

Namun sesekali, ketika malam terlalu sunyi, ia masih membuka percakapan lama.


Nama Arka masih ada di sana.

Pesan-pesan lama masih tersimpan.

Foto-foto mereka belum semuanya dihapus.

Maya tidak menghapusnya.

Bukan karena ingin kembali.

Melainkan karena ia sudah tidak ingin lagi melawan masa lalu.


Ada hal-hal yang cukup disimpan tanpa harus diulang.

Sementara di tempat lain, Arka mulai belajar hidup tanpa Maya.

Tidak mudah.


Beberapa kali tangannya hampir mengetik pesan.

Sudah makan?

Bagaimana harimu?

Aku kangen.

Namun semuanya berakhir sebagai tulisan yang tidak pernah dikirim.

Karena Arka akhirnya mengerti.

Mencintai Maya kali ini bukan tentang mengejarnya.

Melainkan menghormati keputusan yang pernah ia buat.


Sebulan kemudian, Arka benar-benar meninggalkan Magelang.

Sore itu, sebelum berangkat, ia melewati jalan yang dulu pernah mereka lalui bersama.

Jalan yang sama.

Lampu jalan yang sama.

Hujan yang hampir sama.

Tetapi tidak ada Maya di kursi sebelahnya.

Arka tersenyum kecil.


Dulu ia mengira kehilangan Maya adalah akhir dari segalanya.

Ternyata bukan.

Kehilangan itu justru menjadi awal dari seseorang yang belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

Ia berhenti di sebuah kedai kecil.

Memesan dua gelas kopi.

Kemudian tersenyum ketika sadar—

ia masih memesan satu untuk Maya.


Pelayan meletakkan dua gelas di meja.

Arka menatap gelas yang tidak akan pernah disentuh siapa pun.

Lalu perlahan ia menggesernya ke samping.

“Terima kasih, Maya,” bisiknya.

“Karena pernah tinggal.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan terima kasih karena akhirnya berani pergi.”


Beberapa tahun kemudian, mereka bertemu lagi.

Bukan dalam hujan.

Bukan di dalam mobil.

Bukan dalam keadaan hati yang sedang kacau.


Mereka bertemu di sebuah tempat sederhana, ketika hidup masing-masing sudah berjalan cukup jauh.

Maya datang bersama beberapa temannya.

Arka kebetulan berada di sana.


Mata mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, dunia seakan berhenti.

Lalu Maya tersenyum.

Arka membalasnya.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada pertanyaan tentang masa lalu.

Hanya dua orang yang pernah saling mencintai, kini berdiri sebagai dua manusia yang sudah berdamai dengan cerita mereka sendiri.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Arka.

Maya mengangguk.

“Baik.”

“Kamu bahagia?”

Maya tersenyum.

“Sekarang, iya.”

Arka mengangguk.

“Syukurlah.”

Maya menatapnya.

“Kamu juga?”

Arka tersenyum.

“Sedang belajar.”


Maya tertawa kecil.

“Berarti belum selesai?”

“Kayaknya manusia memang nggak pernah benar-benar selesai belajar.”

Mereka sama-sama tertawa.

Untuk pertama kalinya, kenangan tentang mereka tidak lagi terasa seperti luka.

Hanya seperti sebuah halaman lama yang pernah dibaca berkali-kali.


Arka kemudian berkata,

“Kalau waktu bisa diulang, aku mungkin akan melakukan banyak hal berbeda.”

Maya diam.

“Tapi kalau semuanya harus terjadi persis seperti dulu…”

Arka menatap Maya.

“Aku tetap akan memilih pernah mengenal kamu.”

Maya tersenyum.

“Aku juga.”


Lalu mereka berpisah.

Tidak ada yang mengejar.

Tidak ada yang meminta tinggal.

Karena akhirnya mereka tahu—

tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal bersama kita.

Ada yang datang untuk menjadi rumah.

Ada yang datang untuk mengajarkan kehilangan.


Dan ada yang datang untuk menunjukkan bahwa mencintai seseorang juga berarti belajar melepaskannya ketika kebersamaan justru membuat keduanya terluka.

Maya berjalan ke arah hidupnya.

Arka berjalan ke arah hidupnya.

Mereka tidak lagi menjadi “kita”.


Tetapi pernah ada masa ketika dua nama itu berdampingan dengan begitu indah:

Maya dan Arka.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Sebab beberapa kisah memang tidak ditulis untuk berakhir dengan “mereka hidup bahagia selamanya.”


Beberapa kisah hanya ingin mengatakan:

Mereka pernah saling mencintai.

Mereka pernah saling kehilangan.

Dan pada akhirnya, mereka belajar mencintai diri mereka sendiri.


Dan barangkali—

itulah bentuk akhir yang paling dewasa dari sebuah cinta:

bukan kembali,

melainkan mampu mengenang tanpa lagi ingin memiliki.

calendar
03 Sep 2026 08:27
view
1
idle liked
0 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig