

Senja selalu punya cara untuk membuat seseorang mengingat hal-hal yang berusaha dilupakannya.
Barangkali karena langit yang perlahan kehilangan warna menyerupai hati manusia yang diam-diam belajar melepaskan. Atau karena matahari, sebelum benar-benar tenggelam, selalu menyisakan cahaya—seolah ingin mengajarkan bahwa tidak semua perpisahan harus berakhir dengan kehilangan yang sepenuhnya gelap.
Sore itu, Aruna duduk di tepi sebuah danau dengan sebilah joran di tangan. Angin menyisir permukaan air, menciptakan riak-riak kecil yang bergerak menjauh, seperti pikiran-pikiran yang tak pernah benar-benar bisa ia tahan.
Sudah hampir dua jam ia memancing, tetapi belum seekor ikan pun menyentuh umpannya.
Anehnya, ia tidak merasa kecewa.
Barangkali, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak sedang menunggu sesuatu untuk dibawa pulang.
Ia hanya ingin duduk diam, membiarkan waktu berjalan tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun.
“Masih belum dapat ikan?”
Suara itu datang dari belakangnya.
Aruna menoleh. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan diterpa angin. Wajahnya terasa akrab, meskipun ada sesuatu yang asing dalam caranya tersenyum.
Laras.
Nama yang pernah begitu dekat dengan hidupnya. Nama yang pernah ia sebut dalam doa-doa sederhana, sebelum akhirnya hanya berani ia simpan dalam ingatan.
“Belum,” jawab Aruna singkat.
Laras duduk di sampingnya tanpa meminta izin. Matanya memandang danau yang membentang luas.
“Dari dulu kamu memang tidak sabaran.”
“Kalau tidak sabaran, mungkin dari tadi aku sudah pulang.”
Laras tertawa kecil.
“Lalu kenapa masih di sini?”
Aruna memandangi ujung jorannya.
“Karena ternyata, menunggu itu tidak selalu tentang mendapatkan sesuatu.”
Laras terdiam.
Ada kalimat-kalimat yang terdengar sederhana, tetapi terasa begitu dalam ketika diucapkan oleh seseorang yang pernah kita tinggalkan. Terlebih ketika kita tahu, sebagian dari kalimat itu mungkin tumbuh dari luka yang pernah kita sebabkan.
Mereka kembali diam.
Di hadapan mereka, air danau memantulkan warna jingga. Seekor burung melintas rendah, lalu menghilang di balik pepohonan. Di kejauhan, seorang anak kecil berlari mengejar ayahnya, tertawa tanpa beban.
Dunia tetap berjalan, bahkan ketika ada dua orang yang belum selesai dengan masa lalunya.
Dahulu, Aruna dan Laras sering menghabiskan sore bersama di tempat itu.
Mereka datang membawa dua gelas kopi, sebungkus makanan ringan, dan banyak percakapan yang kadang tidak memiliki ujung.
Laras biasanya membaca buku, sementara Aruna memancing. Sesekali, Laras akan mengeluh karena Aruna terlalu lama memperhatikan pelampungnya.
“Kamu lebih sayang ikan daripada aku, ya?”
Aruna hanya tertawa.
“Kalau ikan, setidaknya aku tahu kapan dia datang dan kapan dia pergi.”
“Kalau aku?”
Aruna akan menoleh, lalu menjawab dengan nada bercanda, “Kalau kamu, aku tidak tahu bagaimana cara menahanmu.”
Dulu mereka tertawa setelahnya.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari, kalimat itu akan menjadi kenyataan.
Laras pergi bukan karena tidak lagi mencintai. Ia pergi karena lelah menjadi satu-satunya orang yang berusaha menjaga sesuatu agar tetap utuh.
Aruna pun tidak pernah benar-benar memintanya tinggal. Ia terlalu sibuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Laras akan selalu kembali, sebagaimana senja yang setiap hari datang meski matahari berkali-kali tenggelam.
Sampai suatu hari, Laras benar-benar tidak kembali.
Dan Aruna baru mengerti, manusia bukanlah matahari. Tidak semua yang pergi memiliki alasan untuk terbit kembali di tempat yang sama.
“Kamu masih sering ke sini?” tanya Laras, memecah keheningan.
“Sesekali.”
“Sendirian?”
Aruna mengangguk.
Laras menatapnya sebentar. “Tidak bosan?”
“Dulu aku pikir memancing itu membosankan.”
“Lalu sekarang?”
“Sekarang aku mengerti, mungkin yang membuatnya menyenangkan bukan ikannya.”
Laras tersenyum tipis. “Lalu apa?”
Aruna menarik napas panjang.
“Karena di sini, aku tidak harus berpura-pura baik-baik saja.”
Senyum Laras perlahan menghilang.
Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Ada begitu banyak pertanyaan yang pernah ingin ia ajukan kepada Aruna. Tentang malam-malam ketika ia menangis sendirian. Tentang pesan-pesan yang tidak pernah mendapat balasan. Tentang bagaimana rasanya mencintai seseorang yang selalu ada, tetapi tidak pernah benar-benar hadir.
Namun, setelah sekian lama, pertanyaan-pertanyaan itu kehilangan kegunaannya.
Beberapa jawaban memang datang terlambat. Dan ketika akhirnya tiba, kita sudah tidak lagi menjadi orang yang sama dengan orang yang dahulu membutuhkannya.
“Aruna,” panggil Laras pelan.
“Ya?”
“Dulu, waktu aku pergi, apa kamu pernah benar-benar mencariku?”
Aruna tidak segera menjawab.
Ia memandangi air. Pelampungnya bergerak pelan, terbawa arus kecil yang tak terlihat.
“Pernah.”
“Lalu kenapa tidak datang?”
Aruna tersenyum hambar.
“Karena aku terlalu sibuk mencari alasan untuk membenarkan diriku sendiri.”
Laras menunduk.
“Aku menunggumu, waktu itu.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.” Suara Laras bergetar, tetapi ia tetap berusaha tersenyum. “Aku menunggumu sampai akhirnya aku sadar, mungkin aku sedang menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa aku sudah kelelahan.”
Aruna menggenggam joran lebih erat.
Untuk pertama kalinya sore itu, ia merasa bahwa ikan yang tak kunjung datang bukanlah satu-satunya hal yang luput dari genggamannya.
“Aku minta maaf,” katanya.
Laras menggeleng pelan.
“Jangan meminta maaf hanya karena sekarang kamu mengerti rasanya kehilangan.”
Aruna menoleh.
“Aku meminta maaf karena dulu aku membuatmu merasa sendirian, padahal kamu sedang bersamaku.”
Laras terdiam.
Kalimat itu jatuh di antara mereka, lebih berat daripada segala penjelasan yang pernah ia bayangkan.
Angin bertiup semakin dingin. Langit mulai berubah menjadi ungu, dan lampu-lampu di seberang danau menyala satu per satu.
Laras menyeka sudut matanya, lalu tertawa kecil.
“Lucu, ya. Dulu kita datang ke sini untuk membicarakan masa depan. Sekarang kita duduk di tempat yang sama, tetapi bahkan tidak tahu harus membicarakan apa.”
Aruna ikut tersenyum.
“Mungkin karena dulu kita terlalu sibuk merencanakan masa depan sampai lupa menjaga hari ini.”
Tiba-tiba, pelampung Aruna tenggelam.
Ia tersentak, lalu segera menarik jorannya.
“Sebentar!”
Laras tertawa melihatnya yang mendadak sibuk. Aruna menarik tali pancing perlahan, berusaha menjaga keseimbangan. Beberapa saat kemudian, seekor ikan kecil muncul dari permukaan air.
Aruna mengangkatnya dengan hati-hati.
“Lihat. Akhirnya dapat juga.”
Laras mendekat, memperhatikan ikan itu.
“Kecil sekali.”
“Yang penting ada hasilnya.”
“Setelah menunggu hampir tiga jam?”
Aruna tertawa. “Kamu masih suka meremehkan usaha orang.”
Mereka tertawa bersama.
Untuk beberapa detik, waktu seolah mengembalikan mereka pada masa ketika segala sesuatu terasa lebih sederhana. Ketika kebersamaan tidak perlu dipertanyakan, ketika diam tidak terasa canggung, dan ketika pulang berarti berjalan ke arah yang sama.
Namun, kenangan hanyalah tamu.
Ia boleh datang, duduk sebentar, membuat kita tersenyum, lalu pergi tanpa bisa diminta tinggal.
Aruna melepaskan ikan itu kembali ke air.
Laras memandangnya heran.
“Kenapa dilepaskan?”
Aruna membersihkan tangannya.
“Karena aku tidak harus memiliki sesuatu hanya karena pernah berhasil mendapatkannya.”
Laras menatap permukaan danau.
Entah mengapa, ia merasa kalimat itu tidak lagi berbicara tentang ikan.
Malam mulai turun ketika mereka memutuskan untuk pulang.
Di tempat parkir, Laras berdiri di samping mobilnya. Aruna masih memegang joran, sementara tas pancingnya tergantung di bahu.
“Senang bertemu denganmu lagi,” kata Laras.
Aruna mengangguk.
“Aku juga.”
Laras membuka pintu mobil, tetapi sebelum masuk, ia kembali menoleh.
“Aruna?”
“Ya?”
“Semoga suatu hari nanti kamu menemukan seseorang yang membuatmu tidak perlu belajar kehilangan untuk memahami arti kehadiran.”
Aruna tersenyum. Ada sesuatu yang hangat sekaligus menyakitkan dalam kalimat itu.
“Dan semoga kamu menemukan seseorang yang tidak membuatmu harus memohon untuk dipilih.”
Laras terdiam sesaat.
Lalu ia tersenyum.
Kali ini, senyumnya tidak menyimpan harapan untuk kembali.
Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan perlahan meninggalkan tempat itu.
Aruna berdiri sampai lampu belakang mobilnya menghilang di tikungan.
Ia tidak mengejar.
Bukan karena tidak ingin, melainkan karena akhirnya ia mengerti bahwa ada perpisahan yang harus dihormati, bahkan ketika hati belum sepenuhnya rela.
Malam itu, Aruna kembali duduk di tepi danau.
Ia meletakkan joran di sampingnya dan memandangi air yang gelap. Tidak ada lagi warna jingga, tidak ada lagi bayangan pepohonan yang jelas. Hanya pantulan cahaya bulan yang sesekali pecah ketika angin menyentuh permukaan air.
Ia teringat percakapannya dengan Laras.
Tentang penyesalan. Tentang kesempatan. Tentang seseorang yang pernah begitu dekat, tetapi akhirnya hanya bisa dijumpai sebagai bagian dari masa lalu.
Selama ini, ia mengira memancing adalah perkara melempar kail sejauh mungkin, lalu menunggu sesuatu datang menghampiri.
Kini ia tahu, memancing juga mengajarkan cara menerima.
Bahwa tidak semua yang kita tunggu akan datang.
Bahwa tidak semua yang datang harus kita miliki.
Dan bahwa terkadang, hal paling dewasa yang bisa dilakukan seseorang adalah menggulung tali pancingnya, membereskan barang-barangnya, lalu pulang—meskipun ada bagian dari dirinya yang masih ingin tinggal.
Aruna mengangkat tasnya.
Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah danau.
“Terima kasih,” bisiknya.
Entah kepada danau, kepada senja yang telah berlalu, atau kepada seseorang yang pernah mengajarinya bahwa cinta bukan sekadar tentang bertahan.
Terkadang, cinta juga berarti membiarkan seseorang menemukan kebahagiaannya, meski jalan pulangnya tidak lagi melewati kita.
Malam semakin larut.
Aruna berjalan meninggalkan tepi danau dengan langkah yang tenang.
Ia pulang tanpa membawa banyak ikan, tanpa membawa Laras kembali, dan tanpa jawaban untuk semua pertanyaan yang pernah memenuhi kepalanya.
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa pulang dengan tangan kosong.
Sebab sore itu, di antara kail yang tak selalu mendapatkan ikan dan senja yang tak pernah bisa ditahan, Aruna akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya:
Bahwa tidak semua penantian berakhir dengan memiliki. Sebagian hanya mengajarkan kita cara melepaskan, tanpa harus membenci apa yang pernah kita inginkan.

