

Surabaya Seharusnya Mulai Menanggalkan Title Kota Pahlawan
23 Maret 2025
Indonesia di 2025
Di sepanjang tahun 2025 pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan berbagai pernyataan kontroversial, antara lain saat pemerintah berencana akan menaikkan PPN menjadi 12%, atau ketika pemerintah secara ugal ugalan menerapkan efisiensi anggaran pada bidang yang tidak seharusnya, dan bahkan yang terbaru adalah pengesahan RUU TNI yang penyusunannya dikecam oleh masyarakat karena dianggap akan mengembalikan Dwifungsi ABRI dan menodai semangat reformasi.
Dari segala kontroversi itu, rakyat akhirnya muak, satu persatu bersatu, di setiap kota, di setiap bagian yang masih Indonesia, mereka mulai turun ke jalan dan mengecam dari sisi terkecil pemerintah, gedung DPRD sampai Gedung Pemerintah Provinsi turut menjadi sasaran karena bertanggung jawab atas kesewenang wenangan pemerintah pusat. Banyak masyarakat lain yang merasa bahwa hal tersebut seharusnya tidak diperlukan karena daerah bisa saja berbeda paham dengan presiden, tetapi justru itulah kesalahan mereka, kesalahan mereka: Diam.
Percikan Api
Api mulai tumbuh dan membakar amarah rakyat, sebut saja Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan bahkan Makassar sekalipun, kota kota itu menjelma menjadi kobaran saksi perlawanan. Tetapi perhatian saya tertuju pada Kota Surabaya, kota yang menjadi pusat dari Jawa Timur, kota yang menggambarkan heterogenitas dari seluruh Indonesia di Jawa Timur, kota yang menyandang nama Kota Pahlawan. Kota tersebut seperti senyap dan hilang dari ATLAS setiap kali ada percikan api yang menyenggol keadilan di Indonesia. Sebagai contoh nyata adalah hari ini, di saat Bandung benar benar menjadi lautan api tadi malam, di saat Jakarta benar benar dilecehkan, Surabaya tetap tenang dalam diam seakan tidak terjadi apa apa dalam hidupnya. Surabaya bukanlah sebuah kota kecil seperti Madiun, Nganjuk, atau sekitarnya, memaklumi minimnya demonstrasi di Surabaya adalah bentuk pelecehan terhadap semangat perjuangan Bung Tomo. Surabaya menjadi sebuah anomali dari besarnya kota kota di Jawa, semua ibu kota provinsi di Jawa menjadi pusat pusat pergerakan pemuda katakanlah Jakarta, Banten, Bandung, Yogyakarta, Semarang, tapi tidak dengan Surabaya.
Ada Apa dengan Surabaya?
2 Perguruan Tinggi Negeri besar di Surabaya bukanlah sebuah pembuktian bahwa Surabaya masih memiliki jiwa pahlawan dalam dirinya, semua keanehan ini adalah sebuah tanda tanya besar bagi semangat perjuangan di sana. Budaya arek-arekan dan misuh di sana seharusnya membuat para masyarakatnya menjadi keras pada kebijakan kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, tidak hanya keras terhadap orang yang menyenggol mercy atau bmw mereka saat pulang kerja. Surabaya dari segi antropologisnya merupakan jawa yang berbeda dibandingkan daerah Jawa Tengah-an atau Nganjuk, Madiun, Kediri dan sekitarnya yang cenderung dianggap memiliki sifat manutan dan nrimo ing pandhum, rakyat Surabaya cenderung keras dan bersifat melawan apabila bersinggungan dengan orang lain, bahasanya juga lebih kasar dibandingkan daerah lain. Tetapi mengapa, saat terjadi hal yang dianggap akan menghancurkan masa depan bangsa, Surabaya malah menjelma menjadi aleman. Di Surabaya sendiri padahal terdapat ratusan warung kopi dan kafeteria, hal itu seharusnya dapat digunakan sebagai wadah untuk para pemuda berkumpul dan menjadi titik titik awal mula pergerakan progressif, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, warung warung kopi malah dijadikan sebagai tempat untuk judi, slot, dan kegiatan hina lainnya, yang ekonominya lebih mulus akan nongkrong di kafeteria dengan mercedes benz barunya, sepatu jordan-nya, dan membuka Macbook Pro-nya untuk instagram mereka, cenderung individualis dan apatis terhadap apa yang terjadi di luar mata mereka.
Borjouis dan Apatis
Saya sempat membayangkan apabila para pemuda di zaman orde baru berada pada zaman ini apakah mereka akan terbawa arus atau dihina karena dianggap menjadi sok sokan nasionalis. Apakah karena Surabaya dihuni oleh masyarakat borjouis yang acuh terhadap sesama dan masyarakat proletar yang kurang dalam pendidikannya, sungguh kombinasi yang sangat tepat menurutku untuk awal kehancuran suatu kota.
Seringkali terlihat komentar komentar saat sekelompok mahasiwa turun aksi di Surabaya, “Garai macet ae kon cok!” sungguh kalimat yang sangat tidak etis diucapkan disaat engkau duduk di dalam mobilmu di atas jok beludru, melihat ibu pertiwimu diperkosa dengan bengong dan tidak melakukan apa apa. Hina.
Apa yang salah dari Surabaya sebenarnya, jika dari akar, akar yang mana?
Surabaya yang diam merupakan hal yang melenceng dari sesuatu yang diprediksikan, apa yang kurang dari Surabaya? Mahasiswa? Rakyat? Kultur yang keras? Bonek? Jancukan?
Hanya galak dan rasis ke suku Madura, tetapi menjilat pantat oligarki.
Apakah karena iklim Surabaya bukanlah kota pelajar tetapi kota industri?
Jika iya, mungkin harus diperlukan reformasi, dari bawah, dari akar, dari tanah.

