ku jejali diri yang riuh itu,
bersanding lugu, tak tampak isak tangisnya,
usil dan bertolak belakang penuh canda,
tengil tapi elok untuk kubisikkan benih riang.
semakin lampau waktu mendahuluiku,
kusadur perihal tentang temu,
ku usap dan ku raba-raba pada bab pertama,
prolog yang tak seharusnya merangsang kepalsuan kita berdua.
bukankah kita terlahir dari lebam pilu?
atau sebagian besar koyak tanpa rajutan serta belaian,
pada sisi yang usang kau lebih memilih rajutan yang baru,
tapi lukamu masih basah.
pernah jua menukil tanya dari geramnya tatap mata,
namun semuanya terlihat intim dan baik-baik saja,
jangan risau, itu perintah!
menangislah jika perlu tanpa aba-aba.
acakadut mengemban asa,
rugi tak berselara,
menyelamimu penuh biru membara,
porak poranda yang kau bentang lewat fatwa.